Semasa kecil saya pernah diberi tebak-tebakan begini: apa perbedaan kerupuk dengan upil? Setelah lama terdiam tidak bisa menjawab, teman saya si usil akhirnya menjelaskan jika kerupuk letaknya di atas meja, sedangkan upil di bawah meja. Saya geli mendengarnya, tapi membenarkan dalam hati.


Si usil bertanya kembali: lalu apa pula persamaannya? Karena terlalu lama menjawab, ia kembali menjelaskan jika persamaan kerupuk dan upil adalah menyatunya dua istilah itu menjadi "kerupuk upil". Pertanyaan dan jawabannya sebenarnya agak jorok dan terkesan njijik-in. Kini kerupuk upil bukan hanya istilah. Keberadaannya ada di tengah-tengah masyarakat kita. Bahkan kini telah menjadi salah satu ikon cemilan kering yang disukai brayat desa atau masyarakat pinggiran, bahkan mulai disukai masyarakat kota.

Siapa tak kenal kerupuk upil? 

Jika kita sedang jalan-jalan ke Cirebon, pasti pernah melihat kerupuk warna-warni yang bergantungan di sepanjang toko oleh-oleh. Atau saat perjalanan pulang ketika melewati jalur Pantai Utara (Pantura). Makanan murah meriah ini memang mulai digemari banyak orang. Kerupuk yang dimaksud ini cukup unik, yaitu kerupuk upil atau kerupuk goreng pasir.

Kerupuk yang juga dikenal sebagai "kerupuk melarat" ini diproduksi dari desa-desa atau kecamatan dari berbagai daerah di Cirebon. Kerupuk ini terbuat dari tepung tapioka, garam, dan bawang putih, serta memiliki rasa gurih dan sangat renyah. Krupuk ndeso ini memang cukup digemari oleh masyarakat.

Kenapa namanya kerupuk pasir? 

Sebenarnya nama asli kerupuk tersebut bukanlah kerupuk upil atau kerupuk pasir atau kerupuk melarat, melainkan Kerupuk Mares. Nama Mares itu sendiri konon sudah diberikan pembuat kerupuk pada tahun 1920-an. Arti kata mares diambil dari lemah, berarti tanah atau pasir kasar. Seiring berjalannya waktu, nama kerupuk mares mulai berubah menjadi kerupuk melarat sekitar 1980 dan tetap dikenal dengan nama yang sama sampai sekarang.

Penamaan kerupuk pasir ini dikarenakan dari proses yang sangat merakyat yaitu dengan menggunakan pasir yang telah diayak atau telah disangrai. Pasir itu digunakan sebagai bahan pengganti minyak dalam proses penggorengan kerupuk. Hal ini terjadi karena pada zaman penjajahan banyak masyarakat Cirebon yang tak mampu untuk membeli minyak goreng sehingga mereka berinisiatif mencoba menggantikan minyak dengan pasir yang bahannya sangat mudah ditemukan. Tak hanya itu, keunikan kerupuk pasir ini terletak pada warna kerupuk yang memiliki ciri khas tersendiri.

Siapa sangka, kerupuk melarat atau kerupuk pasir alias kerupuk upil yang didominasi warna merah muda, kuning, dan putih ini mulai tenar. Ia memiliki penggemar yang cukup melimpah dan mendapatkan tempat di hati sebagian warga Cirebon maupun pendatang yang tengah berwisata.

Apa kelebihan kerupuk ini dibanding kerupuk lainnya? 

Kelebihannya adalah rendah kolesterol dan lebih hemat dalam menekan biaya produksi. Bahkan, risiko untuk melempem dapat ditekan karena dapat didaur ulang. Varian rasanya juga bernacam-macam. Meskipun ciri khas rasanya asin, ada yang membedakan antara kerupuk melarat dan kerupuk upil, yaitu warna, bentuk, dan ukuran.

Kerupuk melarat warnanya lebih ngejreng, biasanya berwarna merah, kuning, hijau, dan ada juga putih polos dan ukuran kerupuknya agak besar kotak persegi panjang. Sedangkan kerupuk upil tidak menggunakan pewarna, jadi putih polos saja, bentuknya bulat kecil imut.

Pamor kerupuk ini kini kian meroket. Ia sudah punya tempat di lidah penggemar. Dari awal hanya dijual di warung-warung kecil, kini sudah merambah ke supermarket besar. Cita rasa kerupuk pun makin beragam, dari rasa asin, manis, pedas, hingga rasa bawang. Bahkan, ada yang menambahkan sambal petis untuk cocolan. Dari ragam asalnya, kerupuk melarat/upil/pasir juga sudah menyebar ke daerah lain.

