Dalam hasil riset yang dilakukan pada 7.000 anak, peneliti menemukan bahwa anak-anak yang saat masih dalam kandungan dan ibunya minum minuman keras paling tidak sekali saat masa kehamilan, tetapi tidak minum sehari-hari, memiliki kemungkinan untuk menjadi hiperaktif. Anak-anak ini juga mengasilkan nilai yang lebih rendah dalam ujian.


Hasil riset menunjukan bahwa anak-anak ini berpotensi untuk kurang perhatian dalam kehidupan sehari-hari. Namun hasil riset ini tidaklah terlalu jelas mengenai siapa yang bisa menerima efek yang dihasilkan alkohol, apakah anak perempuan saja atau anak laki-laki juga bisa terpengaruh. Penilaian yang dilakukan oleh orangtua dan para guru juga berbeda.

Wanita yang sedang hamil disarankan untuk menghindari minuman keras atau mabuk saat hamil. Wanita hamil terutama harus menghindari alkohol dalam tiga bulan pertama saat masa kehamilan. Jika wanita memilih untuk minum alkohol, para ahli menyarankan untuk paling banyak dua kali seminggu.

Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian kohort. Analisis ini menunjukan efek dari konsumsi rutin minuman keras pada kehamilan yang berakibat pada kesehatan mental dan prestasi sekolah ketika anak-anak berusia 11 tahun. Para peneliti dari ALSPAC meriset 85% dari wanita hamil di wilayah Avon yang melahirkan pada antara tahun 1991 dan 1992. Para peneliti telah menilai wanita dan anak-anak mereka secara teratur.

Para peneliti melaporkan bahwa pada analisis sebelumnya, penelitian mereka menunjukkan bahwa ada hubungan antara minuman keras yang dikonsumsi dalam jumlah banyak selama kehamilan dan berefek pada anak memiliki kesehatan mental yang lebih buruk pada usia empat dan tujuh tahun, menurut penilaian yang dilakukan oleh orang tua mereka, khususnya anak perempuan.

Apa saja yang terlibat dalam penelitian ini?

Para peneliti menilai konsumsi alkohol wanita hamil dengan membagikan mereka kuesioner pada usia kehamilan 18 dan 32 minggu, dan menganalisis kinerja akademis anak-anak mereka pada usia 11 melalui penilaian kuesioner  yang dilakukan para orangtua dan guru,. Mereka kemudian menganalisis apakah anak-anak dari ibu yang mengonsumsi banyak minuman keras selama masa kehamilan menunjukkan hasil berbeda dibandingkan anak-anak dari ibu yang tidak minum minuman keras.

Lebih dari 14.000 wanita hamil yang ikut dalam riset ini, 7.965 di antaranya menunjukkan konsumsi alkohol pada usia kandungan 18 hingga 32 minggu. Pertanyaan yang diajukan adalah sebagai berikut:

Berapa kali dalam sebulan mereka minum alkohol lebih dari  4 unit
  • Berapa kali mereka minum alkohol pada dua minggu pertama saat si bayi mulai bergerak dalam perut (ditanya saat usia kehamilan 18 minggu saja)
  • Berapa jumlah alkohol yang dikonsumsi dalam sehari (ditanya saat usia kandungan 32 minggu saja)
Hasil dari kuesioner kemudian digunakan oleh peneliti untuk menentukan bahwa wanita yang diteliti tersebut:
  • Minum alkohol berlebihn paling tidak sekali selama masa kehamilan (berlebihan = 4 gelas atau lebih dalam sehari)
  • Minum alkohol paling tidak sekali per hari saat usia kehamilan 18 atau 32 minggu
Kesehatan mental anak-anak dinilai menggunakan kuesioner standar umum yang diberikan kepada guru dan orangtua. Kuesioner ini disebut “Kuesioner Tentang Kekuatan dan Kesulitan” menunjukan indikasi tingkat masalah di empat bidang:
  • Emosional
  • Tingkah laku
  • Hiperaktif/kurang memperhatikan
  • Hubungan dengan teman sebaya
Berdasarkan kuesioner tersebut para peneliti berfokus pada poin perilaku dan hiperaktif / kurangnya perhatian. Para peneliti juga memperoleh hasil ujian sekolah yang dilakukan pada tahun terakhir di sekolah dasar. Para peneliti mendapat informasi tentang 4.000 anak-anak yang hiperaktif dan punya masalah perilaku, dan hanya ada sekitar di bawah 7.000 anak-anak yang punya masalah di hasil akademik mereka.

Ketika para peneliti melakukan analisis untuk melihat efek dari minuman keras, mereka memperhitungkan berbagai faktor yang berpotensi mempengaruhi hasil (potensi pembaur). Yang termasuk adalah:
  • Usia kehamilan Ibu
  • Pendidikan tertinggi orang tua dari anak-anak tersebut
  • Merokok saat kehamilan
  • Menggunakan narkotika saat kehamilan
  • Kesehatan mental saat kehamilan
  • Apakah orangtua si anak tinggal di rumah sendiri
  • Apakah orangtua si anak menikah
  • Apakah si anak lahir prematur
  • Berat badan anak
  • Jenis kelamin anak
Apa hasilnya?

Para peneliti menemukan bahwa sekitar seperempat dari wanita yang diteliti (24%) melaporkan bahwa mereka  minum berlebihan setidaknya sekali dalam masa kehamilan. Lebih dari setengah (59%) dari wanita yang melaporkan pernah minum berlebihan di usia kehamilan 18 dan 32 minggu.

Kurang dari setengah dari wanita (sekitar 44%) yang pernah minum berlebihan saat hamil melaporkan bahwa mereka melakukannya pada lebih dari dua kesempatan pada beberapa bulan terakhir. Wanita-wanita ini lebih cenderung memiliki lebih banyak anak-anak, merokok atau menggunakan obat-obatan terlarang saat kehamilan, cenderung mengalami depresi pada kehamilan mereka, memiliki tingkat pendidikan yang lebih rendah, tidak menikah, dan tinggal di rumah yang bukan milik sendiri atau sewaan.

Analisis awal menunjukkan bahwa anak-anak dari ibu yang minum berlebihan setidaknya sekali dalam kehamilan lebih sering memiliki masalah dengan  dan guru mereka, selain itu kinerja sekolah mereka lebih buruk daripada anak-anak dari ibu yang tidak minum berlebihan.

Para peneliti mengulangi analisis mereka untuk anak perempuan dan anak laki-laki secara terpisah. Mereka menemukan bahwa bahkan setelah melakukan penyesuaian, anak perempuan yang ibunya minum berlebihan saat hamil memang cenderung kurang perhatian, cenderungg hiperaktif, dan hiperaktif.

Kesimpulan

Penelitian kohort prospektif ini telah menunjukkan bahwa bahkan bila hanya sesekali minum alkohol berlebihan saat kehamilan, ini  dapat meningkatkan risiko masalah hiperaktif/kurangnya perhatian dan prestasi akademik yang lebih rendah ketika anak-anak mencapai usia 11 tahun.

Menilai dampak minum alkohol saat kehamilan pada anak-anak ternyata sulit. Hal ini sebagian disebabkan karena menilai konsumsi alkohol sulit. Orang mungkin tidak ingin melaporkan berapa konsumsi alkohol mereka, dan bahkan jika mereka melaporkannya, ada kesulitan dalam mengingat jumlah konsumsi alkohol mereka di masa lalu. Selain itu, hubungan ini hanya dapat dinilai oleh studi observasional (Anda tidak bisa melakukan percobaan dengan memberi alkohol pada wanita hamil), dan selalu mungkin bahwa ada faktor-faktor tambahan yang berpengaruh.

Kita mungkin tidak memiliki bukti yang benar-benar konkrit mengenai pada tingkat apa bahaya terjadi, dan pada tingkat apa konsumsi alkohol pada kehamilan dirasa aman. Disarankan untuk wanita hamil agar menghindari konsumsi minuman keras pada trimester pertama.

Jika wanita hamill ingin tetap minum alkohol jika usia kandungan lebih dari trimester pertama, usahakan hanya minum 2 unit dan tidak lebih dari 2 kali seminggu.

Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
sumber : https://hellosehat.com/kehamilan/perkembangan-janin/apa-pengaruh-pada-bayi-jika-ibu-minum-alkohol-semasa-hamil/, akses tgl 20/07/2020.

Share To:

PERSAGI Bandung

Post A Comment:

0 comments so far,add yours