Diet Flexitarian, Tehnik Pangkas Lemak Tanpa Pantangan Makan

 Pandemi COVID-19 memberi banyak perubahan dari berbagai sisi kehidupan, termasuk pola makan yang tak menentu. Hal ini disebabkan banyaknya aktivitas di rumah sehingga membuat orang lebih sering mengonsumsi makanan tak sehat dan minim gerak.


Diakui CEO dan Presiden Direktur Re.juve, Richard Anthony, mulai banyak riset yang mengaitkan data kenaikan berat badan signifikan pada masyarakat akibat berkurangnya aktivitas luar ruang, meningkatnya level stres, dan pola makan kurang terjaga selama masa pandemi. Padahal, ketiga faktor itu menjadi sangat penting dalam menjaga imunitas tubuh di tengah wabah yang masih melanda.

Di sisi lain, tren metoda pola makan sehat terus berkembang dan semakin banyak pilihannya. Meski tidak tergolong baru, metode flexitarian justru belum sepopuler metode pola makan sehat lainnya di Indonesia. Padahal, metode yang berfokus pada peningkatan konsumsi buah dan sayur tanpa betul-betul menghilangkan konsumsi protein hewani, karbohidrat, dan nutrisi tambahan lainnya ini dinilai cukup ideal dalam kondisi pandemi seperti saat ini, untuk menjaga daya tahan tubuh.

“Melahap karbohidrat dan protein saja dapat mengakibatkan risiko avitaminosis atau kekurangan gizi yang tinggi. Padahal, tubuh kita juga memerlukan berbagai kandungan vitamin dan mineral yang hanya bisa didapat dari sayur dan buah untuk menjaga fungsi organ dan daya tahan tubuh. Oleh karenanya, perpaduan seimbang antara konsumsi protein hewani namun dengan porsi yang dikurangi, serta meningkatkan konsumsi buah dan sayur seperti pada metode flexitarian, kami nilai sebagai pola konsumsi yang paling ideal,” ujar Richard, dikutip dari acara virtual Re.Juve, beberapa waktu lalu.

Senada, Konsultan Gizi, Dr. Rita Ramayulis DCN, M.Kes, selaku konsultan gizi, turut menegaskan agar masyarakat harus lebih cermat dalam memilih pola makan yang lebih sehat namun fleksibel. Tujuannya, agar masyarakat dapat mendapatkan manfaat terbaik dari jenis pola makan yang dipilih tanpa khawatir kekurangan nutrisi dan energi.

“Sebanyak 93,6 persen masyarakat Indonesia belum mengonsumsi sayur dan buah setiap harinya dalam porsi yang cukup untuk tubuh. Di sini, metode flexitarian bisa menjadi pilihan yang tergolong cukup mudah untuk diadopsi oleh orang-orang yang baru memulai menerapkan gaya hidup sehat dan berkelanjutan," tutur Rita.

Muncul metode flextarian ini berdasarkan diet vegetarian namun fleksibel. Artinya, penggunaan daging merah atau ikan boleh dikonsumsi secara fleksibel tapi tidak masuk lima kebutuhan paling utama di metode ini yakni sayur, buah, kacang, susu, dan gandum utuh.

"Karena dengan cara itu, serat yang kurang serta kalium bisa terpenuhi. Bebas hitungannya berapa kali seminggu untuk konsumsi protein hewani. Pada dasarnya, perlahan dikurangi, sampai tujuannya tercapai yaitu sayur dan buah enggak boleh kurang dari 4 porsi karena kalau tiba-tiba pantang makan sesuatu, akan ada respons genetik tubuh dari apa yang telah biasa kita makan," kata.

Oleh : Rochimawati, Diza Liane Sahputri
sumber : https://www.viva.co.id/gaya-hidup/kesehatan-intim/1328316-diet-flexitarian-tehnik-pangkas-lemak-tanpa-pantangan-makan, akses tgl 10/12/2020.

Posting Komentar

[blogger]

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget