"Selain fakta bahwa ASI adalah makanan terbaik yang dapat diberikan ibu kepada bayinya, menyusui itu sesuai dengan ajaran agama," ujar dr Utami Roesli, Sp.A, MBA., IBCLC dengan nada tegas pada kumparanMOM, Kamis (1/8) saat diwawancara mengenai pentingnya menyusui.


"Begitu pentingnya (menyusui), tak heran bila agama Islam, Katolik, Kristen Protestan, Hindu, Buddha juga Khonghucu menganjurkannya," tambah dokter spesialis anak yang juga dikenal sebagai konselor dan pakar laktasi ini. 

Berangkat dari penjelasan dr Utami, kumparanMOM mencari tahu lebih jauh mengenai hal ini dan merangkumnya untuk Anda. Yuk, simak artikel ini sampai habis, Moms!

Islam 

H. Faishal Shadik, M.S.I atau Ustaz Faisal mengatakan ASI merupakan makanan dan minuman yang terbaik untuk bayi. Sejak lahir hingga berusia 6 bulan,  bayi dianjurkan diberi ASI dan hanya ASI saja (eksklusif) untuk kemudian mendapat Makanan Pendamping ASI (MPASI) sambil dilanjutkan disusui hingga berusia 2 tahun.

Ustaz Faisal menyebut, hal ini telah dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al Baqarah ayat 233, Allah SWT berfirman :

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلاَدَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَن يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ لاَ تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلاَّ وُسْعَهَا لاَ تُضَآرَّ وَالِدَةُ بِوَلَدِهَا وَلاَ مَوْلُودُُلَّهُ بِوَلَدِهِ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَلِكَ فَإِنْ أَرَادَا فِصَالاً عَن تَرَاضٍ مِّنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِمَا وَإِنْ أَرَدْتُمْ أَن تَسْتَرْضِعُوا أَوْلاَدَكُمْ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِذَا سَلَّمْتُم مَّآءَاتَيْتُم بِالْمَعْرُوفِ وَاتَّقُوا اللهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرُُ  

Artinya : “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimuapabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan,” (Al-Baqarah: 233).

Pada Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 233 di atas, terdapat beberapa hal penting yang berkaitan dengan kegiatan menyusui. Pertama, menyusui ASI dari seorang ibu kepada bayinya merupakan sebuah ibadah dan bagian melaksanakan perintah Allah SWT, bahkan ada yang menyatakan wajib bagi seorang ibu untuk menyusui anaknya. 

Sesungguhnya Allah SWT adalah yang paling Maha Rahim (Maha Penyayang) bagi seluruh mahluk-Nya dari pada kasih sayangnya seorang ibu kepada anaknya, karena Allah SWT memerintahkan kepada para ibu untuk menyusui, padahal hal itu merupakan fitrah dan naluri mereka. Hal ini menunjukkan bahwa rahmat Allah SWT sangat jauh lebih luas dan agung daripada kasih sayang seorang ibu kepada anaknya.

Dalam kitab tafsir Fi-Zhilalil Qu’an karangan Sayyid Quthb, ketika membahas surat Al Baqarah ayat 233 dituliskan “Allah mewajibkan seorang ibu untuk menyusui anaknya selama dua tahun penuh, karena Dia mengetahui bahwa masa-masa inilah yang sangat penting bagi anak dari semua aspek, baik aspek kesehatan atau kejiwaan. Berbagai penelitian kesehatan dan kejiwaan modern juga menegaskan bahwa masa dua tahun sangat penting bagi kesehatan pertumbuhan anak baik dari aspek kesehatan jiwa ataupun kesehatan fisik."

“Jadi buat seorang muslimah, kegiatan menyusui bukan hanya karena alasan kesehatan tetapi yang terpenting adalah melaksanakan perintah dan kewajiban dari Allah SWT. Tentunya panggilan keimanan dan ke-Islam-an harus menjadi dasar pertama dan yang terkuat untuk melaksanakan seluruh perintah Allah SWT dengan baik dan benar,” tambah Ustaz Faisal.

Hal kedua yang perlu diperhatikan dari ayat ini, bahwa perintah menyusui yang sempurna adalah selama dua tahun penuh. Menurut Ustaz Faisal, boleh dilakukan kurang dari dua tahun tetapi harus dimusyawarahkan terlebih dahulu oleh suami dengan keridhaan keduanya dan kemashlahatan (kebaikan) bagi bayinya. Namun jika menimbulkan madharat (kerugian) bagi anaknya maka hal itu dilarang.

Lalu yang ketiga, sangat perlu adanya partisipasi aktif ayah dalam proses menyusui, sehingga ibu berhasil menyusui bayinya secara eksklusif dan selama 2 tahun. Peran keluarga juga menjadi yang utama karena ibu bukanlah pelaku tunggal yang bertanggungjawab dalam pemberian ASI eksklusif. 

Dalam hal ini keluarga terdekat yakni suami atau ayah juga menjadi faktor dominan dalam memberikan dukungan pada ibu dan bayi. “Breastfeeding father (Ayah ASI) merupakan istilah populer bagi ayah yang mendukung dan berperan aktif membantu ibu dalam menyusui sangat menentukan keberhasilan pemberian ASI eksklusif,” jelasnya.

Dan hal keempat adalah konsep ibu persusuan sebagai alternatif apabila tidak dapat menyusui bayi secara langsung karena faktor tertentu. Ibu persusuan dapat dilakukan secara langsung atau tidak langsung.

Adapun yang dimaksud ibu persusuan secara langsung adalah bayi menyusui secara langsung dari payudara seorang perempuan yang bukan ibu kandung si bayi (ibu persusuan). Sedangkan yang tidak langsung adalah bayi mendapatkan ASI dari ibu persusuan melalui gelas atau cup yang diisi ASI perah. 

Pemahaman dari konsep ibu persusuan sebagai alternatif adalah pilihan yang utama dan benar apabila seorang ibu kandung tidak dapat menyusui bayinya, maka penggantinya adalah tetap ASI tetapi dari ibu persusuan. Penggantinya bukanlah susu formula atau lainnya.

Selain surat Al Baqarah ayat 233, masih ada beberapa ayat dalam Al-Qur’an yang menganjurkan pemberian ASI.

Di antaranya, surat Al Lukman ayat 14 yang berbunyi:

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ  
وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ 

Yang artinya: “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu,” (QS Al-Lukman: 14). 

Serta Al-Qashash ayat 7 yang berbunyi:

وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ أُمِّ مُوسَىٰ أَنْ أَرْضِعِيهِ ۖ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ  
فِي الْيَمِّ وَلَا تَخَافِي وَلَا تَحْزَنِي ۖ إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ 

Artinya: “Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa; "Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul,” (QS Al-Qashash: 7).

Kristen Protestan 

Selanjutnya kumparanMOM mewawancarai Pdt. Fonny Elizabeth Zega S.Th dari GBI Jagakarsa untuk mengetahui seperti apa anjuran menyusui dalam agama Kristen Protestan. 

“Menyusui merupakan perwujudan untuk menjalani hukum kasih yang diajarkan Yesus,” ujarnya kepada kumparanMOM, Kamis, (1/8).

Pendeta Fonny kemudian menjelaskan ada kisah Musa dan Samuel di mana di dalamnya jelas diceritakan bagaimana seorang ibu berkewajiban untuk menyusui anak sebagai bentuk perwujudan kasih seorang ibu. 

Kisah Musa Keluaran 2;1-10, kemudian kisah Nabi Samuel 1 Samuel 1:21-23,  berbunyi:

“1:21 Elkana, laki-laki itu, pergi dengan seisi rumahnya mempersembahkan korban sembelihan tahunan dan korban nazarnya kepada Tuhan. 1:22 Tetapi Hana tidak ikut pergi, sebab katanya kepada suaminya: "Nanti apabila anak itu cerai susu, aku akan mengantarkan dia, maka ia akan menghadap ke hadirat Tuhan dan tinggal di sana seumur hidupnya." 1:23 Kemudian Elkana, suaminya itu, berkata kepadanya: "Perbuatlah apa yang kaupandang baik; tinggallah sampai engkau menyapih dia; hanya, Tuhan kiranya menepati janji-Nya." Jadi tinggallah perempuan itu dan menyusui anaknya sampai disapihnya.”

Dilanjutkan dengan rujukan lain yang tertera pada Kejadian 49:25 yang berisi janji Tuhan berkat bagi setiap ibu dan calon ibu kejadian. Serta 1 Petrus 2:2 berbunyi “Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan.”

Adapun ayat pendukungnya tertera pada Lukas 11:27 yang berbunyi “Ketika Yesus masih berbicara, berserulah seorang perempuan dari antara orang banyak dan berkata kepada-Nya: "Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau.”

