Manis bagaikan madu, sobat sains pasti pernah mendengarkan hal itu, entah dari lagu ataupun kisah-kisah yang ditulis di dalam buku ataupun disiarkan di televisi. Percaya tidak percaya, madu memegang peranan yang penting di dalam sejarah manusia. Lidah manusia yang terkenal menyukai rasa manis telah mencicip madu paling sedikit sejak 8000 tahun yang lalu [1,2].


Madu yang biasa kita konsumsi adalah makanan manis kental yang umumnya dihasilkan oleh lebah madu (serangga dalam genus Apis). Makanan ini tidak hanya mengandung gula, tapi juga enzim, asam amino, asam organik, karotenoid, vitamin, mineral, dan senyawa aromatik [2,3].

Madu dari lebah madu dibuat dari nektar yang dikumpulkan oleh para lebah madu pekerja. Lebah madu pekerja adalah lebah madu yang bertugas untuk mengumpulkan makanan bagi ratu lebah dan anak-anaknya. Pada saat mencari nektar, lebah pekerja mengunjungi bunga satu persatu, menelan cairan nektar, dan menyimpannya di dalam perut madunya. Proses kimiawi pertama dalam pembuatan madu terjadi pada tahap ini dimana sukrosa dan gula-gula lainnya yang ada di dalam nektar dipecah menjadi senyawa yang lebih sederhana dengan senyawa enzim yang ada di dalam air liur lebah [3,4]. Sekembalinya ke sarang, lebah madu pekerja memuntahkan cairan ini ke dalam sumur madu tentunya sesudah memakan sedikit sebagai upahnya bekerja. Cairan nektar yang telah dimuntahkan ini kemudian “dimasak” oleh lebah pekerja lain.



Lebah pekerja memasak madu dengan cara yang cukup unik [3, 5]. Mereka menggantung cairan nektar di mulutnya dan mengipas-ngipasnya dengan menggerakkan rahangnya naik-turun sebelum kemudian menggantung cairan nektar di dinding sumur untuk mengeringkannya sebelum mencampurkannya kembali di dalam sumur sebagai cadangan makanan bagi bayi-bayi lebah yang baru [6]. Penguapan juga masih terjadi pada saat nektar yang sudah dimasak ini dicampurkan kembali dengan nektar lain yang sudah menunggu di dasar sumur. Proses ini tentunya menguapkan banyak air, mengentalkan madu, dan memekatkan gula. Akibatnya madu terasa lebih manis dari nektar dalam volume yang sama. Di saat yang bersamaan, reaksi kimia yang terjadi di dalam perut lebah pekerja sebelumnya masih terus terjadi diikuti dengan berbagai reaksi lain yang memberikan madu rasa, aroma, dan manfaat lainnya.

Selain lebah madu, ternyata beberapa serangga lain yang berkerabat dekat dengan lebah madu juga memproduksi madu atau makanan mirip madu. Lebah tidak bersengat (lebah meliponin)[2], tawon kumbang (bumble bee)[7], dan semut potmadu (honeypot)[8] menghasilkan makanan manis dengan karakternya masing-masing. Semut potmadu contohnya, tidak memiliki ruangan khusus untuk menyimpan madu melainkan langsung menyimpannya di perutnya.


Referensi

  1. Roffet-Salque M., et al. Widespread exploitation of the honeybee by early Neolithic farmers. Nature. 2015 Nov 12;527(7577):226-30. doi: 10.1038/nature15757
  2. Crittenden A.N. The Importance of Honey Consumption in Human Evolution. Food and Foodways, 19:257–273, 2011
  3. da Silva, P.M., Gauche, C., Gonzaga, L.V., Oliveira Costa, A.C., Fett, R.. Honey: Chemical composition, stability and authenticity. Food Chemistry (2015), doi: http://dx.doi.org/10.1016/j.foodchem. 2015.09.051
  4. Naef, Regula, et al. “From the Linden Flower to Linden Honey – Volatile Constituents of Linden Nectar, the Extract of Bee-Stomach and Ripe Honey.” Chemistry & Biodiversity, vol. 1, no. 12, 2004, pp. 1870–1879., doi:10.1002/cbdv.200490143.
  5. Eyer M, Neumann P, Dietemann V (2016) A Look into the Cell: Honey Storage in Honey Bees, Apis mellifera. PLoS ONE 11(8): e0161059. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0161059
  6. Park W. The Storing and Ripening of Honey by Honeybees. Journal of Economic Entomology, Volume 18, Issue 2, 1 April 1925, Pages 405–410
  7. Dornhaus A. & Chittka L. Bumble bees (Bombus terrestris) store both food and information in honeypots. Behavioral Ecology, Volume 16, Issue 3, 1 May 2005, Pages 661–666, https://doi.org/10.1093/beheco/ari040
  8. McCook, Henry C. “The Honey Ants of the Garden of the Gods.” Proceedings of the Academy of Natural Sciences of Philadelphia, vol. 33, 1881, pp. 17–77. JSTOR, JSTOR, www.jstor.org/stable/4060516.

Published by  Marcelinus Rocky Hatorangan
adalah seorang peneliti di bidang biologi molekuler dan bioinformatika, dengan spesialisasi khusus analisis epigenetika tanaman. Ia memperoleh gelar PhD-nya dari Universitas Sains Pertanian Swedia (Swedish University of Agricultural Sciences). Di waktu luang ia menyunting Wikipedia dan punya hobi di bidang musik dan elektronika. Profil lengkapnya dapat dilihat disini: https://se.linkedin.com/in/marcelinusrocky
sumber : https://sainspop.com/blog/2018/08/31/bagaimana-lebah-membuat-madu/, akses tgl 21/10/2020.

Share To:

PERSAGI Bandung

Post A Comment:

0 comments so far,add yours