Konsumsi pangan yang tidak sehat atau tidak aman timbulkan efek samping, seperti keracunan pangan yang sebabkan berbagai penyakit seperti diare, lambung, bahkan hepatitis A. Gangguan kesehatan terjadi akibat terabaikannya berbagai faktor keamanan pangan, salah satunya kontaminasi silang bahan pangan dengan bahan lainnya yang berbahaya. 


Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Tjandra Yoga Aditama, memaparkan keamanan pangan berkaitan dengan empat faktor. Yakni tempat pengelolaan makanan yang tidak memenuhi syarat higiene dan sanitasi; peralatan yang digunakan tidak aman untuk kesehatan dan tidak higienis; bahan pangan tidak aman menggunakan bahan berbahaya; pengolah makanan yang tidak menerapkan Perilaku Hidup Bersih Sehat. 

"Semua hal ini perlu mendapatkan perhatian. Jika salah satu terkontaminasi, hasil akhirnya tidak bagus," ungkapnya saat jumpa pers kegiatan seminar Chefmanship Academy di Jakarta, Rabu (11/12/2013). 

Menurut Tjandra, pada kasus keracunan pangan berskala besar atau Kejadian Luar Biasa (KLB), paling sering ditemukan di rumah tangga. Baik masakan pribadi maupun pengolahan makanan untuk hajatan. "Kami sering menerima laporan dari daerah mengenai keracunan makanan di hajatan," ungkapnya. 

Gangguan kesehatan akibat keracunan makanan sebagai efek samping keamanan pangan bisa menimbulkan kematian. Namun menurut Tjandra, angka kematian dari KLB keracunan pangan masih terbilang kecil, sekitar 0,1 - 2 persen atau dari 300 kejadian, satu orang meninggal. Data KLB 2011-2012 menunjukkan, keracunan pangan paling banyak terjadi di rumah tangga, jasa boga seperti katering hajatan dalam jumlah besar, jajanan sekolah. 

Kontaminasi silang pada bahan pangan juga menjadi perhatian Pusat Informasi Obat dan Makanan (BPOM) dalam menjalankan inisiatif inspeksi makanan menyasar berbagai operator pangan. 

"Dalam inspeksi makanan ada dua hal yang perlu dilihat. Makanan dan karakteristiknya, apakah mudah rusak atau tidak dan bagaimana pengolahan, penyajian serta penyimpanannya. Juga kontaminasi silang dari bahan tidak aman, dari lingkungan, manusia, juga peralatan dalam mengolah makanan," terang Kepala BPOM Roy Sparingga. 

Sementara berdasarkan penelurusan Unilever Food Solutions, kontaminasi silang pada bahan pangan bisa terjadi karena berbagai kondisi. Seperti penyimpanan alat masak yang berdekatan dengan tempat sampah misalnya. Atau tidak memisahkan bahan pangan mentah dari pangan matang. Penggunaan alat masak yang tidak sesuai seperti alat masak berbahan plastik (tidak sesuai peruntukkan) yang berisiko menimbulkan perpindahan bahan kimia dari plastik ke bahan pangan. 

Selain di rumah tangga, kontaminasi silang juga perlu diwaspadai di tempat makan yang belum menjalani standar keamanan pangan, umumnya banyak ditemui di rumah makan bertaraf sederhana.


Penulis : Wardah Fajri
sumber : https://health.kompas.com/read/2013/12/12/0939508/Waspadai.Kontaminasi.Silang.Bahan.Pangan, akses tgl 30/10/2020.

Share To:

PERSAGI Bandung

Post A Comment:

0 comments so far,add yours