Meski kontroversial dan banyak penentangnya, namun kuliner daging anjing masih menjadi buruan sejumlah orang. Selain konon katanya enak, konsumsi daging anjing dirasa juga memberikan sejumlah manfaat, terutama saat disantap di musim penghujan.

Banyak yang mengatakan, mengonsumsi daging anjing bisa mengurangi hawa dingin yang menyelimuti tubuh hingga menyembuhkan penyakit gatal-gatal.

“Rasanya echo (enak). Lebih enak dari daging biawak, tapi masih kalah dengan daging kuda. Kalau makan ini, badan bisa hangat,” kata Supri, 46, warga asal Dusun Boro, Desa Banjarasri, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) saat ditemui tengah mengonsumsi daging anjing, Senin (26/11).

Supri mengaku telah mengonsumsi daging anjing sejak masih remaja. Bahkan ia pernah selama 3 tahun, yakni pada 2006-2009 juga ikut berjualan.

Pria yang akrab disapa Babe ini mengatakan, selain membuat badan hangat juga ada beberapa manfaat yang dipercayainya. Yaitu bisa menyembuhkan gatal-gatal dan mengandung vitamin. “Ini kan ada protein hewaninya. Seperti kita makan daging sapi, daging ayam,” katanya.

Untuk tongseng daging anjing ini dibeli di Warung Sri di tetangga desanya. Dijual dengan harga Rp 15 ribu per 1 porsi. “Sekarang tidak terlalu sering makannya. Dulu hampir setiap hari,” tuturnya.

Dari penelusuran, tongseng daging anjing ini banyak ditemukan secara merata di DIJ. Baik itu di Kabupaten Kulon Progo, Sleman, Bantul, Gunungkidul, maupun di Kota Jogjakarta.

Warung-warung yang menjanjakan daging anjing ini, diakui Supri, banyak yang sudah bertahun-tahun berdiri. Mereka mendapatkan suplai bahan mentahnya, kebanyakan dari warga sekitar saja yang menjual.

Untuk pengolahannya pun terbilang cukup mudah. Hanya yang membutuhkan kerja keras saat menyembelihnya. “Harus dijerat atau digantung. Supaya cepat mengulitinya, biasanya dibakar,” katanya.

Sementara itu, Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas 1 Semarang Wawan Sutian mengatakan, risiko terpapar penyakit rabies dapat dimungkinkan terjadi. Tetapi pada dasarnya memakan daging anjing olahan tidak ada risiko terinfeksi apabila benar dalam cara memasaknya. Sebab, patogen atau virus pada anjing pasti mati saat dimasak.

“Kecuali proses pemasakannya tidak sempurna. Misalnya daging dibakar untuk sate tapi di dalamnya belum matang atau masih ada darahnya. Boleh jadi patogen virus rabiesnya ada yang belum mati. Sehingga risiko terpapar rabies masih memungkinkan,” ujarnya kepada JawaPos.com, baru-baru ini.

Selain rabies, imbuh Wawan, daging anjing juga mengandung cacing pita yang disebut sebagai Echinococcus granulosus, ia pun membenarkan. Katanya berbentuk larva atau kista hidatid. Dan lagi, di sini cara pengolahan menjadi kunci bisa tidaknya manusia terpapar penyakit gara-gara cacing pita.

Editor : Sari Hardiyanto
Reporter : (apl/dho/gul/ce1/JPC)
sumber : https://www.jawapos.com/jpg-today/28/11/2018/serba-serbi-daging-anjing-dari-dijerat-digantung-hingga-dibakar/, akses tgl 25/07/2020.

Share To:

PERSAGI Bandung

Post A Comment:

0 comments so far,add yours