Klepon sebagai bagian dari kekayaan kuliner agraris, sejak medio Juli, mendadak flamboyan. Klepon menjadi perbincangan para pihak yang bermula dari unggahan warganet di medsos. Dampak virtualnya, tagar #klepon menjadi trending topic di linimasa medsos. Kemudian menjadi bagian dari kegaduhan sosial di jagat maya. Ujungnya merembet pada perbincangan dengan nada tinggi di jagat raya.


Klepon dikategorikan produk gastronomi. Klepon berbahan tepung ketan putih. Dibentuk dalam ujud bulatan kecil. Di dalam bulatan kecil klepon diisi gula merah. Klepon, merujuk catatan Purwadi Ketua Lembaga Kajian Nusantara, hasil anggitan Kanjeng Ratu Wiratsari, tahun 1647. Masih merunut catatan Purwadi, Kanjeng Ratu Wiratsari adalah permaisuri Sinuwun Amangkurat Agung. Raja Mataram bertahta periode tahun1645-1677.

Secara semiotika, teks Klepon direkatkan makna konotasi simbol kebijaksanaan, ketelitian dan kehalusan budi. Makna konotasi seperti itu muncul atas nukilan budaya visual yang menerakan beberapa catatan. Pertama, makna kebijaksanaan meliputi ketepatan komposisi Klepon mulai adonan tepung ketan putih, parutan kelapa hingga dibubuhkan gula merah.

Kedua, makna kehalusan budi. Perujudannya laku kesabaran dan ketelitian. Hal itu terlihat saat membentuk adonan tepung ketan putih menjadi bulatan kecil berkarakter bunder golong gilig. Ketiga, bagi orang Jawa, Klepon direkatkan makna hidup egaliter-spritual, yakni: kanthi lelaku pesthi ana (baca: ono). Artinya, lewat laku prihatin pasti ada jalan keluarnya.

Pelintiran Komunikasi

Jujur harus diakui, fenomena Klepon yang menghiasi wajah linimasa medsos mampu mendisrupsi citra kuliner agraris yang senantiasa terpinggirkan. Keberadaan Klepon sebagai salah satu produk gastronomi berhasil disetel dalam kendali gelombang frekuensi viral yang membahana di jagat maya maupun jagat raya.

Kehadiran  tagar #klepon di jagat maya, sejatinya berhasil memunculkan  interpretasi sosial baru yang mewakili jejak digital wajah produk gastronomi dan kuliner agraris milik bangsa Indonesia. Klepon bagaikan sosok Dasamuka dalam konteks positif. Penampakan visual tampak depan terlihat sederhana, murah, dan berkarakter ndesa, Namun dari sisi lain, Klepon representasi manusia yang memiliki sifat lembut, sabar, teliti, hati-hati dan bijaksana.

Mengapa Klepon menjadi objek desrupsi di jagat maya? Karena teks Klepon yang sudah nyaman berlindung di rumah kuliner agraris dan di bawah payung bangunan gastronomi.  Secara sengaja dicabut dari asal muasalnya. Yang paling menyakitkan, fungsi serta konteks Klepon disingkirkan dari perspektif gastronomi dan kuliner agraris. Dari sana kemudian terjadi prahara komunikasi di jagat raya.

Ketika Klepon didekonstruksi secara virtual di linimasa jagat medsos. Saat Klepon secara sepihak dikeluarkan dari khasanah gastronomi dan kuliner agraris. Pada titik ini gelombang pelintiran komunikasi menjadi tsunami komunikasi di jagat maya. Limbahnya membanjiri jagat raya yang berakibat pada kegaduhan sosial di area patembayatan sosial.

Berdasarkan realitas sosial di atas, ditengarai fenomena pelintiran komunikasi menjadi amunisi ujaran kebencian yang berkelindan di linimasa medsos. Selanjutnya,  secepat kilat dijadikan bahasa baru. Keberadaannya digunakan untuk mengekspresikan rasa amarah. Dampaknya berujung pada kegaduhan sosial di jagat maya. Lalu merembet menjadi aksi kerusuhan sosial di jagat raya.

Kurang Tanggap

Pertanyaannya kemudian, ketika segala sesuatu yang ada di jagat raya dan jagat maya tidak berpihak  kepada diri pribadi atau kelompoknya, apakah dapat dilegalkan menjadi sekumpulan amarah dalam ujud aksi kerusuhan sosial?

Jejak digital mencatat aksi kerusuhan sosial dalam konteks jaringan patembayatan sosial terjadi akibat jurang kecemburuan sosial. Pejabat penyelenggara pemerintahan dinilai kurang tanggap memahami realitas sosial, budaya dan ekonomi rakyat yang dipimpinnya. Kecemburuan sosial itu semakin nyata teramplifikasikan dalam prahara pandemi Covid-19.

Program kerja yang dibuat pejabat penyelenggara pemerintahan ternyata dikerjakan secara tidak konsisten. Akibatnya, upaya menciptakan rasa nyaman dan aman, jauh panggang dari api. Pun niatan menyejahterakan masyarakat menjadi jalan di tempat. Semuanya itu berujung pada kesenjangan sosial dan kebingungan sosial yang semakin melingkar-lingkar tidak ketahuan awal maupun pangkalnya.

Dampak turunannya, masyarakat dibiarkan lapar perutnya dan dahaga pikirannya. Dalam perspektif budaya visual, lapar perutnya terjadi karena secara ekonomi mereka tidak berdaya. Bagi mereka makan kenyang adalah sebuah kemustahilan. Ketika lapar perut tidak pernah terselesaikan. Maka secara psikologis, emosi sang lapar pun selalu tercatat pendulumnya bergoyang naik turun.

Ketika ketahanan perut dalam kondisi labil. Kemudian muncul lontaran kata dalam bentuk status dan komentar yang dituliskan di linimasa medsos. Ditambah unggahan itu menggendong makna ujaran yang menyinggung sanubari warganet, saat itulah kerusuhan sosial meledak.

Dr. Sumbo Tinarbuko
Pemerhati Budaya Visual dan Dosen Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta. 
Artikel ini dimuat di kolom Opini Harjo, Harian Jogja, 19 Agustus 2020.
sumber : https://sumbo.wordpress.com/2020/08/19/opini-harjo-semiotika-kuliner-agraris-klepon/, akses tgl 13/09/2020.

Share To:

PERSAGI Bandung

Post A Comment:

0 comments so far,add yours