Suweg Umbi Terlupakan

Orang tak banyak yang tahu ketika mendengar nama suweg. Kosa kata ini berasal dari Bahasa Jawa, dan diadopsi oleh Bahasa Indonesia, sebab tak ada padanan katanya. Di Indonesia, komoditas umbi-umbian bahan pangan ini semakin tersisih.

Lain halnya dengan di India. Suweg punya banyak sebutan. Selain sebutan dalam Bahasa Inggris elephant foot yam, atau whitespot giant arum; jangli suran, kanda, madana masta (Hindi); gandira, suvarna-gadde (Kannada); cinapavu, karunakarang, kizhanna (Malayalam); suran (Marathi); arsaghna, arshoghna, arsoghna, bahukanda (Sanskrit); anaittantu, boomi sallaraikilangu, camattilai (Tamil);  daradakandagadda, ghemikanda, kanda (Telugu); dan zamin-kand (Urdu).

Banyaknya sebutan dalam berbagai bahasa di India ini, menunjukkan bahwa suweg merupakan komoditas penting di negeri ini. Meskipun komoditas ini hanya dibudidayakan di bagian tengah dan selatan India yang beriklim tropis.

Ada delapan negara bagian India yang membudidayakan suweg. West Bengal dengan produksi 286.830 ton; Andhra Pradesh 181.630 ton; Kerala 126.090 ton; Bihar 36.160 ton; Tamil Nadu 34.590 ton; Karnatakan 9.400 ton; pondicherry 1.570 ton; Tripura 1.410 ton; dengan total produksi 677.680 ton.

Harga suweg di India berkisar 18 ruppe India (INR) sampai 42 ruppe; atau rata-rata 37 ruppe. Dengan kurs 1 ruppe India sama dengan Rp. 206,34, maka harga eceran rata-rata umbi suweg senilai Rp. 7.634,58.

Harga ini masih relatif murah. Di situs Bukalapak, umbi suweg ditawarkan Rp. 20.000 tanpa menyebut satuannya, dan stok habis. Di situs inkuiri.com umbi suweg ready stock ditawarkan Rp. 100.000 juga tanpa menyebut satuan. Di pasar-pasar tradisional di Jawa Tengah, harganya di atas Rp. 10.000 per kg.

Meskipun masih dibudidayakan dan dipasarkan secara terbatas, di Pulau Jawa suweg semakin dilupakan. Pada dekade 1950, olahan umbi suweg masih dijual di pasar tradisional.

Pada dekade 1950, olahan umbi suweg hanya dijual di musim kemarau, dan tidak tiap hari ada. Sebab pasokan umbi suweg sangat terbatas.

Langkanya umbi suweg sebenarnya bukan karena umbi ini sulit dibudidayakan. Suweg merupakan tanaman bandel, tanpa ditanam pun akan tumbuh subur di bawah tegakan tanaman keras. Sampai dekade 1950, suweg tumbuh di hampir semua kebun petani di Jawa.

Suweg merupakan umbi batang. Umbi suweg berbentuk bulat agak pipih, dengan permukaan berbentol-bentol, karena penuh dengan mata tunas. Petani tak pernah membawa pulang umbi suweg utuh.

Petani selalu mengupas umbi itu di lubang galian, kemudian mata tunas (uer) umbi suweg itu diiris membentuk kerucut ke dalam, lalu ditaruh terbalik dalam lubang bekas galian itu. Bersama kulit umbi, mata tunas itu ditimbun dengan tanah.

Nanti pada waktu hujan datang, mata tunas utama itu akan tumbuh menjadi individu tanaman baru, yang akan menghasilkan umbi, minimal sama besar dengan umbi yang dipanen. Lalu kulit umbi suweg itu akan menumbuhkan banyak anakan tanaman baru.

Mirip Raflesia

Saat kemarau panjang, ketika umbi tidak dipanen padahal sudah berukuran optimum, suweg akan menumbuhkan bunga yang disebut “kembang bangah”. Inilah yang lazim disebut bunga bangkai, karena tercium aroma busuk mirip bangkai.

Aroma ini berguna untuk menarik serangga, terutama lalat agar mendekat dan membantu penyerbukan. Para petani tidak akan memanen umbi suweg yang sudah mengeluarkan bunga bangkai, sebab sebagian energinya (karbohidratnya) telah digunakan untuk menumbuhkan bunga tersebut.

Bunga suweg jarang yang terserbuki dan tumbuh menjadi biji. Kecuali dibantu penyerbukannya oleh manusia. Lain dengan bunga acung (walur) dan iles-iles (porang) yang akan terus tumbuh menghasilkan biji.

Budidaya suweg belakangan dilakukan masyarakat perkotaan. Tujuannya bukan untuk dipanen umbinya, tapi ditunggu bunganya. Suweg menjadi pilihan tanaman eksotis dibanding bunga bangkai raksasa titan arum, sebab jangka waktu keluarnya bunga lebih cepat. Titan arum paling sedikit butuh tujuh tahun untuk berbunga. Dengan ukuran umbi sama, suweg perlu waktu tiga sampai empat tahun untuk berbunga.

Suweg, Amorphophallus paeoniifotius, merupakan satu-satunya spesies dari 198 spesies genus Amorphophallus yang umbinya bisa dikonsumsi langsung tanpa pengelolahan. Sebab kandungan kalsium oksalat dalam daging umbi relatif rendah.

Iles-iles, porang, Amorphophallus muelleri; acung, walur, Amorphophallus variabilis; dan konjac, Amorphophallus konjac; bisa dikonsumsi glukomananya, diolah menjadi konjaku, menu nol kalori khas Jepang. Meski harga suweg lebih mahal dibanding iles-iles, daya serap pasar sangat terbatas lantaran Indonesia belum ada industri pengolah suweg.

Di India, umbi suweg bukan hanya komoditas pangan, melainkan juga bahan pengobatan tradisional Ayurveda. Masyarakat India meyakini ada belasan penyakit, yang bisa disembuhkan dengan mengonsumsi umbi bahkan daun suweg. Karena bernilai ekonomis sebagai bahan obat tradisional, di India suweg diawetkan dalam bentuk irisan yang dikeringkan, bahkan juga ditepungkan.

Oleh F Rahardi 
(Pengamat Agribisnis)
Sumber: 
- Tabloid Kontan.9-15 Oktober 2017.Hal.21
- https://www.uc.ac.id/library/suweg-umbi-terlupakan/, akses tgl 03/07/2020.

Posting Komentar

[blogger]

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget