Suka Makan Tanah, Kapur, atau Puntung Rokok? Anda Mengidap Pica

 Makan adalah cara untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dari berbagai bahan makanan yang sudah pasti dapat dicerna oleh tubuh. Namun apa yang terjadi jika kita dengan sengaja mengonsumsi sesuatu yang sebenarnya bukan untuk dimakan? Hal ini dikenal dengan istilah pica.


Apa itu pica?

Pica adalah gangguan makan yang ditandai dengan perilaku makan yang tidak wajar, yaitu keinginan memakan suatu benda yang sebenarnya tidak untuk dimakan. Ini tentu saja berdampak langsung terhadap kesehatan. Biasanya, pica yang paling umum terjadi adalah keinginan untuk memakan salah satu benda berikut ini:

  • Tanah
  • Kapur
  • Korek api
  • Serat kain
  • Kertas
  • Pasta gigi
  • Puntung rokok dan abu rokok
  • Serpihan cat
  • Lem

Penderita pica juga memiliki kebiasaan tidak wajar mengonsumsi bahan makanan yang tidak lazim dimakan secara langsung, seperti tepung terigu, kentang yang belum dimasak, dan es batu.

Penyebab pica pada anak-anak

Pada beberapa orang, pica terjadi karena mereka ingin merasakan suatu tekstur makanan atau benda di mulut mereka. Selain itu, pica juga dapat disebabkan defisiensi vitamin dan mineral zinc. Durasi seseorang mengalami pica dapat bervariasi, namun seseorang dikatakan mengalami pica jika sudah memiliki kebiasaan makan abnormal lebih dari satu bulan.

Pada anak-anak, pica dapat disebabkan karena kurangnya perhatian orangtua terhadap kebiasaan anaknya. Kondisi keluarga yang kurang harmonis dapat memicu perkembangan perilaku abnormal, salah satunya pica. Pada awalnya, hal ini dapat disebabkan ketidaktahuan anak saat memakan benda yang tidak seharusnya dimakan, namun juga bisa terjadi setelah anak dilarang untuk melakukannya. Jika perilaku ini cenderung konsisten pada anak dalam waktu yang lama, kemungkinan hal ini adalah pertanda gangguan perkembangan seperti retardasi mental, autis, dan gangguan pada otak.

Apakah pica dapat terjadi pada orang dewasa?

Pada orang dewasa, pica dapat dipicu oleh gangguan kesehatan mental seperti obsessive-compulsive disorder (OCD) dan skizofrenia. Berbeda dengan pica pada anak-anak sehat, penderita gangguan mental dapat mengalami pica yang cenderung menetap dari masa anak-anak.

Kelompok wanita hamil juga memiliki kemungkinan mengalami pica, dan hal ini muncul sebagai keinginan untuk memakan sesuatu (ngidam) meskipun ia tidak memahami betul keinginannya. Pica saat hamil tidak terlalu umum terjadi dan tidak diketahui pasti hal yang memicu terjadi pica. Namun beberapa hal seperti kekurangan nutrisi saat hamil atau pernah mengalami pica sebelumnya saat masa anak-anak dapat meningkatkan risiko terjadinya pica. Perilaku makan abnormal tidak hanya berbahaya bagi ibu hamil namun juga pada bayi yang dikandungnya.

Apa efeknya jika pica tidak disembuhkan?

Pica biasanya baru terdiagnosis saat penderita mengalami berbagai gangguan kesehatan yang disebabkan kebiasaan makan abnormal. Berikut beberapa dampak kesehatan yang mungkin dialami penderita pica:

  • Infeksi saluran pencernaan – berbagai kuman penyakit sangat mungkin masuk melalui mulut dari permukaan benda yang tidak higienis dan menyebabkan infeksi tenggorokan hingga saluran usus.
  • Cedera pada gigi dan mulut – benda kasar dan keras yang dimasukkan ke dalam mulut dapat melukai permukaan mulut dan memicu kerusakan gigi.
  • Bezoar – merupakan penumpukan materi berserat seperti plastik dan kain pada lambung, sehingga menimbulkan beberapa dampak seperti sakit perut, mual, diare dan ulserasi lambung.
  • Penyumbatan usus – atau dikenal dengan istilah obstruksi usus karena adanya sumbatan pada salah satu bagian usus, ditandai dengan perubahan fisik seperti pembengkakan sekitar perut, serta gejala kram perut dan sembelit.
  • Keracunan timbal – timbal merupakan racun yang kuat dan dapat tersimpan di dalam tubuh. Penderita pica dapat terpapar timbal dari kontaminasi cat rumah dan debu timbal yang menempel pada permukaan benda. Dampak keracunan di antaranya sakit kepala, anemia, sembelit, kram perut, dan gangguan perilaku. Hal ini perlu ditangani segera untuk menghindari kejang dan koma.
  • Malnutrisi – dapat terjadi saat penderita pica hanya mengosumsi benda yang tidak wajar atau mengalami gangguan penyerapan nutrisi sebagai dampak perilaku makan abnormal.
  • Gangguan pada bayi – sangat mungkin dialami oleh ibu hamil yang mengalami pica, beberapa gangguan di antaranya berat lahir rendah, bayi prematur, perkembangan mental dan fisik yang abnormal. Pica pada ibu hamil juga dapat meracuni bayi hingga menyebabkan kematian.

Apa yang harus dilakukan untuk menangani pica?

Hal utama yang dapat dilakukan jika Anda atau orang terdekat dicurigai mengalami pica adalah segera hubungi dokter untuk penanganan dini dampak dari pica dan terapi perilaku. Di samping pengobatan, pengawasan dan meminimalisir akses penderita pica terhadap benda asing yang dapat dimakan juga tetap perlu dilakukan hingga pengidap pica benar-benar dapat mengontrol perilaku makannya,

Pada masa anak-anak, sebagian besar pola makan abnormal dapat hilang dengan sendirinya. Namun, hal ini berbeda pada orang dewasa dan pengidap gangguan mental. Kasus pica pada orang dewasa lebih mungkin tidak terdeteksi dibandingkan pada anak-anak karena perilaku makan dapat dilakukan tanpa pengawasan atau secara diam-diam. Sedangkan terapi kejiwaan adalah hal penting untuk mengatasi pica pada pengidap masalah kejiwaan.

By Kemal Al Fajar
Medically reviewed by dr. Andreas Wilson Setiawan
Sumber: https://hellosehat.com/mental/gangguan-makan/apa-itu-pica-senang-makan-aneh-puntung-rokok/, akses tgl 15/12/2020.

Posting Komentar

[blogger]

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget