Pernahkah kamu makan di restoran yang juga menjual menu babi? Meskipun menu yang kamu pilih halal, tapi bagaimana hukum dalam Islam?


Banyak orang Islam yang merasa khawatir ketika makan di restoran yang menjual menu babi. Walaupun di dalamnya juga tersedia menu halal. Itu karena dikhawatirkan makanan halalnya terkontaminasi dengan daging babi.

Hukum makan daging babi adalah haram dalam ajaran Islam, dan itu sudah jelas. Namun, mengenai hukum makan di restoran yang menjual menu babi itu status hukumnya harus diperinci.

Seperti yang dikutip dari Bincang Syariah (21/08/20) jika makanan di sana bisa dipastikan najis karena yakin bercampur dengan daging babi atau pada saat diolah bercampur dengan daging babi, maka hukumnya haram.

Itu sudah tercatat dalam Al-Qur'an bahwa makanan bercampur daging babi dihukumi najis, sehingga tidak boleh dimakan. Namun, selama itu hanya dugaan saja maka dihukumi suci dan boleh dimakan.

Hal tersebut juga dijelaskan oleh para ulama, bahwa makanan yang awalnya suci dan halal, tapi ada dugaan najis dan terkontaminasi dengan daging babi, makanan tersebut tetap suci dan halal.

Menurut Ibnu Shalah, makanan tetap dihukumi suci hingga tampak najisnya nyata. Sementara jika ada bukti kuat yang menyatakan bahwa makanan itu najis baru itu tidak boleh dimakan karena haram.

Seperti yang disebutkan oleh Syeikh Abu Bakar Syatha dalam kitab I'anatut Thalibin, yang artinya:

"(Kaidah) yaitu setiap makanan yang asalnya suci dan ada dugaan najis karena pada umumnya makanan seperti itu najis, di sini ada dua pendapat yang terkenal dengan mengikuti dua kaidah asal.

Namun yang jelas atau yang menang dari dua pendapat tersebut adalah makanan tadi dihukumi suci. Misalnya seperti baju khimar, baju perempuan haid dan anak-anak, wadah orang-orang musyrik yang biasa menggunakan najis, seperti sekelompok orang majusi yang mandi kencing sapi sebagai bentuk ibadah.

Dalam kitab Al-Mughni disebutkan bahwa Ibnu Shalah pernah ditanya mengenai keju yang diisukan ada minyak babinya. Beliau menjawab; Ia tidak dihukumi najis kecuali sudah tampak nyata kenajisannya,".

Jadi kesimpulannya adalah, makan di restoran yang menjual babi hukumnya tidak boleh jika makanan halalnya sudah dipastikan najis karena bercampur dengan daging babi.

Namun, jika hanya dikhawatirkan saja menurut kebanyakan ulama, makanan tersebut tetap dihukumi suci dan boleh dimakan. Oleh karena itu, sebelum makan pastikan untuk menanyakan kepada pelayan atau pemilik restoran apakah menu halalnya dimasak di wadah yang berbeda atau tidak.


Riska Fitria
sumber : https://food.detik.com/info-kuliner/d-5870680/terungkap-alasan-nabi-muhammad-saw-tak-pernah-sakit-perut-semasa-hidup, akses tgl 26/12/2021.

Axact

PERSAGI Bandung

Vestibulum bibendum felis sit amet dolor auctor molestie. In dignissim eget nibh id dapibus. Fusce et suscipit orci. Aliquam sit amet urna lorem. Duis eu imperdiet nunc, non imperdiet libero.

Post A Comment: