Serangga banyak dikonsumsi di beberapa negara dan diyakini memiliki kandungan gizi yang lebih tinggi dari daging sapi dan daging yang lazim kita konsumsi.


Serangga oleh masyarakat Indonesia tak dianggap sebagai makanan karena memang serangga bukanlah hewan yang lazim untuk dikonsumsi. Bagi masyarakat umum, serangga adalah hewan yang menjijikkan.

Namun, bagi masyarakat di Gunung Kidul, Yogyakarta, serangga adalah camilan lezat. Saat kita mengunjungi sentra pariwisata di Gunung Kidul, tak jarang kita akan disuguhkan pemandangan para penjual belalang goreng di sepanjang perjalanan.

Tak hanya yang sudah digoreng, belalang yang masih hidup pun diperdagangkan di daerah tersebut. Pada musim hujan, tak hanya belalang yang diperdagangkan, penduduk setempat juga menjual ulat jati, kumbang hutan, laron, hingga kepompong jati untuk dikonsumsi.

Wilayah lain di Indonesia yang juga mengkonsumsi hewan yang tak lazim adalah Papua. Beberapa suku di Papua mengkonsumsi larva kumbang atau disebut ulat sagu. Bagi mereka, ulat sagu yang dipanggang adalah salah satu makanan lezat dan diyakini berprotein tinggi.


Fenomena mengkonsumsi serangga juga terjadi di beberapa negara. Bagi penduduk Thailand, serangga adalah salah satu makan lezat yang cocok dikonsumsi dengan bir. Salah satu kudapan paling populer di negara itu adalah Jing Leed atau jangkrik yang dibumbui dengan saus golden mountain (mirip dengan kecap). Serangga lain yang juga sering dikonsumsi adalah belalang, kumbang, dan ulat pohon.

Rayap merupakan camilan lezat bagi warga Ghana. mengkonsumsi serangga adalah salah satu cara bagi penduduk setempat untuk bertahan hidup. Rayap biasanya digoreng atau dipanggang. Warga Brazil lain lagi. Di sana, terkenal camilan atau hidangan penutup berbahan semut. Mereka menyebutnya icas atau semut ratu yang menjadi makanan favorit.

Tradisi memakan serangga juga sudah dilakukan penduduk Meksiko sejak berabad-abad lalu. Ulat goreng dan belalang adalah dua camilan yang sering dikonsumsi oleh penduduk Meksiko. Jika diakumulasi, ada sekitar 2 miliar orang di dunia atau sekitar 30 persen dari populasi dunia gemar memakan serangga.

Mengapa mereka gemar makan serangga?

Profesor ilmu pangan dari Penn State University dan anggota Institute of Food Technologists (IFT), John Coupland, mengungkapkan beberapa alasan mengapa banyak yang mengkonsumsi serangga sebagai camilan atau hidangan penutup.


Pertama, serangga mengandung banyak protein. Jangkrik mengandung 65 persen protein, sedangkan daging sapi hanya 50 persen. Selain itu, di dalam protein serangga mengandung berbagai asam amino, vitamin, mineral, asam lemak tak jenuh, dan asam lemak tak jenuh ganda. Kandungan lemak dalam serangga juga rendah. Sebagian besar spesies serangga memiliki kurang dari 5 gram lemak per porsi.

Alasan lainnya: serangga dapat dikonsumsi dalam berbagai jenis masakan. Mulai dari digoreng, direbus, ditumis hingga dipanggang. Bahkan dapat juga digoreng tepung atau dicampur dalam roti hingga biskuit. Serangga juga mudah ditemukan dan berlimpah karena serangga yang terdiri dari 300 lebih spesies.

Alasan terakhir karena rasanya yang lezat. Mereka yang mengkonsumsi serangga menggambarkan rasa serangga yang pedas dengan rasa yang mirip dengan udang atau ayam.

Badan PBB yang membidangi pangan dan pertanian (FAO) mengungkapkan bahwa serangga ramah lingkungan dibandingkan hewan lainnya. Rata-rata, Serangga hanya menggunakan 2 kg pakan untuk menghasilkan 1 kg daging serangga. Bandingkan dengan sapi yang membutuhkan 8 kg pakan untuk menghasilkan 1 kg daging sapi.

Selain itu, serangga menghasilkan emisi yang lebih kecil seperti metana, amonia, dan gas rumah kaca yang mana emisi tersebut diketahui berkontribusi pada pemanasan global. Sehingga sebagian orang lebih memilih mengkonsumsi serangga.

Penelitian terkait serangga juga dilakukan oleh para peneliti di Indonesia. Pakar ilmu gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Ahmad Sulaiman mengungkapkan belalang adalah hewan yang memiliki beragam jenis kandungan nutrisi penting seperti, protein, vitamin, dan mineral. Belalang juga menjadi sumber pangan alternatif.

“Kalau pada belalang yang masih segar, kandungan proteinnya sekitar 20 persen, tetapi pada yang kering sekitar 40 persen. Belum kulitnya yang juga mengandung zat kitosan seperti udang. Tetapi tergantung jenis belalangnya, pada musim-musim tertentu ada jenis belang yang kandungan vitaminnya lebih tinggi. Belalang juga dapat memenuhi 25 hingga 30 persen kebutuhan vitamin A,” kata Ahmad.

Terkait ulat sagu yang dikonsumsi orang Papua, Sjahrul Bustaman dalam tulisannya berjudul "Potensi Ulat Sagu dan Prospek Pemanfaatannya" mengungkapkan ulat sagu mengandung protein 13,80 persen serta sejumlah asam amino.

Meski serangga memiliki nilai gizi yang tinggi, mereka yang alergi terhadap beberapa daging tentu harus berhati-hati. Menurut Ahli Gizi Rumah Sakit Universitas Airlangga Surabaya, Lathifah Nurlaela serangga memang baik untuk dikonsumsi selagi tak ada alergi.

“Tidak apa-apa selama tidak alergi soalnya kadang ada yang alergi. Serangga itu seperti seafood, tingkat alerginya tinggi dibandingkan makanan yang lainnya,” kata Lathifah kepada Tirto.

Oleh: Yantina Debora
sumber : https://tirto.id/mau-kudapan-bergizi-makan-serangga-saja-codF, akses tgl 02/07/2020.

Share To:

PERSAGI Bandung

Post A Comment:

0 comments so far,add yours