Tahu Sumedang yang lembut gurih dahulu dikenal sebagai Tahu Bungkeng. Ternyata Tahu Bungkeng ini sudah ada sejak tahun 1917.


Sejarah tahu Sumedang ini bermula dari kreativitas seorang imigran asal China bernama "Ong Kino" bersama dengan istrinya yang tinggal di Tegalkalong, Kecamatan Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.

Awalnya Ong Kino membuat tahu hanya untuk dikonsumsi oleh keluarganya, kemudian dihidangkan kepada tetangga sekitar dan tamu yang datang ke rumahnya. Tetapi akhirnya banyak orang ketagihan lezatnya tahu Sumedang ini.


Usaha pembuatan tahu Sumedang bongkeng ini dilanjutkan oleh anaknya bernama Ong Bung Keng pada tahun 1917.

Menurut cerita, saat itu bupati Sumedang, Pangeran Soeria Atmadja kebetulan melintas dengan menggunakan kereta kudanya (delman) dalam perjalanannya menuju Situraja. Kemudian melihat Ong Bung Keng menggoreng sesuatu yang menarik perhatian bupati.

Melihat tampilannya dan mencium baunya yang gurih, Bupatipun penasaran dan mencicipinya. Ternyata rasa dan wanginya membuat bupati mengusulkan kepada Bung Keng untuk menjualnya.

Mendengar usulan Bupati, Ong Bung Keng akhirnya memproduksi tahunya sendiri di rumahnya di Jalan 11 April, Tegalkalong, Kecamatan Sumedang Utara. Tahu buatan Ong Bung Keng ini memiliki cita rasa yang berbeda dengan tahu lainya. Hal ini karena proses pembuatannya masih tradisional, menggunakan tenaga manusia hingga saat ini.


Tahu Bungkeng bertahan hingga 102 tahun dan dikelola secara turun temurun oleh keluarga. Saat ini Ong Che Ciang atau Suriadi adalah penerus generasi ke-4 dari Ong Ki No.

Istri dari Suriadi, Wiely mengatakan usaha tahu Sumedang yang dikelolanya ini masih mempertahankan resep nenek moyangnya dengan menggunakan kualitas kedelai asal Sumedang yang dikenal dengan kedelai jenis lurik.

"Sebagain kita masih menggunakan resep terdahulu yaitu kedelai lurik walau bahannya sekarang susah didapat, " kata Wiely saat ditemui di Outletnya di Jalan Raya 11 April, Selasa (14/1/2020).

Selain itu, Wiely mengatakan bahwa rasa tahunya juga dipengaruhi air tanah, Karena kualitas air ini berpengaruh pada rasa yang dihasilkan.

"Untuk pembuatan tahu Sumedang ini, air tanah pun berpengaruh untuk proses pembuatan. Karena air tanah di sini baik jadi kualitas ke tahunya akan sangat baik, kita di sini selain dari sumur kita ambil dari penjual, karena di sini tidak cukup" tambah Wiely


Ia akan terus bertahan dan menjaga warisan nenek moyangnya walau jumlah penjualan tidak menentu." Mau rame mau sepi, kita terus produksi, karena ini warisan nenek moyang yah, " katanya

Untuk saat ini tahu Sumedang Bungkeng telah memiliki enam outlet, lima di Sumedang, dan satu ada di Kota Bandung.

Soal ramai tidaknya, mereka tidak terlalu khawatir karena mereka sudah memiliki pelanggan tetap yang masih menginginkan tahu Sumedang bongkeng ini. "Koal sepi tidak terlalu khawatir karena kita sudah punya pelanggan tetap dan memiliki cita rasa yang khas," tutupnya.

Muhamad Rizal
sumber : https://food.detik.com/berita-boga/d-4858639/tahu-sumedang-bungkeng-sudah-populer-sejak-tahun-1917, akses tgl 13/08/2020.

Share To:

PERSAGI Bandung

Post A Comment:

0 comments so far,add yours