Belasan warga di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) mengalami keracunan setelah mengonsumsi daging bangkai kambing yang mati setelah mendapat suntikan obat viton, baru-baru ini.  Mereka dibawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan setelah mengalami gejala keracunan seperti mual, pusing, juga diare. 

Selama ini larangan mengonsumsi daging bangkai memang sudah diketahui secara luas oleh masyarakat.

Sebaliknya, hewan unggas atau ternak yang mati dan menjadi bangkai, disarankan untuk segera dikubur atau dibakar agar tidak menimbulkan penyakit, dan bukan diolah untuk konsumsi.

Lantas apa bahaya mengonsumsi bangkai? Dokter Ahli Gizi Dr. dr. Tan Shot Yen M.Hum memaparkan alasannya.

Daging bangkai sangat tidak disarankan untuk dikonsumsi masyarakat, karena berbagai risiko virus dan penyakit yang mungkin saja ditularkan kepada mereka yang mengonsumsinya.

Tidak peduli apakah hewan itu mati karena sakit, terkena virus, mengalami hal-hal nahas seperti kecelakaan atau bencana alam, ataupun alasan yang lain.

"Hewan kalau mati bukan karena disembelih kudu ditelusuri matinya kenapa. Apakah hewan-hewan ini matinya sial ketabrak (berarti) dia bebas penyakit? Pernah vaksinasi?" kata dr. Tan saat dihubungi Kompas.com, Minggu (29/12/2019).

Hal itu dikarenakan hewan yang mati meskipun kondisi terakhir terlihat baik-baik saja tidak bisa menjamin apapun ketika akhirnya diolah dan dijadikan hidangan untuk anggota keluarga.

"Kelihatan sehat tidak sama dengan bebas penyakit loh. Kalau peternakan kan memang secara khusus dipantau, diberi vaksinasi, registered, bahkan sapi-sapi ada capnya," jelas dr. Tan.

Tidak dibenarkan 

Untuk itu, mengonsumsi daging bangkai dengan alasan apapun sangat tidak dibenarkan.

Di dalam dunia kesehatan, terdapat 2 pembagian secara umum penyakit yang bersumber dari hewan atau zoonotic diseases.

Pertama adalah parasit atau bakteri yang tidak secara langsung membuat hewan mati, namun berbahaya bagi manusia.

"Yang paling terkenal tentu Tifus, Salmonella. Makanya makan telur mentah atau ayam mentah mending dipikir seribu kali. Telur dan daging ayam adalah media terbaik buat kembang biak kuman Tifus," jelasnya.

Sementara yang kedua, adalah penyakit yang membuat hewan bersangkutan mati. Misalnya TBC, septikemi (infeksi menyeluruh dalam darah), pneumonia, tumor/kanker, peritonitis (infeksi rongga perut) yang terjadi di hewan ternak seperti sapi. Bisa juga seperti virus flu babi yan menewaskan banyak babi di Sumatera Utara.

"Memang ada jenis-jenis penyakit hewan yang tidak menulari manusia, tapi bukan berati kita anggap enteng," sebutnya.

Ia pun mencontohkan virus flu burung yang semula tidak banyak diketahui masyarakat. Namun seiring berjalannya waktu, sistem imun manusia menurun akibat kebiasaan hidup yang tidak teratur, virus ini pun dengan mudah menyerang manusia.

"Jadi yang terbaik mengonsumsi hewan tentu yang sudah terverifikasi oleh keamanan pangan, dalam hal ini kita beli dari rumah penyembelihan resmi yang biasanya para penjual ayam atau daging di pasar mendapat pasokannya dari sana," imbuh dia.

Penulis : Luthfia Ayu Azanella
Editor : Sari Hardiyanto
sumber : https://www.kompas.com/tren/read/2019/12/29/115000065/dilarang-keras-seperti-apa-bahaya-konsumsi-daging-bangkai-?page=all, akses tgl 12/09/2020.

Share To:

PERSAGI Bandung

Post A Comment:

0 comments so far,add yours