Top News

 Sejak 17 Oktober tahun 2019, regulasi halal di Indonesia telah berganti system. Semula dimonopoli oleh Majelis Ulama Indonesia, kini sertifikasi halal di bawah pengawasan Kementerian Agama melalui Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal atau BPJPH. Badan ini kini yang mempunyai wewenang untuk mengeluarka sertifikat halal.


Dalam Undang Undang Jaminan Produk Halal nomor 33 tahun 2014, komponen sertifikasi halal di Indonesia adalah sebagai berikut:

1. Pelaku usaha

Dalam undang undang Jaminan Produk Halal, pelaku usaha yang menjual produknya ke masyarakat konsumen Indonesia wajib mensertifikasi halal produknya

2. Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal

Sebagai badan baru yang menngambil alih sertifikasi halal di Indonesia, BPJPH mempunyai dua fungsi utama yakni sebagai administrasi dan penerbitan sertifikasi halal.

3.Lembaga Pemeriksa Halal

Lembaga Pemeriksa Halal atau disingkat dengan LPH adalah suatu lembaga yang fungsinya memeriksa atau menganalisa kehalalan produk yang akan disertifikasi halal. Lembaga ini bisa lebih dari satu yang telah lulus uji kompetensi SNI dan KAN.

4.Majelis Ulama Indonesia

Majelis Ulama Indonesia dalam UU JPH no. 33 mempunyai kedudukan sebagai pemberi fatwa halal setelah proses audit halal dilakukan.

5.Kementerian/Lembaga terkait

Kementrian atau lembaga terkait dalam hal ini seperti BPOM dan lainnya, yang bisa menunjang kesempurnaan proses sertifikasi halal di Indonesia.

Bagaimana menurut anda dengan komponen-komponen yang ada dalam regulasi halal baru ini?


Redaksi: HC/AM
sumber : https://halalcorner.id/inilah-komponen-sertifikasi-halal-regulasi-baru/, akses tgl 27/10/2020.

 Akademisi dari Universitas Jenderal Soedirman dr. Yudhi Wibowo, M.PH mengingatkan pentingnya memperkuat peran posyandu guna mendukung program pencegahan kekerdilan atau stunting.


"Giatkan upaya preventif dengan memaksimalkan peran posyandu dalam deteksi dini tumbuh kembang anak," katanya di Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah, Selasa.

Wakil Dekan Bidang Umum dan Keuangan Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman tersebut mengatakan posyandu dapat menjadi wahana pertama dan utama untuk meningkatkan edukasi pencegahan kekerdilan.

"Posyandu bisa menjadi sarana yang tepat untuk menyukseskan program pencegahan stunting dengan mengintensifkan pendekatan kepada masyarakat," katanya.

Dia menambahkan, pemerintah daerah juga perlu meningkatkan sosialisasi mengenai pentingnya memberikan anak gizi seimbang.

"Khususnya anak-anak pada usia emas, perlu diberikan nutrisi yang baik sesuai dengan yang dibutuhkan pada masa pertumbuhan," katanya.

Dia menambahkan, dengan melakukan berbagai upaya pencegahan stunting maka akan dapat mendukung program SDM unggul.

"Tentu ini akan sesuai dengan program prioritas pemerintah yaitu menciptakan SDM unggul," katanya.

Sebelumnya, Dokter Spesialis Anak dr. Agus Fitrianto, Sp.A mengatakan masalah kekerdilan atau stunting dapat menyebabkan perkembangan otak anak menjadi tidak maksimal.

"Stunting adalah indikator kekurangan energi dan protein dalam waktu lama atau malnutrisi kronik," katanya.

Dr. Agus Fitrianto, Sp.A yang praktik di RSUD Prof Dr Margono Soekarjo, Kabupaten Banyumas, mengatakan stunting paling umum terjadi dalam rentang usia 0 hingga 2 tahun.

"Padahal rentang usia tersebut adalah periode penting di mana otak sedang berkembang secara pesat sehingga kalau anak stunting dipastikan perkembangan otaknya juga tidak maksimal. Sehingga anak harus sembuh dari stunting," katanya.

Dia mengatakan dirinya mengapresiasi program pemerintah yang tengah fokus untuk menciptakan SDM unggul.

"Untuk menciptakan SDM unggul dan berdaya saing berarti harus mengatasi masalah stunting atau kekerdilan," katanya.


Pewarta: Wuryanti Puspitasari
sumber : https://www.antaranews.com/berita/1230427/akademisi-perkuat-posyandu-guna-mendukung-pencegahan-stunting, akses tgl 27/10/2020.

 Dalam situasi pandemi covid -19, Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Masyarakat (DP2KBP3APM) Kota Sukabumi berusaha terus menghadirkan pelayanan optimal untuk masyarakat. Salah satunya melalui Bidang Pemberdayaan Masyarakat dengan program Posyandu Mapay Imah (POS Mamah).


Kepala Bidang Pemberdayaan Masyarakat DP2KBP3APM, Drg.Wita, mengatakan bahwa posyandu mapay imah bertujuan menggerakkan peran serta masyarakat khususnya kader posyandu guna meningkatkan kepedulian terhadap masyarakat dilingkungan sekitar terutama di masa pandemi covid – 19. Hal ini sangat penting dilakukan karena untuk meningkatkan kewaspadaan dini terhadap resiko terjadinya kematian ibu dan balita, memeriksa status gizi bayi agar terhindar dari stunting. Serta untuk terus memantau kesehatan balita, ibu hamil termasuk lansia.

Posyandu mapay imah juga merupakan bentuk perlindungan dan pecegahan covid – 19 terhadap kelompok masyarakat rawan yaitu bayi, balita, ibu hamil serta lansia. Para kader posyandu dalam program ini akan melakukan kunjungan ke rumah – rumah untuk memantau kesehatan sasaran posyandu.

Adapun untuk tahapan posyandu mapay imah ini di lakukan beberapa tahapan. Tahap pertama pada masa pandemi covid 19 atau PSBB, semua sasaran posyandu di kunjungi sesuai jadwal. Sedangkan pada masa new normal, kunjungan kader posyandu hanya untuk pasien yang beresiko dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan. Sementara itu, bila pandemi covid – 19 ini sudah selesai maka posyandu akan buka seperti biasa, tetapi Pos Mamah akan tetap berjalan

Tim PeliputDiskominfo
sumber : https://portal.sukabumikota.go.id/13728/pos-mamah-inovasi-layanan-dp2kbp3apm-ditengah-pandemi/, akses tgl 27/10/2020.

 Suara tangisan balita berusia belasan bulan memecah kesunyian pagi di sebelah ujung Desa Bedana, Kecamatan Kalibening, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.


Balita tersebut baru saja terbangun dari lelap di gendongan bunda, tepat saat mereka tiba di Gedung Sumirah, sebuah bangunan kecil yang dipergunakan untuk kegiatan posyandu balita.

Gedung Sumirah terletak di sebelah pematang sawah, dari bagian selasarnya dapat terlihat hamparan padi, pohon cabai serta jalan setapak yang dikunci oleh perbukitan membentang di ujung lintasan.

Sejak pukul delapan pagi, kesibukan mulai terasa di gedung berlapis cat hijau itu, beberapa ibu terlihat berdatangan membawa anak balita, wajah mereka berbalut masker kain.

Ketika ibu dan anaknya tiba di posyandu, petugas akan langsung melakukan pengecekan suhu tubuh, meminta mereka mencuci tangan dengan sabun di tempat yang telah disediakan, lalu mengarahkan mereka untuk menunggu di kursi yang jaraknya telah diatur.

Jejeran kursi kayu yang masing-masing berjarak satu meter tersebut seakan menjadi pembatas antara selasar gedung dengan pematang sawah.

Secara keseluruhan, protokol kesehatan telah berjalan dengan baik. Penggunaan masker, pengaturan jarak fisik, dan kegiatan mencuci tangan telah melekat jadi satu dengan penimbangan badan, pengukuran lingkar kepala, pemberian imunisasi hingga kegiatan penyuluhan.

Anak-anak yang menangis saat menunggu giliran akan dipinjamkan mainan edukasi yang tersedia di posyandu, mainan itu telah disesuaikan dengan kebutuhan deteksi tumbuh kembang.

Sementara anaknya bermain, sang ibu bisa sambil mendengarkan penyuluhan mengenai kesehatan anak, tumbuh kembang anak dan berbagai informasi tentang imunisasi yang disampaikan oleh bidan desa atau kader terlatih.

Di antara berbagai aktivitas, terlihat jejeran bubur kacang hijau dengan santan yang siap dibagikan, pemberian makanan tambahan menjadi salah satu bagian dalam pelayanan, dan menjadi salah satu yang ditunggu-tunggu oleh anak-anak.

Pengawal tumbuh kembang

Kendati sempat terhenti pada awal pandemi, kini kegiatan posyandu balita di Desa Bedana telah kembali berjalan seperti biasa, namun yang membedakan adalah penerapan protokol kesehatan yang ketat sejak awal hingga akhir kegiatan.

Tenaga kesehatan dari Puskesmas Kalibening yang bertugas sebagai pembina desa, Widhi Hesty Pujianti mengatakan penerapan protokol kesehatan bertujuan untuk mencegah penyebaran COVID-19.

Seluruh pihak mulai dari tenaga kesehatan yang bertugas hingga masyarakat harus mematuhi protokol kesehatan, agar kegiatan posyandu balita berjalan dengan aman dan lancar.

"Mereka yang sedang sakit dilarang untuk datang ke posyandu demi kebaikan dan demi menjaga kesehatan bersama. Sementara mereka yang sehat bisa datang dengan syarat harus mematuhi protokol kesehatan dan memakai masker kecuali anak-anak di bawah usia dua tahun tidak diwajibkan," katanya.

Hesty yang juga bertugas sebagai tenaga farmasi Puskesmas Kalibening itu mengatakan keberadaan posyandu sangat penting untuk mengawal tumbuh kembang dan kesehatan balita di wilayah setempat.

Melalui kegiatan posyandu, kata dia, tumbuh kembang balita, status imunisasi dan gizi balita dapat terpantau dengan baik, hal itu penting demi kesehatan sang anak.

Selain itu, kegiatan posyandu juga sangat penting sebagai upaya untuk mencegah kasus kekerdilan (stunting) dan sangat penting untuk menambah pemahaman masyarakat mengenai tumbuh kembang dan periode emas balita.

Menggiatkan posyandu

Kepala Puskesmas Kalibening, Kabupaten Banjarnegara, Ristiyono menambahkan bahwa pihaknya terus berupaya menggiatkan posyandu di tengah keterbatasan karena pandemi COVID-19.

Dengan mengedepankan konsep 3M yakni memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan dengan sabun pihaknya terus berupaya memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat, salah satunya melalui posyandu balita.

Dia menambahkan kendati sempat stagnan pada awal masa pandemi kini kegiatan pelayanan posyandu kembali menggeliat.

Dengan konsistensi penerapan protokol kesehatan dan dukungan masyarakat, kami berharap pelayanan posyandu balita dapat terus berjalan dengan baik dan aman serta nyaman.

"Kami berharap kegiatan ini akan dapat berkontribusi positif dalam mendukung tumbuh kembang balita yang ada di wilayah setempat," katanya.

Sementara itu, dokter spesialis anak, dr. Ariadne Tiara Hapsari, MSiMed. Sp.A mengingatkan bahwa tenaga kesehatan di puskesmas dan kader di posyandu sangat berperan strategis untuk menggencarkan sosialisasi mengenai upaya menjaga kesehatan, pemberian ASI eksklusif hingga mencegah kekerdilan.

Karenanya menurut Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto itu pemerintah daerah melalui dinas kesehatan setempat perlu terus mengintensifkan sosialisasi mengenai upaya mencegah kekerdilan kepada seluruh masyarakat dengan mengoptimalkan peran puskesmas dan posyandu.

Konsistensi dan tertib

Melalui puskesmas dan posyandu, kata dia, masyarakat diajarkan manfaat ASI eksklusif sebagai salah satu cara mencegah kekerdilan.

"Pemberian ASI eksklusif menjadi salah satu cara efektif mencegah kekerdilan karena ASI mengandung zat gizi yang sangat baik bagi bayi, sosialisasi mengenai ini perlu digencarkan melalui puskesmas dan posyandu," katanya.

Dokter yang praktik di RS Dr. Margono Soekarjo Purwokerto tersebut juga menambahkan selain pemberian ASI eksklusif upaya mencegah kekerdilan juga dapat dilakukan dengan memantau perkembangan tumbuh kembang balita di posyandu.

"Selain itu yang terpenting adalah orang tua juga perlu memberikan imunisasi dasar yang lengkap pada bayi," katanya.

Dengan melihat pentingnya kegiatan pemantauan tumbuh kembang anak dan sosialisasi mengenai upaya menjaga kesehatan balita, maka keberadaan posyandu bagi balita menjadi sangat strategis.

Kendati demikian karena pada saat ini tengah terjadi pandemi, maka penerapan protokol kesehatan menjadi akar dan sebuah kunci.

Dengan konsistensi dan tertib protokol kesehatan, diharapkan kegiatan pelayanan kesehatan dapat berjalan dengan baik dan aman demi menjaga kesehatan si buah hati.*

Oleh Wuryanti Puspitasari
sumber : https://www.antaranews.com/berita/1778929/cerita-posyandu-balita-desa-bedana-di-tengah-pandemi?utm_source=antaranews&utm_medium=related&utm_campaign=related_news, akses tgl 27/10/2020.


 sumber : https://www.youtube.com/watch?v=oVL-0zfS_4g, akses tgl 17/10/2020.




 Odading awalnya tak bernama. Mendapatkan namanya dari seorang nyonya Belanda: o, dat ding.


“Ikan hiu makan tomat” menjadi trending topic. Susualan atau pantun itu diucapkan oleh seorang lelaki, mungkin penjualnya, dalam video yang viral di twitter. Ia me-review kue odading Mang Oleh di kawasan Bandung. Berikut ini review-nya.

Odading Mang Oleh, hmmm…, rasanya seperti Anda menjadi Iron Man. Belilah odading Mang Oleh didieu (di sini) karena lamun teu ngadahar (kalau tidak makan) odading Mang Oleh, maneh teu gaul jeung aing (kamu tidak gaul dengan saya), lain balad aing (bukan kawan saya), g*b**g. Ikan hiu makan tomat, g*b**g mun teu kadieu (g*b**g kalau tidak ke sini). Odading Mang Oleh, rasanya, a*j**g banget.

Selain menjual odading, Mang Oleh yang bernama lengkap Pak Soleh, juga menjual cakwe. Liputan ayobandung.com menyebut bahwa Pak Soleh telah berjualan odading dan cakwe selama 20 tahun.

Dari namanya bisa ditebak, cakwe adalah makanan orang Tionghoa. Ia salah satu dari banyak makanan yang dibawa para imigran dari Tiongkok dan diperkenalkan di Nusantara.

"Gelombang imigrasi dari Tiongkok ke Nusantara berkali-kali. Mereka membawa makanannya kemudian berkembang. Kalau ditelisik dari sisi linguistik, [nama makanan-makanan Tionghoa] yang kita kenal hari ini adalah murni serapan dialek Hokkian," kata Aji Chen Bromokusumo, penulis buku Peranakan Tionghoa dalam Kuliner Indonesia, dalam dialog sejarah di Historia.id, Februari 2019.

Salah satunya cakwe, dialek Hokkian yang artinya "hantu atau setan digoreng".

Menurut Nick Molodysky dalam Kuliner Khas Tionghoa di Indonesia, cakwe artinya "setan goreng". Cakwe adalah sejenis donat asin dari Tiongkok, yang hingga kini menjadi sarapan umum di Tiongkok Selatan. Cakwe merupakan makanan yang mudah dijumpai di Indonesia.

"Paling sering kita bisa menemukan makanan yang satu ini di penjual bubur, kembang tahu, atau tau suan. Teksturnya sangat garing, cakwe paling nikmat disantap dengan hidangan yang berkuah," tulis Nick.

Arti "hantu atau setan digoreng" ada ceritanya. Makanan ini diciptakan seorang pedagang di Tiongkok untuk melampiaskan kemarahan rakyat kepada Perdana Menteri Qin Hui dan istrinya yang memfitnah Yue Fei, jenderal terkemuka Dinasti Song. Fitnah itu membuat Yue Fei dihukum mati.

Pedagang itu membuat adonan tepung berbentuk seperti manusia yang saling memunggungi. Ketika digoreng, adonan itu muncul ke permukaan. Pedagang itu menjualnya dengan meneriakkan: "dijual Hui goreng!" Hui mengacu pada Qin Hui.

Bila cakwe dari orang Tionghoa, ternyata nama odading dari orang Belanda.

Remy Sylado, sastrawan dan ahli bahasa, mengungkap asal-usul nama odading dalam bukunya, 9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia Adalah Asing dan Bahasa Menunjukkan Bangsa.

Suatu hari, sebut Remy, seorang sinyo (sebutan anak kecil) Belanda merengek kepada maminya minta dibelikan kue yang dijajakan oleh seorang anak kampung.

"Mammie, koop dat voor mij (Mami, belikan itu untukku)," kata sinyo itu.

Kue itu tidak bernama karena hanya terdiri dari adonan terigu dan gula pasir yang digoreng. Sang nyonya pun penasaran lantas memanggil ujang penjual kue itu. Ia menyuruhnya membuka daun pisang yang menutupi kue di atas nyiru.

Begitu melihat terigu goreng itu, sang nyonya berkata kepada anaknya, "O, dat ding?" Artinya "O, barang itu?"

Kue itu akhirnya memiliki nama: odading.

"Si ujang kembali ke kampung, mengatakan kepada emaknya bahwa ternyata kue itu bernama odading," kata Remy. "Hingga kini orang di Bandung menyebut adonan terigu goreng itu odading."

Bagaimana, penasaran dengan odading Mang Oleh yang rasanya seperti menjadi Iron Man? Kalau lagi ke Bandung, cobalah.

Oleh Hendri F. Isnaeni
sumber : https://historia.id/kultur/articles/odading-rasairon-man-P0K1W, akses tgl 27/10/2020.

 Peneliti menemukan domestikasi kakao sudah ada 1500 tahun dari perkiraan awal


Peneliti dari Universitas British Columbia di Vancouver, Kanada, mengungkap fakta baru mengenai sejarah cokelat. Penganan lezat itu disebut sudah ada 1.500 tahun lebih awal dari yang diperkirakan sebelumnya.

Cokelat diolah dari tanaman budidaya pohon kakao alias Theobroma Cocoa. Selama ini, bukti arkeologis menunjukkan kakao pertama kali didomestikasi (ditanam untuk dimakan) oleh penduduk Amerika Tengah sejak 3.900 tahun lalu.

Pohon kakao tercatat dalam sejarah sebagai tanaman penting di berbagai wilayah Amerika. Di masa silam, biji kakao digunakan sebagai mata uang, selain diolah untuk konsumsi dan membuat minuman yang khusus disantap saat pesta dan ritual.

Bukti genetik terkini menunjukkan, keragaman tertinggi pohon kakao dan spesiesnya berada di khatulistiwa Amerika Selatan. Dengan kata lain, sejarah awal domestikasi kakao tidak dilakukan di Amerika Tengah, melainkan Amerika Selatan.

Studi yang telah terbit di jurnal Nature Ecology & Evolution ini menggabungkan tiga jalur arkeologi sekaligus. Analisis butiran pati, biomarker kimia, dan urutan DNA purba dikombinasikan untuk mengidentifikasi secara pasti jejak tanaman yang sukar dilacak.

Hal lain yang dicermati adalah artefak keramik dari Santa Ana-La Florida di Ekuador, situs peninggalan budaya Mayo-Chinchipe. Hasilnya, masyarakat Mayo-Chinchipe diketahui membudidayakan kakao antara 5.300 sampai 2.100 tahun lalu.

"Menemukan asal-usul makanan yang kita konsumsi hari ini sangat penting guna membantu kita memahami sejarah yang kompleks mengenai siapa kita," kata salah satu penulis studi, Profesor Antropologi Michael Blake, dikutip dari laman Science Daily.

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
sumber : https://www.republika.co.id/berita/trendtek/sains-trendtek/18/11/01/phim9g349-peneliti-ungkap-fakta-baru-sejarah-cokelat, akses tgl 25/10/2020.