Dianggap "kopi gagal", biji kopi ini justru berharga mahal dan memiliki rasa lebih nendang.


NGOPI di kafe itu biasa. Tapi menikmati secangkir kopi di tengah perkebunan yang sejuk berbalut pemandangan indah tentu jauh lebih nikmat. Apalagi jika di tempat itu tersedia kopi lanang yang memiliki rasa lebih lembut, tekstur padat, dan aroma harum.

Jika Anda ingin mencobanya, datanglah ke Banyuwangi, Jawa Timur. Di sana ada Wisata Kuliner Kopi Lanang, destinasi yang menggabungkan konsep wisata alam sekaligus edukasi, yang berada di tengah perkebunan Malangsari. Anda bisa menikmati kopi premium kualitas ekspor. Selain itu sajian kuliner yang diolah dengan aroma kopi lanang. Dari wedang ronde hingga es degan. Dari watu lempit hingga getuk gulung rasa.

Gagasan Wisata Kuliner Kopi Lanang yang berlokasi di Dusun Ledoksari, Desa Kebunrejo, Kecamatan Kalibaru ini muncul setelah acara ekspor perdana kopi robusta Malangsari ke sejumlah negara. Seperti diketahui, perkebunan Malangsari adalah salah satu sentra penghasil kopi robusta terbaik di Nusantara. Produknya sudah diekspor ke Italia, Jepang, Inggris, hingga Swiss.

“Pada kesempatan yang sama, wisata ini menawarkan edukasi petik hingga penyajian kopi bersama para pakar. Sehingga wisata ini menjadi pusat edukasi yang lengkap bagi wisatawan dan para pelajar,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, dikutip laman Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Perdagangan Kabupaten Banyuwangi, akhir tahun lalu.

Anas mengaku senang Wisata Kuliner Kopi Lanang akhirnya bisa dibuka lewat kerjasama dengan Perseroan Terbatas Perkebunan Nusantara XII (PTPN XII). Pembukaan tempat ini bagian dari upaya bersama untuk mengembalikan citra Banyuwangi sebagai penghasil kopi berkualitas.

Kopi Robusta

Kopi berakar kuat di Banyuwangi. Banyuwangi kaya kopi. Sejak zaman Belanda kopi sudah dikembangkan di perkebunan-perkebunan kopi milik penjajah Belanda.

Biji kopi pertama di Banyuwangi berasal dari Clement de Harris, residen pertama Besuki, pada 1788. Besuki terdiri atas empat afdeeling (kabupaten): Jember, Bondowoso, Situbondo, dan Banyuwangi. Dari keempatnya, Banyuwangi mempunyai pegunungan luas bernama Ijen. Cocok untuk pertumbuhan kopi. De Harris pun menanamnya di Sukaraja, utara Banyuwangi –kini masuk wilayah Kecamatan Giri.

Masa tanam paksa 1830-1870 mendorong perluasan kebun-kebun kopi di Banyuwangi ke arah selatan. Wilayah itu mencakup Songgon, Wongsorejo, Glagah, Licin, Kalipuro, Pesanggaran, Glenmore, dan Kalibaru (Malangsari). Wilayah ini pun mulai dikenal sebagai penghasil kopi di Jawa selain wilayah Priangan di Jawa Barat.

Menurut Upik Wira Marlin Djalins dalam “Subject, Lawmaking and Land Rights: Agrarian Regime and State Formation in Late-Colonial Netherlands East Indies”, disertasi di Universitas Cornell tahun 2012, di bawah pengawasan kepala desa, kebun-kebun kopi ditanam dan dirawat penduduk setempat dan menghasilkan keuntungan yang besar bagi Belanda. Kopi Banyuwangi bahkan terkenal di Belanda dan sangat dicari.

“Kemasyhuran kopi Banyuwangi menarik perhatian para pengusaha yang bercita-cita tinggi dan tersebar di wilayah Jawa Timur,” tulis Upik.

Sejumlah pengusaha mencoba peruntungan dengan membuka perkebunan kopi. Terlebih setelah penghapusan Sistem Tanam Paksa yang memungkinkan budidaya kopi dikelola swasta.

Pada 1959 dan 1960, perusahaan perkebunan milik Belanda dinasionalisasi. Mereka dimasukkan dalam satu wadah dan kini menjadi PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XII.

Mulanya banyak perkebunan menanam varietas kopi arabica. Namun berjangkitnya penyakit tanaman kopi menyebabkan penurunan produksi kopi secara drastis. Maka, diperkenalkanlah varietas kopi robusta di Jawa yang lebih tahan penyakit dan produktivitasnya tinggi. Hasilnya, pertumbuhan kopi robusta melampaui produksi kopi Arabica.

“Introduksi kopi robusta ini ternyata telah menjadi titik awal dari perubahan sejarah industri kopi di Indonesia. Penanaman dan pengembangan kopi jenis ini bukan saja telah mengubah negeri kita dari produsen kopi arabika menjadi produsen kopi robusta, tetapi lebih penting lagi jenis kopi ini telah menyelamatkan kelangsungan negeri ini sebagai salah satu penghasil kopi dunia,” tulis Latifatul Izzah dalam Dataran Tinggi Ijen: Potongan Tanah Surga untuk Java Coffee.

Kopi robusta merupakan salah satu komoditas utama perkebunan Malangsari. Malangsari menempati lahan seluas 2.665,92 hektar yang mencakup delapan wilayah: Besaran, Watulempit, Mulyosari, Kampung Tengah, Tretes, Gunungsari, Pacurejo, dan Ledoksari.

