Ulat, sebagian dari Kawan GNFI pastinya geli melihat apalagi menyentuhnya. Namun, untuk sebagian dari kita mungkin saja menggemarinya. Ya, digemari untuk disantap tentunya.

Jelas bukan sembarang ulat yang bisa disantap, karena hanya ada beberapa jenis ulat yang menjadi hidangan favorit masyarakat. Salah satu ulat yang biasanya dimakan oleh beberapa orang Indonesia ialah ulat sagu.

Ulat sagu sebenarnya larva kumbang penggerek (Rhynchophorus ferrugineus) yang bersarang di pohon sagu (Metroxylon sagu). Selain di pohon sagu, kumbang penggerek juga menjadi hama bagi pohon kelapa sehingga dalam bahasa Inggris ulat sagu dikenal dengan sebutan coconut worm.

Cara mengetahui keberadaan ulat sagu terbilang mudah. Orang yang memanen ulat sagu mula-mula akan menempelkan telinga ke batang pohon sagu yang sudah tua dan mati. Cara itu berguna untuk memastikan keberadaan ulat sagu yang sedang menggeliat-geliat di dalam batang pohon.

Ketika dipanen, batang pohon sagu diketuk terlebih dahulu untuk meastikan adanya ruang tempat ulat sagu bersarang. Setelahnya, barulah batang pohon sagu dibongkar dengan benda tajam. Bagian dalam batang pohon sagu penuh dengan zat tepung yang menjadi makanan ulat-ulat. Ulat sagu berwarna putih, berukuran tiga hingga empat sentimeter

Tersebar dari Barat hingga Timur Indonesia

Dimanakah kita bisa menemui ulat sagu di Indonesia? Ya, tentu saja di pohon sagu jawabannya. Hanya saja tidak semua daerah di Indonesia ditumbuhi pohon sagu, benar begitu 'kan?

Di Indonesia, pohon sagu bisa ditemui di wilayah Sumatra Utara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, sampai yang terbanyak di Papua. Hutan sagu di Provinsi Papua memiliki luas sekitar 4.769.548 hektar (diperkirakan telah dimanfaatan hutan sagu secara tradisional sebesar 14.000 hektar) dengan potensi Sagu antara 0,33 – 5,67 batang/ha.

Sebaran ulat sagu di Indonesia. Sumber: "Sago Worms As A Nutritious Traditional and Alternative Food for Rural Children in Southeast Sulawesi, Indonesia"

Bagi mereka yang hidup di tempat yang ditumbuhi pohon sagu, menyantap ulat sagu dianggap sudah lumrah. Di Papua khususnya, ulat sagu kerap kali diolah dengan banyak metode, mulai dari dimasak dengan bumbu sampai dimakan mentah-mentah.

Salah satu kuliner olahan ulat sagu ialah sagu apatar yang bisa ditemui di Inanwatan, Sorong Selatan, Papua. Sagu apatar adalah aci sagu dan ulat sagu yang dibungkus dengan daun sagu. Setelahnya, bungkusan berisi aci sagu dan ulat sagu dibakar dengan arang selama 15 -25 menit hingga matang.

Olahan kuliner ulat sagu tidak sampai di situ, karena masih banyak lagi kreasi yang sudah dilakukan, contohnya seperti; roti dengan isi ulat sagu, sop ulat sagu, spageti dengan irisan ulat sagu, bakwan, nasi goreng ulat sagu, bakso ulat sagu, keripik ulat sagu, serundeng, dan abon.

Jadi Santapan Sejak Zaman Prasejarah

Temuan arkeologi berupa pecahan gerabah di sejumlah situs di Kawasan Danau Sentani, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, membuktikan bahwa manusia pada masa prasejarah sudah mengolah kuliner berbahan sagu, yaitu ulat sagu.

''Situs-situs hunian prasejarah di Kawasan Danau Sentani berada di sekitar hutan sagu. Manusia prasejarah pada waktu itu menjadikan sagu sebagai makanan pokok. Pohon sagu menghasilkan tepung sagu, jamur sagu, dan ulat sagu,'' ujar peneliti dari Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto, pada 2019, yang dikutip GNFI dari Tempo.

Mencicipi Ulat Sagu yang Tinggi Protein

Pernah mengunjungi negara-negara Asia Tenggara termasuk Indonesia, Youtuber pencicip ragam kuliner unik, Sonny Side, dalam sebuah kesempatan akhirnya memberanikan diri merasakan sensasi memakan ulat sagu hidup-hidup. Menurut Sonny, rasanya cukup nikmat meskipun pengalaman menyantap ulat sagu dianggap paling aneh baginya. ''Mungkin coconut worm adalah yang paling membuat saya gugup karena penampilannya saja sudah terlihat menakutkan,'' ucap Sonny dilansir dari Cmego.