Katolik 

Lalu ada juga, Romo Benny Susetyo yang menjelaskan bahwa dalam agama Katolik, sebenarnya tidak ada ayat yang mengatakan secara gamblang mengenai anjurannya.

Namun beliau mengingatkan, dalam perkawinan di agama Katolik tidak boleh ada perceraian agar memiliki tanggung jawab pada keluarga, salah satunya adalah ASI yang dibutuhkan anak agar kualitas gizi terpenuhi. 

“Kewajiban ajaran Gereja berdasarkan inspirasi dalam kitab suci dikatakan bagaimana istri dan suami saling menghormati, saling menjaga rumah tangga dan anak-anak baik,” ujarnya saat dihubungi melalui sambungan telepon pada Jumat (2/8).

Lebih lanjut Romo Benny menuturkan inilah kenapa dalam proses perkawinan di Gereja, calon pengantin juga diberi pembekalan tentang bagaimana menjaga rumah tangga, keluarga dan anak-anak -termasuk soal menyusui. 

“Sehingga sejak awal orangtua diajarkan memberikan ASI karena menjadi bagian interaksi, kehangatan antara anak dan ibu serta sebagai pembentukan karakter,” imbuhnya.

Romo menambahkan dalam membentuk sebuah keluarga juga perlu kehangatan interaksi. “Maka dalam studi kedokteran, ASI membantu anak bukan hanya karena gizi tapi juga kedekatan dengan orangtua,” ungkapnya.

Maka dari itu, suami istri memiliki tanggung jawab yang sama dalam memberikan ASI pada bayi. 

“ASI diciptakan Tuhan untuk anugerah mampu memberikan bayi ikatan cinta kasih orang tua sebagai bagian bagian intimasi dan relasi antara ibu dan anak sebagai pembentukan karakter,” tutupnya.

Hindu 

Untuk pemaparan mengenai anjuran menyusui dalam agama Hindu, kumparanMOM mendapat penjelasan dari Pinandita Agni Putu Asiagama, Wakil Ketua Yayasan Wahana Damai. 

Pinandita Agni Putu pun merujuk pada buku Yajur Veda Bab 17 sloka 87 nirder pra gr 1.16.20 untuk menjelaskan mengenai anjuran pemberian ASI. Adapun kutipan dari buku tersebut adalah:

Mantra mengisap susu ibu yang kanan berbunyi: Om imam stanamurjjasvantam dhayapam prapinamagne sarirasya madhye,tsam jusasva madhumantamarvantsamudriyam sadanamavisasva. 

Artinya: “Oh, Nak! Di sini untuk menjaga dirimu agar kuat dan tangguh di antara laki-laki yang menyusui susu ibumu yang sehat, sehingga engkau menjadi sehat oleh air susu ibumu. Semoga kamu melewati masa bayimu dengan menyukai susu ibumu yang sangat lezat yang memuaskanmu bagaikan di dalam taman bunga yang indah. Semoga kamu agar bukan hanya mendapatkan pengetahuan duniawi melainkan bersama dengan ilmu pengetahuan rohani dan surgawi,”

Mantra ini mempunyai makna bahwa air susu ibu tidak hanya mengandung ilmu duniawi yaitu unsur material saja, tapi juga ilmu surgawi yakni unsur ke-Tuhan-an berupa cinta kasih.

Kemudian untuk mantra mengisap susu yang kiri berbunyi: Om yaste stanah sasayo yo mayobhuryo ratnadha varuvidyah sudatrah Yena visva pusyasi varyani sarasvati tamiha dhatavekah 

Artinya: “Oh, istri yang bijaksana tentang ilmu pengetahuan, kamu memberikan air susumu yang merupakan sumber kenikmatan demi perkembangan anggota tubuh bayi yang memiliki kualitas bagaikan pengaruh logam mulia dan intelek yang cerdas,”

Selanjutnya ada, mantra yang berbunyi Anagadnagatsambhavasi hrdayadadhijayase Vedovai putranamasi sajiva saradah satam yang artinya “Oh nak kamu lahir dari bagian tubuhku dan lahir melalui kalbuku, kamu anakku dan kamu sama dengan veda yang merupakan ilmu yang diyakini,”

Tak hanya itu, ia menambahkan bahwa dalam agama Hindu tepatnya di kitab Purana ada dua unsur pemberi air nektar atau air susu yaitu, Go Matha dan Metru Devo Bava.

Go Matha atau sapi dihormati karena sebagai pemberi nektar kehidupan yaitu susu. Sementara Metru Devo Bava adalah ibu (orang tua) yang selalu memberi nektar kehidupan atau ASI.

“Maka dari itu seorang anak harus memuliakan ibunya karena dia memberikan zat kehidupan baik di dalam rahim maupun di luar rahim ibu. Dan ibu-lah yang pertama kali memberi nektar kehidupan setelah bayi lahir maka ibu bergelar Metru Devo Bhava yakni wakil Tuhan di dunia ini,” ungkapnya.

Buddha 

Kemudian dari agama Buddha, kumparanMOM mendapatkan informasi dari Hendry Frilu atau Biksu Tenzin Konchog selaku Sekretaris Pribadi Kepala Biara Indonesia Gaden Syeydrup Nampar Gyelwei Ling. Saat kumparanMOM menghubunginya melalui sambungan telepon, ia mengatakan bahwa tidak ada pernyataan yang menyingung anjuran menyusui secara eksplisit, namun dirinya merujuk pada Kitab Komentar, Sutra Bakti Seorang Anak. 

Biksu Tenzin menjelaskan, dalam praktik agama Buddha dibagi menjadi 3 hal, yaitu: belajar, merenung dan meditasi. Untuk meditasi sendiri dibagi menjadi berbagai macam kualitas batin, contohnya kemurahan hati, kesabaran, serta cinta kasih.

“Cinta kasih terkait dengan pengembangan yang disebut dengan bodhicitta yaitu satu keinginan untuk mencapai pencerahan atau ke-Buddha-an demi kebahagiaan semua makhluk,” tambahnya.

Cara paling efektif untuk mendapat bodhicitta yakni mengingat bahwa semua makhluk adalah ibu. “Ada salah satu poin menyebutkan kebaikan ibu kepada anaknya, ibu merawat anakanya mulai dari bayi kemudian besar sampai dewasa, dia sangat menyangi anaknya. Salah satu contoh yang diangkat terkait menyusui mengingat kebaikan ini,” jelas Biksu Tenzi.

“Jadi bukan intruksi untuk menyusui, tapi menyusui merupakan aktivitas kebaikan,” tegasnya.

Khonghucu 

Sementara dari agama Khonghucu, kumparanMOM bertanya anjuran menyusui dari Tan Minggayani, Koordinator Bidang Pembinaan Anak Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN). 

Untuk anjuran menyusui bayi dalam agama Khonghucu, dirinya mengatakan ada di dalam Lun Gi (Sabda Suci) II : 6 Nabi Kongzi yang bersabda: “Orang tua akan merasa sedih bila anaknya sakit.” 

Hal ini pun merupakan hukum keterikatan jiwa antara orang tua dan anaknya. Meskipun jarak memisahkan mereka, orang tua dan anak bisa saling merasakan bila ada yang rindu ataupun sakit. 

"Jadi maksudnya, sejak dalam kandungan sampai maut memisahkan orang tua berusaha menjaga kesehatan fisik bahkan jiwa dan kelakuannya anaknya agar menjadi seorang manusia yang dapat dipercaya. Salah satunya dengan menyusui atau memberi ASI sejak bayi baru lahir, agar sehat," tutur Ibu Minggayani.

Penjelasannya ini sesuai dengan keterangan dari dr. Utami bahwa ASI memiliki nutrisi paling lengkap yang diperlukan anak bayi agar dapat tumbuh sehat. ASI juga mengandung banyak zat penting seperti makrofag, limfosit dan antibodi yang dapat mencegah bayi terinfeksi dari berbagai penyakit.

ASI juga sangat cocok dengan sistem pencernaan bayi yang masih peka atau belum sempurna karena komposisi ASI akan berubah seiring dengan pertumbuhan dan sesuai dengan kebutuhan bayi. Tak hanya itu, bayi dan ibu yang memberikan dan diberikan ASI juga dapat terhindar dari penyakit kanker payudara, struk, diabentes, osteoporosis hingga obestitas. 

Nah Moms, kini jelas sudah. Apapun agama kita, kebaikan ASI dan manfaat menyusui sejalan dengan ajarannya.

Konten Redaksi kumparan
sumber : https://kumparan.com/kumparanmom/anjuran-menyusui-dalam-6-agama-1raSctVteqo, akses tgl 09/08/2020.

Share To:

PERSAGI Bandung

Post A Comment:

0 comments so far,add yours