Odading awalnya tak bernama. Mendapatkan namanya dari seorang nyonya Belanda: o, dat ding.


“Ikan hiu makan tomat” menjadi trending topic. Susualan atau pantun itu diucapkan oleh seorang lelaki, mungkin penjualnya, dalam video yang viral di twitter. Ia me-review kue odading Mang Oleh di kawasan Bandung. Berikut ini review-nya.

Odading Mang Oleh, hmmm…, rasanya seperti Anda menjadi Iron Man. Belilah odading Mang Oleh didieu (di sini) karena lamun teu ngadahar (kalau tidak makan) odading Mang Oleh, maneh teu gaul jeung aing (kamu tidak gaul dengan saya), lain balad aing (bukan kawan saya), g*b**g. Ikan hiu makan tomat, g*b**g mun teu kadieu (g*b**g kalau tidak ke sini). Odading Mang Oleh, rasanya, a*j**g banget.

Selain menjual odading, Mang Oleh yang bernama lengkap Pak Soleh, juga menjual cakwe. Liputan ayobandung.com menyebut bahwa Pak Soleh telah berjualan odading dan cakwe selama 20 tahun.

Dari namanya bisa ditebak, cakwe adalah makanan orang Tionghoa. Ia salah satu dari banyak makanan yang dibawa para imigran dari Tiongkok dan diperkenalkan di Nusantara.

"Gelombang imigrasi dari Tiongkok ke Nusantara berkali-kali. Mereka membawa makanannya kemudian berkembang. Kalau ditelisik dari sisi linguistik, [nama makanan-makanan Tionghoa] yang kita kenal hari ini adalah murni serapan dialek Hokkian," kata Aji Chen Bromokusumo, penulis buku Peranakan Tionghoa dalam Kuliner Indonesia, dalam dialog sejarah di Historia.id, Februari 2019.

Salah satunya cakwe, dialek Hokkian yang artinya "hantu atau setan digoreng".

Menurut Nick Molodysky dalam Kuliner Khas Tionghoa di Indonesia, cakwe artinya "setan goreng". Cakwe adalah sejenis donat asin dari Tiongkok, yang hingga kini menjadi sarapan umum di Tiongkok Selatan. Cakwe merupakan makanan yang mudah dijumpai di Indonesia.

"Paling sering kita bisa menemukan makanan yang satu ini di penjual bubur, kembang tahu, atau tau suan. Teksturnya sangat garing, cakwe paling nikmat disantap dengan hidangan yang berkuah," tulis Nick.

Arti "hantu atau setan digoreng" ada ceritanya. Makanan ini diciptakan seorang pedagang di Tiongkok untuk melampiaskan kemarahan rakyat kepada Perdana Menteri Qin Hui dan istrinya yang memfitnah Yue Fei, jenderal terkemuka Dinasti Song. Fitnah itu membuat Yue Fei dihukum mati.

Pedagang itu membuat adonan tepung berbentuk seperti manusia yang saling memunggungi. Ketika digoreng, adonan itu muncul ke permukaan. Pedagang itu menjualnya dengan meneriakkan: "dijual Hui goreng!" Hui mengacu pada Qin Hui.

Bila cakwe dari orang Tionghoa, ternyata nama odading dari orang Belanda.

Remy Sylado, sastrawan dan ahli bahasa, mengungkap asal-usul nama odading dalam bukunya, 9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia Adalah Asing dan Bahasa Menunjukkan Bangsa.

Suatu hari, sebut Remy, seorang sinyo (sebutan anak kecil) Belanda merengek kepada maminya minta dibelikan kue yang dijajakan oleh seorang anak kampung.

"Mammie, koop dat voor mij (Mami, belikan itu untukku)," kata sinyo itu.

Kue itu tidak bernama karena hanya terdiri dari adonan terigu dan gula pasir yang digoreng. Sang nyonya pun penasaran lantas memanggil ujang penjual kue itu. Ia menyuruhnya membuka daun pisang yang menutupi kue di atas nyiru.

Begitu melihat terigu goreng itu, sang nyonya berkata kepada anaknya, "O, dat ding?" Artinya "O, barang itu?"

Kue itu akhirnya memiliki nama: odading.

"Si ujang kembali ke kampung, mengatakan kepada emaknya bahwa ternyata kue itu bernama odading," kata Remy. "Hingga kini orang di Bandung menyebut adonan terigu goreng itu odading."

Bagaimana, penasaran dengan odading Mang Oleh yang rasanya seperti menjadi Iron Man? Kalau lagi ke Bandung, cobalah.

Oleh Hendri F. Isnaeni
sumber : https://historia.id/kultur/articles/odading-rasairon-man-P0K1W, akses tgl 27/10/2020.

Share To:

PERSAGI Bandung

Post A Comment:

0 comments so far,add yours