Di Kendal, misalnya, kerupuk pasir lebih dikenal kerupuk useg. Karena cara menggorengnya tidak menggunakan minyak goreng, melainkan pasir halus (wedhi) dengan di-useg-useg. Di daerah lainnya, karena dimasak dengan pasir layaknya orang berwudhu tayamum maka disebut kerupuk tayamum.

Apa bahan bakunya? 

Bahan baku kerupuk pasir adalah tepung tapioka, garam, terasi, penyedap rasa, dan pewarna makanan, serta ketumbar dan bawang putih. Kerupuk melarat ini kebanyakan hasil produksi rumahan dan kini sentra usaha kerupuk melarat banyak ditemui di daerah lainnya.

Tidak semua jenis pasir bisa digunakan untuk menggoreng kerupuk melarat. Pasir yang digunakan untuk menggoreng kerupuk melarat ini adalah jenis pasir gunung, pasirnya berwarna hitam. Sebelum digunakan untuk menggoreng kerupuk, pasir ini terlebih dulu diayak/saring karena untuk menggoreng dibutuhkan pasir yang bersih dan halus. Setelah itu pasir ini dijemur agar kering dan memiliki kualitas bagus dalam proses penggorengan kerupuk.

Di masyarakat ekonomi pinggiran, misalnya saja Desa Jambangan, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, yang mayoritas warganya bekerja sebagai buruh tani dan buruh pabrik. Kini warga desa ini tidak hanya menjalani hari dengan menjadi buruh, tetapi sudah bisa menciptakan lapangan kerja sendiri, bahkan menjelma menjadi sentra penggorengan kerupuk pasir. Bukan hanya menciptakan lapangan kerja saja, tetapi melakukan inovasi kerja.

Dari semula menggoreng kerupuk pasir menggunakan kuali besar (kemaron) yang diletakkan di atas tungku. Kini aktivitas goreng-menggoreng kerupuk dilakukan drum bekas yang dimodifikasi atas bantuan tukang las. Bentuknya, di sebelah kanan drum ditambahi semacam gagang yang memungkinkan drum bisa diputar di atas tungku dengan menggunakan tangan. Drum tinggal diisi pasir kemudian diputar gagangnya sehingga proses penggorengan bisa lebih cepat.

Cara baru ini dianggap lebih prospektif karena hasil produksi kerupuk pasir dalam sehari jauh lebih banyak. Karena inovasinya ini, aparat desa setempat membuat papan nama Desa Jambangan dengan di bawahnya bertuliskan Sentra Penggorengan Kerupuk Pasir.

Beberapa hal yang dapat dipetik dari kerupuk unik ini

  1. Meski punya keunggulan, kerupuk upil ini ada juga kontroversinya. Terutama mengenai jenis pewarna yang dipakai untuk memberi tampilan fisik yang ngejreng dan warna-warni. Selain itu, soal kandungan logam berat dari pasir yang dikhawatirkan akan menempel pada kerupuk;
  2. Keberadaan sentra sentra kerupuk pasir di beberapa daerah akan menggeliatkan ekonomi dari daerah pinggiran;
  3. Melihat pangsanya yang masih besar perlu terobosan pemasaran yang lebih masif ke kota melalui mall-mall, pusat oleh-oleh, Alfa Mart, Indomaret, dan tempat tempat wisata-wisata di daerah pinggiran;
  4. Melihat tampilannya yang masih sangat sederhana, perlu kemasan yang lebih menjual dan eye catching;
  5. Perlu segera pendaftaran ke Dirjen POM, Depkes, untuk legalisasi produknya dan jaminan keamanan makanannya itu sendiri;
  6. Agar lebih dikenal masyarakat secara luas, promosi keberadaan krupuk pasir dapat dilakukan dengan beberapa cara. Salah satunya dengan informasi melalui Germas dengan lebih mengedepankan aspek kesehatan dan kelebihannya yang layak dikonsumsi sebagai cemilan sehat dan antikolesterol.

Penulis: Dwi Mukti Wibowo, Pemprakarsa Gerakan Save Our Sea
Editor: Cahyo Prayogo
sumber : https://www.wartaekonomi.co.id/read194019/kerupuk-melarat-kerupuk-asin-tak-identik-dengan-miskin, akses tgl 09/11/2020.

Share To:

PERSAGI Bandung

Post A Comment:

0 comments so far,add yours