Kopi robusta kerap dibilang kopi kelas dua. “Lebih pahit dan sedikit asam daripada jenis Arabica. Kadar kafeinnya juga lebih banyak,” ujar Jaenal Arifin, alumnus program studi sejarah Universitas Jember, yang pernah meneliti tentang perkebunan kopi Malangsari.

Namun siapa sangka dari kopi robusta muncul kopi bernilai tinggi yang dikenal dengan sebutan kopi lanang.

Mendongrak Gairah

Perluasan kebun kopi mempengaruhi perilaku orang-orang di Banyuwangi. Mereka bukan saja mengenal budidaya kopi, tapi juga bagaimana menghayati kopi dengan caranya sendiri. Kopi merekatkan mereka. “Sekali seduh, kita bersaudara,” demikian slogan mereka turun-temurun.

Tapi produksi dan budaya kopi di Banyuwangi belum cukup untuk mendongkrak citra kopi Banyuwangi. Padahal sejak lama Banyuwangi merupakan salah satu sentra produksi kopi di Jawa.

Rasa kopi Banyuwangi juga cukup khas. Misalnya saja kopi lanang Malangsari. Kopi ini disebut lanang lantaran bentuk bijinya berbeda dari kopi lainnya. Bentuknya tunggal dan bulat, sedangkan biji kopi lainnya terbelah dan berbiji dua (dikotil). Bentuk kopi lanang juga lebih kecil. Lanang berasal dari bahasa Jawa, artinya lelaki. Di pasar internasional ia biasa disebut peaberry coffee.

Kopi lanang terbaik muncul dari pohon kopi robusta berumur 10 tahun ke atas. Pohon itu harus tumbuh di tanah yang gembur, subur, mengandung banyak humus, berjenis andosol atau latosol, dan bertekstur baik.

Genealogi pohon kopi tersebut berasal dari kebun percobaan di Kaliwining pada 1930-an. Anakannya tahan terhadap parasit Pratylenchus coffee dan Radopholus similis serta kekeringan.

Ketinggian tempat ikut berpengaruh terhadap kualitas robusta. Pegunungan Meru Betiri mempunyai ketinggian 450-700 meter di atas permukaan laut. Perkebunan kopi menghadap ke timur sehingga memperoleh sinar matahari pagi yang lebih dari cukup. Selain itu, perkebunan kopi memperoleh angin laut dari selatan. Kondisi ideal untuk robusta.

Menurut tuturan orang tempatan, kopi lanang diperoleh secara tidak sengaja. Para pekerja semula mengira kopi lanang sebagai kopi gagal. Bentuknya berbeda dari kebanyakan kopi. Tapi setelah dikumpulkan, jumlahnya 2-5 persen dari total panen. Sayang kalau dibuang.

“Kopi gagal” itu pun diolah. Rasanya ternyata lebih nendang daripada sebagian besar kopi panenan. Sejak itu penelitian tentang kopi lanang muncul. Setelah diadakan penelitian oleh Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Jember, kopi itu justru jadi komoditas unggulan Perkebunan Malangsari.

Kandungan kafein kopi lanang lebih tinggi 2,1 persen dibandingkan kopi lain. Rasanya mirip kopi luwak dengan aroma kuat dan agak asam.

Mitosnya, kopi lanang mampu meningkatkan stamina dan gairah seksual lelaki. Biji kopi lanang mengandung senyawa tribulus terrestris untuk meningkatkan testoteron dan dehidroepiandrosteron (DHEA), sejenis steroid alami yang ada dalam tubuh orang. Tapi ini bukan berarti kopi lanang hanya cocok dikonsumsi lelaki. Perempuan pun bisa mengonsumsinya untuk menambah stamina bekerja.

Untuk memperoleh kopi lanang perlu penyortiran dari hasil panen kopi robusta yang berbiji bulat dan tunggal. “Karena kelangkaan dan kerumitan pengolahannya itulah yang membuat kopi lanang lumayan mahal harganya,” ujar Jaenal Arifin.

Pengembangan Kopi Lanang

Belakangan ini, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dan PTPN XII bertekad mengangkat citra kopi lanang dengan berbagai program. Antara lain ekspor kopi lanang ke Italia dan pembukaan wisata kuliner kopi lanang.

Kopi lanang dianggap bisa bersaing dengan kopi dari daerah lain. Harganya Rp150-160 ribu per kilogramnya. Lebih mahal daripada kopi robusta biasa. Sebab, untuk memperolehnya, butuh usaha lebih.

Puluhan ribu biji kopi disortir tiap kali panen. Hasilnya 2-5 persen saja yang dipilih sebagai kopi lanang. Dari 2.100 ton kopi, hanya 110 ton yang termasuk kopi lanang. Sisanya dijual sebagai robusta. Kebanyakan pekerja penyortiran adalah perempuan dengan menggunakan tempeh, ayakan bulat dari bambu. Para pengunjung wisata kuliner kopi lanang dapat melihat langsung penyortiran itu.

Kalau Anda belum tergoda dengan destinasi wisata di Malangsari, cobalah menjajal rasa kopi lanang dan membuktikan sendiri mitosnya.

Oleh Hendaru Tri Hanggoro
sumber : https://historia.id/kultur/articles/sejarah-panjang-kopi-lanang-DrL4k, akses tgl 01/07/2020.

Share To:

PERSAGI Bandung

Post A Comment:

0 comments so far,add yours