Telur asin telah lama jadi bagian dari khazanah kuliner Indonesia. Sejarah telur asin di Indonesia bahkan bisa dirunut jauh hingga masa kolonial sekitar awal abad ke-20.

Sejarawan Heri Priyatmoko menyebutkan bahwa telur asin merupakan hasil kreativitas masyarakat pesisir pulau Jawa dalam mengolah garam yang berlimpah di sekitar mereka.

“Kalau hanya telur saja enggak cukup. Karena di pesisir kan banyak sekali usaha tambak garam. Mereka mencoba untuk berkreasi, untuk variasi makanan,” kata Heri ketika dihubungi Kompas.com, Jumat (10/7/2020).

Heri mengatakan bahwa catatan soal telur asin di Indonesia cenderung sulit ditemukan pada catatan sebelum abad ke-20. Ia sendiri mengaku belum mengetahui pada abad berapa tepatnya telur asin mulai muncul di Indonesia.

Tidak banyaknya catatan mengenai telur asin di Indonesia sebelum abad ke-20 dikarenakan telur asin bukanlah makanan yang biasa dikonsumsi oleh kalangan elit.

Sebaliknya, itu menunjukkan telur asin biasa dikonsumsi oleh masyarakat pribumi kelas bawah.

“Kalau itu makanan elit, dia pasti tercatat. Kalau tidak ya itu memang makanan rakyat yang hidup di pasar tradisional,” tutur Heri.

“Dia tidak pernah muncul dalam Rijstaffel, Kembel Bujono (pessta makanan besar elit Jawa). Tidak pernah hadir di situ, itu bisa ditafsirkan selain sebagai makanan rakyat, kedua karena dia baunya amis banget,” sambung dia.

Telur asin memang cenderung punya bau yang khas dan cukup tajam. Bau tersebut tidak disukai oleh kalangan elit bangsawan dan pemerintah kolonial Belanda.

Telur asin di dunia 

Dilansir dari Michelin Guide Singapore, telur asin telah ada di dunia sejak lama sekali. Bahkan tidak ada catatan sejarah yang benar-benar menyatakan setua apa telur asin atau bagaimana awal mula kemunculannya.

Telur asin pada dasarnya berasal dari kebudayaan China, dan dipercaya telah ada bahkan sebelum munculnya century egg atau telur abadi sajian khas China lainnya yang muncul di banyak cerita rakyat pada masa Dinasti Ming.

Catatan paling awal yang menyebut soal telur bebek yang diasinkan ada di Qimin Yaoshu (Teknik Penting untuk Petani).

Itu adalah sebuah catatan agrikultur China kuno yang berasal dari abad ke-5 masehi yang menyebut instruksi merendam telur bebek dalam air asin selama satu bulan.

Penulis : Syifa Nuri Khairunnisa
Editor : Yuharrani Aisyah
sumber : https://www.kompas.com/food/read/2020/07/11/171700175/sejarah-telur-asin-di-indonesia-hasil-kreativitas-masyarakat-pesisir-zaman, akses tgl 09/09/2020.

Share To:

PERSAGI Bandung

Post A Comment:

0 comments so far,add yours