بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Ibu/Bapak yg dirahmati Allah,

(Menyambung pesan Ramadhan hari ke-3)

Jika di pekarangan rumah tetangga ada pohon mangga berbuah sangat lebat. Kemudian karena tetangga dinas luar kota atau tinggal sementara di luar pulau, banyak buah yang akhirnya jatuh karena terlalu masak. Pertanyaan pentingnya adalah: "Boleh apa tidak kalau kita petik?"

Ibu/Bapak...

Jawabannya singkat, padat, dan jelas: “BOLEEEEH…! Tapi harus terlebih dahulu meminta ijin pemiliknya.” Lha, khan pemiliknya tinggal di luar kota. Terus bagaimana?

Ya tidak bagaimana-bagaimana! Kita tetap harus minta ijin ke pemiliknya. Pemiliknya khan bisa kita telpon, bisa kita sms, atau kita kirimi WA sekedar untuk meminta ijin dan ridlonya. Tapi bagaimana kalau kita tidak punya nomer HP-nya dan hanya punya alamat rumahnya? Ya tidak apa-apa! Kita bisa kirimi surat ijin via pos dengan peranko balasan.

Ibu/Bapak, kata kuncinya adalah...

Jika sang pemilik mengijinkan, maka halal buah mangga itu untuk kita. Namun jika tidak ada ijin, maka haram buah mangga itu kita petik…! Walah-walah, koq repot banget, tho!?

Yaaa...kalau tidak pingin repot, monggo kita bisa keluar rumah sebentar, lalu beli buah di kios buah. Satu saja…sekedar untuk obat kepingin. Lah, tapi khan itu mubazir...!

Ibu/Bapak yg disayangi Allah,..

Mohon maaf… yang namanya mubazir itu kalau pohon mangga itu milik kita. Jika bukan milik kita, maka tidak ada kata mubazir! Contoh misalnya, di halaman parkir sebuah mall, banyak motor dan mobil nganggur diparkir disitu. Boleh apa tidak kalau kita ambil dan kita bawa pulang? Tidak boleh, khan? Kenapa? Karena itu bukan milik kita…

Ibu/Bapak yg dimuliakan Allah Swt.

Barangkali karena masyarakat kita terbiasa melakukan hal-hal semacam itu, lalu menganggap remeh dan menyepelekan perbuatan dosa. Mungkin juga karena sudah terlalu sering dan terbiasa, bahkan _na'udzu billaahi min dzaalik_ sudah menjadi tradisi…

Allah Ta’ala pernah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ ۚ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.”(QS. An-Nisa’ 4: 29).

Rasulullah SAW. bersabda:

لاَ يَحِلُّ مَالُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ إِلاَّ بِطِيْبِ نَفْسٍ مِنْهُ

Tidak halal mengambil harta seorang muslim kecuali dengan kerelaan dirinya.” (HR. Abu Dawud dan Daruquthni, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 7662).

Maka di moment Puasa Ramadhan yg mulia ini kita sekuat-kuatnya belajar mengendalikan diri. Semoga Allah Swt. berkenan membimbing kita agar bisa menjadi semakin baik setelah hari ini.

Allaahu a'lam bish-showwab.

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Senin, 27 April 2020

Nanung Danar Dono, Ph.D.
Pengurus Bidang Dakwah MIUMI DIY
sumber : http://www.halalunmabanten.id/halal/index.php/component/k2/item/325-pesan-ramadhan-hari-ke-4, akses tgl 05/07/2020.

Share To:

PERSAGI Bandung

Post A Comment:

0 comments so far,add yours