Mungkin bagi Sonny dan banyak orang ulat sagu terlihat menakutkan apalagi bila dilahap hidup-hidup. Namun, di balik sisi "seramnya", ulat sagu menyimpan fakta menarik yakni tingginya nutrisi yang di kandungnya.

Menurut Hari Suroto, ulat sagu memiliki kandungan protein, bebas kolesterol, tetapi sebagian besarnya mengandung lemak. ''Ulat sagu menjadi menu tambahan bagi masyarakat pesisir Papua, karena tidak setiap saat akan dijumpai ulat ini. Untuk seratus gram ulat sagu, mengandung 181 kalori dengan 6,1 gram protein dan 13,1 gram lemak,'' jelas Hari.

Adanya kadar protein pada ulat sagu bahkan masih terjaga ketika dijadikan tepung ulat sagu. Dalam jurnal karya Ariani dkk mengenai manfaat tepung ulat sagu yang tercantum pada Jurnal Gizi Indonesia menyebutkan kandungan zat gizi tepung ulat sagu sebanyak 100 gram ialah 33,68 persen.

Selain menjadi asupan gizi, ulat sagu juga dipercaya dapat mengobati malaria dan menurunkan berat badan orang yang mengonsumsinya. Tepung sagu yang sudah disebutkan sebelumnya juga bermanfaat bagi tubuh karena mengandung zat antioksidan yang mampu menghambat stres oksidatif akibat infeksi. Di dalam tubuh, zat antioksidan ini dapat mengurangi munculnya kerusakan jaringan normal akibat paparan radikal bebas.

Disantap Juga di Negara Tetangga

Pohon sagu tidak hanya ada di Indonesia, tetapi juga tersebar di sejumlah negara Asia Tenggara dan negara mikronesia yang terletak di lautan Samudera Pasifik. Jika dilihat dari situ ulat sagu pun kerap kali ditemui sebagai salah satu bahan masakan masyarakat setempat.

Di Thailand misalnya, jajanan ekstrim bisa ditemui di Khao Shan Road yang setiap harinya buka pukul enam sore. Selain ulat sagu, tersedia juga kalajengking, jangkrik, dan belalang.

Ulat sagu kemasan. Sumber: Thailandunique.com
Namun jika malas pergi atau tidak punya modal pergi ke sana ulat sagu juga bisa dipesan dari rumah. Sebuah situs bernama Thailandunique.com menyediakan ulat sagu dalam bentuk kemasan 15 gram yang dibanderol 5,5 dolar atau setara Rp 77 ribu.

Dari Thailand mari beralih ke tetangga serumpun, Malaysia. Sebuah restoran bernama D'Place Kinabalu menjadikan ulat sagu sebagai topping dari makanan Jepang, sushi.

Di Malaysia ulat sagu disebut dengan nama butod. Butod sendiri adalah makanan tradisional di komunitas setempat. Biasanya, makanan ini disajikan di acara seperti pernikahan dan dinikmati karena punya cita rasa mirip susu yang pekat saat digigit.

Pemilik D'Place Kinabalu sendiri menyebutkan jika mereka biasanya memesan 500 ulat per minggu karena ulat-ulat ini punya jangka waktu hidup yang terbatas.

Sedikit berbeda dengan sushi biasa, ulat sagu ini akan disajikan bersama kepalan nasi ketan.

Terdapat tiga level sushi ulat yang disajikan. Menurut sang pemilik, hanya orang-orang berani saja yang akan mencoba sushi level paling ekstrem. Meski awalnya membuat jijik, hidangan ini nyatanya tetap membuat orang penasaran, terutama turis asli Korea dan Cina.

Jadi gimana Kawan GNFI, mulai tertarik icip-icip si kecil menggeliat ulat sagu?

Referensi: Sehatq.com | Guideku.co | Cmego.com | Tempo.co | Detik.com | Thailandunique.com | Intan R Nirmala dkk, "Sago Worms As A Nutritious Traditional and Alternative Food for Rural Children in Southeast Sulawesi, Indonesia" | Jerry Hopkins, "Strange Foods" | Jerry Hopkins, "Extreme Cuisine: The Weird and Wonderful Foods That People Eat" | Hiroshi Ehara, Yukio Toyoda, Dennis V. Johnson, dkk, "Sago Palm: Multiple Contributions to Food Security and Sustainable Livelihoods" | Ahmad Arif, "Sagu Papua untuk Dunia"

Dimas Wahyu Indrajaya
sumber : https://www.goodnewsfromindonesia.id/2020/06/05/mencicipi-ulat-sagu-kuliner-sensasional-yang-tinggi-protein, akses tgl 02/07/2020.

Share To:

PERSAGI Bandung

Post A Comment:

0 comments so far,add yours