Ibu yang sedang mengandung mungkin akan mulai merasakan aktivitas bayi seperti menendang atau bergerak saat usia kehamilan antara 16-22 minggu. 


Namun, apakah pernah terpikir saat berada dalam kandungan bayi menangis atau tidak? 

Penelitian menunjukkan bahwa bayi tampaknya mulai berlatih mengembangkan kemampuan untuk menangis sebelum mereka menghirup udara pertamanya di dunia.

Mengutip Science Alert, Selasa (23/11/2021), teknologi ultrasound inilah yang memungkinkan kita untuk mengintip ke dalam rahim dan mengamati janin saat mereka masih berkembang. 

Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Archives of Disease in Childhood – Fetal and Neonatal Edition pada tahun 2005 menunjukkan, saat dilakukan pemindaian ultrasound janin berusia 33 minggu membuat ekspresi wajah yang terlihat seperti menangis. 

Itu terjadi setelah peneliti memberi janin getaran dan stimulasi kebisingan. Bayi kemudian membuka rahangnya lebar-lebar, melipat dagunya, dan mengeluarkan tiga embusan napas berturut-turut saat dadanya naik dan kepalanya dimiringkan ke belakang. Lalu diakhiri dengan dagu bergetar.

Gerakan ini terlihat pada 10 janin atau sekitar 6 persen dari total jumlah bayi yang dipindai. 

Jadi, apakah janin ini menangis di dalam kandungan? 

Itu tergantung pada bagaimana Anda mendefinisikan menangis. 

"Jika Anda menggunakan definisi teriakan keras atau jeritan yang mengekspresikan perasaan atau emosi yang kuat, maka Anda dapat mengatakan dengan pasti bahwa bayi tak menangis di dalam rahim," kata Nadja Reissland, psikolog perkembangan di Durham University, Inggris. 

Reissland bersama timnya pun melakukan kembali penelitian perkembangan ekspresi wajah dalam janin, dengan mengamati pergerakan bayi pada trimester kedua dan ketiga melalui pencitraan ultrasound 4D. 

Peneliti menemukan, ekspresi wajah hendak menangis (cry-face-gestalt) yang sebelumnya didefinisikan Reissland dan rekannya dalam sebuah makalah yang diterbitkan dalam jurnal PLOS One tahun 2011 merupakan ekspresi awal wajah yang digunakan saat mereka lahir. 

Ekspresi wajah awal ini berkembang sekitar 24 hingga 35 minggu dan kompleksitasnya meningkat seiring dengan usia kehamilan. 

Hal tersebut membuat peneliti berpendapat jika janin tampaknya sudah berlatih gerakan wajah menangis sebelum lahir. Ini mempersiapkannya untuk berfungsi ketika mereka menarik napas pertama dan menangis saat lahir. 

Meski begitu, peneliti tak mengetahui apakah ekspresi menangis ini terkait dengan rasa sakit atau ketidaknyamanan pada janin. Sebab, dalam penelitian Reissland, janin menunjukkan ekspresi wajah itu tanpa rangsangan apa pun.

Selain itu, di dalam kantung ketuban yang berisi cairan, janin tak dapat menarik napas panjang, mengisi paru-paru mereka dan menggetarkan udara melalui pita suara untuk mulai menangis. 

Reissland sendiri mempelajari ekspresi wajah ini untuk membantu para peneliti mengembangkan alat yang berguna untuk mengidentifikasi gangguan perkembangan dan masalah kesehatan lainnya di dalam rahim. 

Janin dengan masalah perkembangan atau kesehatan mungkin tak menunjukkan ekspresi wajah ini. 

Lebih lanjut, Reissland menambahkan, perkembangan ekspresi wajah yang sepenuhnya kemudian dipelajari bayi setelah lahir. Misalnya saja bayi baru mulai tersenyum 'secara sosial' setelah sekitar delapan minggu, sedangkan tawa bayi baru muncul sekitar empat hingga enam bulan. 

Janin juga tak mengeluarkan air mata. Menangis dengan air mata baru dialami bayi sekitar empat minggu setelah kelahiran, setelah saluran air mata bayi cukup matang untuk membentuk tetesan air mata.


Penulis : Kontributor Sains, Monika Novena
Editor : Bestari Kumala Dewi
sumber : https://www.kompas.com/sains/read/2021/11/24/110500223/apakah-bayi-menangis-saat-berada-dalam-kandungan?page=all#page2, akses tgl 16/12/2021.

Axact

PERSAGI Bandung

Vestibulum bibendum felis sit amet dolor auctor molestie. In dignissim eget nibh id dapibus. Fusce et suscipit orci. Aliquam sit amet urna lorem. Duis eu imperdiet nunc, non imperdiet libero.

Post A Comment: