Susu dikenal punya segudang manfaat. Namun tak jarang ada yang masih ragu minum susu. Keraguan ini muncul berkat informasi soal kandungan hormon sapi pada susu. Para ibu takut memberikan susu bagi anak mereka.


Menurut Marudut, ahli gizi sekaligus anggota Bidang Penelitian dan Pengembangan Gizi, Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi), susu sapi pasti mengandung hormon binatang tersebut. Namun, beredarnya produk susu yang resmi di pasaran sudah melalui pengkajian oleh BPOM, sehingga kandungan hormon sapi dalam susu sesuai standar dan tidak akan berbahaya bagi kesehatan.

"Hormon di dalam susu hanya sedikit jumlahnya, kecuali susu dari pasar gelap atau tidak ada izin resmi dari BPOM, kita tidak bisa pastikan," kata Marudut pada CNNIndonesia.com usai Diskusi Cerdas Frisian Flag Indonesia Seri 3 di Morissey Hotel, Jakarta Pusat, Selasa (5/12).

Ia menjelaskan, hormon sapi akan dianggap benda asing oleh tubuh. benda asing pasti akan disingkirkan karena tidak mempunyai manfaat. Marudut menuturkan, jika tubuh tidak mampu menetralisir, bisa timbul masalah kesehatan.

"Kalau tidak bisa menetralisir misal enzim sitokrom P450, dia akan enggak mampu dan akan menimbulkan penyakit, tergantung penyakitnya seperti apa kelemahan yang ada di dalam tubuh seseorang," jelasnya.

Sementara itu, susu murni mengandung 3-4 persen lemak, 3-4 persen protein, laktosa sebanyak 4,8 persen serta vitamin dan mineral. Susu yang diperdagangkan, lanjut Marudut, merupakan susu yang sudah diperkaya dengan misal kalsium, zinc, serta vitamin D. Penambahan zat gizi ini disesuaikan dengan kebutuhan konsumen.

Marudut berkata, penting sekali seseorang mengonsumsi susu sapi. Susu merupakan sumber protein yang terbaik yang pernah ada. ia mengandung asam amino yang lengkap untuk menjamin pertumbuhan badan. Susu juga merupakan sumber kalsium yang berguna untuk kepadatan tulang.

"Susu juga sumber asam lemak yang unik dan kompleks dan beda dengan yang lain. Ini penting untuk metabolisme tubuh, mendukung kesehatan, dan menghindari risiko penyakit tidak menular (PTM) atau noncommunicable disease," ujarnya. (rah/rah)

Elise Dwi Ratnasari
sumber : https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20171205202417-255-260359/alasan-tak-perlu-khawatir-dengan-hormon-sapi-pada-susu?, akses tgl 31/08/2020.

Share To:

PERSAGI Bandung

Post A Comment:

0 comments so far,add yours