Top News

Pernah dengar nutritional yeast, Bunda? Bagi beberapa orang, nutritional yeast alias kaldu jamur sering disebut pengganti MSG dan digunakan dalam menu makanan pendamping air susu ibu (MPASI).


Nutritional yeast merupakan jamur dan ragi yang dinonaktifkan. Artinya, sel-sel ragi telah mati selama diproses dan tidak aktif dalam proses akhir.

"Nutritional yeast digambarkan memiliki rasa seperti kacang, keju, yang gurih. Bisanya dijadikan resep makanan vegan," kata Kaitlyn Berkheiser, RD, LDN, ahli nutrisi, dikutip dari Healthline.

Bentuk nutritional yeast yang umum dijual adalah bubuk. Berkheiser mengatakan, ini menjadi sumber vitamin dan mineral, yang menawarkan sejumlah manfaat kesehatan.

Dilansir laman Plant Based Junior, salah satu alasan utama orang mengonsumsinya karena mengandung vitamin B12. Meski tak semua produk mengandung banyak vitamin ini.

Jumlah vitamin B12 yang dibutuhkan tubuh memang rendah, tetapi nutrisi ini penting untuk pembelahan sel dan pembentukan darah, sehingga juga sangat penting untuk anak-anak. Menggunakan nutritional yeast adalah salah satu cara mudah untuk membantu anak mendapatkan cukup nutrisi, bersama makanan lain seperti susu kedelai yang diperkaya dan suplemen B12.

Sebuah studi tahun 2000 dilakukan terhadap 49 orang vegan. Studi yang diterbitkan di Annals of Nutrition & Metabolism ini menemukan bahwa mengonsumsi 1 sendok makan nutritional yeast per hari (yang mengandung 5 mcg B12) efektif dalam memenuhi kembali kadar vitamin B12 dari orang-orang yang kekurangan.

Kandungan nutritional yeast

Nutritional yeast adalah sumber protein, vitamin B, dan mineral yang sangat baik untuk tubuh. Nutritional yeast yang difortifikasi mengandung lebih banyak vitamin B daripada yang tidak difortifikasi.

Namun, varietas yang tidak difortifikasi tetap mengandung vitamin B dalam jumlah sedang. Vitamin ini terbentuk secara alami saat ragi tumbuh. Nah, berikut 3 kandungan nutritional yeast atau kaldu jamur yang bernutrisi dan baik untuk kesehatan:

1. Sumber protein lengkap
Nutritional yeast mengandung semua 9 asam amino esensial yang harus didapatkan manusia dari makanan. Satu sendok makan mengandung 2 gram protein.

2. Mengandung banyak vitamin B
Satu sendok makan nutritional yeast mengandung 30 sampai 180 persen dari rekomendasi asupan harian untuk vitamin B. Selain itu, di dalamnya juga kaya tiamin, riboflavin, niasin, vitamin B6, dan vitamin B12.

3. Mengandung trace mineral
Satu sendok makan nutritional yeast mengandung 2 sampai 30 persen dari rekomendasi asupan harian untuk trace mineral atau mineral makro. Kandungan tersebut adalah zinc, selenium, mangan, dan molibdenum. Dalam tubuh, mineral terlibat dalam regulasi gen, metabolisme, pertumbuhan, dan imunitas.

Manfaat nutritional yeast
  1. Mencegah kekurangan vitamin B12, yang dibutuhkan dalam menjaga kesehatan sistem saraf, produksi DNA, serta metabolisme dan pembentukan sel darah merah.
  2. Melindungi tubuh dari penyakit kronis karena stres. Nutritional yeast mengandung antioksidan glutathione dan selenomethionine.
  3. Meningkatkan imunitas tubuh karena nutritional yeast mengandung karbohidrat alfa-manan dan beta-glucan yang telah diteliti bisa meningkatkan imunitas.
Pemberian nutritional yeast pada bayi

Belum ditemukan alasan bayi tidak boleh mengonsumsi nutritional yeast. Terutama jika si kecil dalam kondisi sehat.

Kadar vitamin B12 yang direkomendasikan untuk anak berusia 1-3 tahun adalah 0,9 mcg per hari. Sekitar dua sendok teh nutritional yeast yang telah terfortifikasi mengandung vitamin B12 sebanyak 2,4 mg per hari untuk orang dewasa.

Oleh karena itu, kurang dari satu sendok teh per hari harusnya sudah cukup memenuhi kebutuhan vitamin B12 untuk anak-anak. Penting untuk Bunda ingat, pemberian nutritional yeast dapat bervariasi sesuai merek dan porsi makan anak ya.

Namun, nutritional yeast dapat memiliki beberapa efek samping bagi bayi. Kandungan seratnya yang tinggi bisa menyebabkan gangguan pencernaan jika dikonsumsi dalam jumlah besar. Apalagi kalau bayi tidak terbiasa mengonsumsinya dalam menu MPASI.

Beberapa bayi mungkin mengalami reaksi khusus saat makan nutritional yeast. Misalnya, wajah memerah yang disebabkan tingginya niasin atau vitamin B3.

Meski begitu, efek samping ini tidak berbahaya karena akan hilang dengan sendirinya. Beberapa orang juga melaporkan bahwa makan nutritional yeast dapat menyebabkan air seni menjadi warna kuning.

Jika bayi Anda memiliki mutasi genetik methylenetetrahydrofolate reductase (MTHFR), mungkin sebaiknya menghindari nutritional yeast yang mengandung tinggi asam folat, yaitu bentuk sintesis vitamin B9. Sebab, mutasi MTHFR dapat menyebabkan gangguan metabolisme asam folat.

Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan makanan komersial tertentu dari nutritional yeast (mengandung Saccharomyces cerevisiae) mungkin berisiko tinggi untuk patogen oportunistik. Namun, para peneliti menyatakan bahwa jenis ragi ini memiliki tingkat keamanan yang sangat baik.

Nutritional yeast bisa digunakan dalam menu MPASI dengan takaran yang sesuai. Rasanya yang gurih cocok dicampurkan dalam pure daging, sup, atau saus keju untuk dicocol dengan roti.

Annisa Karnesyia
sumber : https://www.haibunda.com/parenting/20200619184158-59-147235/bolehkah-menambahkan-nutritional-yeast--kaldu-jamur--untuk-menu-mpasi-anak, akses tgl 11/08/2020.

Bunda tentu sudah tahu kehebatan telur yang kaya protein. Tapi, makanan satu ini termasuk alergen utama pada anak-anak. Bunda yang sedang siap-siap menuju MPASI mungkin masih bingung, apa boleh memberi telur di awal-awal MPASI?


"Menurut pedoman pemberian makan saat ini, tidak ada alasan untuk menghindari telur begitu bayi Anda siap untuk memulai makanan padat, biasanya berusia antara 4 dan 6 bulan," kata Joel Forman, MD, pediatri bersertifikasi, mengutip Very Well Family.

Berdasarkan beberapa bukti, kata Forman, menunda mengenalkan makanan yang berpotensi menyebabkan alergi seperti telur, susu, selai kacang, atau ikan, di atas usia 6 bulan, sebenarnya bisa meningkatkan potensi mengembangkan alergi di masa kanak-kanak, Bunda.

Forman menyadari, dahulu para ahli menyarankan orang tua menunggu sampai anak berusia 2 tahun untuk memperkenalkan telur. Tapi, studi yang lebih baru tidak menemukan bukti medis untuk rekomendasi ini, Bunda.

"Memperkenalkan berbagai makanan setelah bayi Anda siap untuk makanan padat, saat ini diyakini membantu mencegah alergi makanan," ujar Forman.

Ia menambahkan, rekomendasi lain yang sudah kedaluwarsa yakni hanya memperkenalkan kuning telur karena tak memiliki alergen seperti di dalam putih telur. Jadi, kalau bayi sudah siap memulai makanan padat, artinya siap juga makan telur.

Untuk tanda-tanda bayi siap diberi makanan padat, jelas Forman, salah satunya bisa duduk di kursi tinggi dan mengangkat kepalanya. Bayi mungkin membuka mulutnya saat melihat makanan datang dan mampu memindahkan makanan dari sendok ke mulut, lalu menelannya.

American Academy of Pediatrics merekomendasikan untuk memberi bayi sejenis makanan baru untuk satu waktu, lalu menunggu dua hingga tiga hari sebelum memperkenalkan makanan lain. Tapi, Bunda jangan lupa memperhatikan reaksi alergi terhadap makanan yang baru diperkenalkan.

"Banyak orang tua mulai dengan sereal, kemudian buah dan sayuran, sebelum beralih ke protein. Telur bisa jadi tambahan yang sehat untuk makanan bayi Anda. Mereka mengandung protein, zat besi, dan kolin berkualitas tinggi," lanjut Forman.

Kalau Bunda memberikan telur pada bayi, Forman berpesan untuk memastikan memasak telur dengan baik untuk mencegah Salmonella dan penyakit bawaan makanan lainnya. Disarankan juga merebus telur dan menumbuknya, lalu menambahkan sedikit ASI atau susu formula bayi.

Saat pertama kali Bunda memberi bayi telur, pastikan melihat tanda-tanda reaksi alergi setelahnya. Misalnya saja reaksi kulit seperti pembengkakan, ruam, gatal-gatal, atau eksem, mengi atau kesulitan bernapas, hidung meler dan bersin-bersin, mata merah atau berair, sakit perut, mual, muntah atau diare.

Forman juga mengingatkan, beberapa vaksin mengandung telur sehingga bisa menyebabkan reaksi alergi, seperti suntik flu. Ia menegaskan, "Jika anak Anda mendapat vaksin yang mengandung telur, perhatikan reaksi setelahnya."

Bicara tentang vaksin yang mengandung telur, vaksin MMR termasuk di dalamnya karena dibuat di dalam embrio anak ayam. Sehingga, diperkirakan ada jejak protein telur di vaksin MMR.

"Anak-anak yang alergi telur seharusnya tak masalah mendapat vaksin MMR. Sampai saat ini, belum ada laporan bahwa anak dengan alergi telur dan mendapat vaksin MMR kemudian mengalami masalah," kata dr.Dawn Lim, dokter anak yang fokus di bidang alergi, dalam bukunya Childhood Allergies.

Melly Febrida
sumber : https://www.haibunda.com/parenting/20200606194812-59-144894/usia-berapa-bayi-boleh-makan-telur-ini-saran-ahli, akses tgl 11/08/2020.

Usia berapa anak disapih dan mulai dikenalkan makanan padat? Menyapih yang dimaksud di sini, waktunya anak mulai beralih ke makanan padat atau MPASI, dari yang sebelumnya hanya ASI atau susu.


Sejarah awal memberikan MPASI ini tak menentu dan cukup panjang selama bertahun-tahun. Bunda mungkin suka mendengar cerita, bayi zaman dahulu baru lahir sudah dikasih makan pisang. Tapi, kalau itu diterapkan saat ini tampaknya banyak yang enggak setuju.

Pada awal abad 20, orang tua disarankan memberikan diet cairan sampai bayi berusia 12 bulan. Para ibu juga disarankan menambah ASI dengan cod-liver oil, untuk mencegah rakhitis, dan jus jeruk untuk mencegah penyakit kudis.

Dijelaskan Sarah Ockwell-Smith, spesialis metode Gentle Parenting, pada 1930-an, usia sapih menuju makanan padat dimajukan karena khawatir bayi tidak mendapat nutrisi yang cukup. Seiring bertambah waktu, usia bayi yang disapih semakin muda. Hingga pada 1970-an, sebagian besar bayi diberikan MPASI pada usia 4 bulan, tapi banyak juga yang mulai lebih awal.

"Tidak jarang yang memberi susu yang mengandung sereal kepada bayi yang berumur satu bulan, atau memberikan bayi yang baru berumur dua bulan, agar bisa disedot," kata Ockwell-Smith dalam buku The Gentle Eating Book.

Lalu pada 1994, Departemen Kesehatan Inggris menyatakan usia ideal bayi mulai diberikan makanan padat yakni antara 4 dan 6 bulan. Tapi, kata Ockwell-Smith, saran ini disalahartikan. Banyak profesional kesehatan yang merekomendasikan MPASI dimulai saat bayi berusia 4 bulan, atau 16 minggu.

Dijelaskan Ockwell-Smith, memasuki abad 21, dimana penelitian pada 2000 menunjukkan, sebagian besar bayi disapih ke makanan padat mulai usia 17 minggu. Tetapi pada 2005, usia rata-rata bayi diberikan MPASI meningkat menjadi 19 minggu, atau sebelum 5 bulan.

"Angka ini lebih sesuai dengan rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sekitar enam bulan. atau lebih tepatnya bayi harus disusui secara eksklusif," ujarnya.

Sedangkan pada 2008, European Food Safety Authority (EFSA) menyatakan bahwa pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan adalah tujuan yang diinginkan. Dan MPASI harus diberikan saat bayi berusia 6 bulan, tapi jangan sebelum 4 bulan.

"Sekitar 6 bulan tampaknya paling masuk akal, meskipun bukan berarti Bunda harus menunggu sampai bayi berusia 6 bulan untuk mulai menyapih, juga bukan berarti bahwa semua bayi akan siap untuk menyapih pada usia itu," jelas Ockwell-Smith.

Dikatakan Ockwell-Smith, pedoman utama menyapih ke makanan padat itu harus melihat kebutuhan dan kesiapan bayi secara individu.

Terkait menyapih dan memberikan MPASI, menurut dokter spesialis anak konsultan gastrohepatologi, dr.Frieda Handayani, Sp.A(K), bayi harus siap secara fisik dan mental sebelum diberi MPASI.

"Anak yang sudah cukup usia, siap secara fisik dan mental, mulai bisa diperkenalkan dengan MPASI. Baik nutrisi, frekuensi, tekstur, dan porsi juga harus disesuaikan dengan kebutuhan anak," kata Frieda.

Bagi Bunda yang ingin mulai memberikan MPASI, sebaiknya pahami kebutuhan gizi anak. "Kebutuhan gizi anak usia weaning atau MPASI terdiri dari karbohidrat, lemak, protein (makronutrien), dan vitamin dan mineral (mikronutrien)," jelas Frieda.

Melly Febrida
sumber : https://www.haibunda.com/parenting/20200704230938-59-149875/awal-mula-bayi-1-bulan-diberikan-mpasi-begini-sejarahnya, akses tgl 11/08/2020.

Ini sering menjadi pertanyaan, apakah tidak berbahaya? Bagaimana hukumnya? karena biasanya jarak anak pertama dan kedua berdekatan, belum selesai anak pertama menyusu 2 tahun, sang ibu sudah hamil lagi. 


Berikut pembahasannya.

Hukumnya dalam Islam

Hukumnya adalah boleh. Inilah yang disebut dengan nama al-ghiilah (الغيلة)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أَنْهَى عَنِ الْغِيلَةِ حَتَّى ذَكَرْتُ أَنَّ الرُّومَ وَفَارِسَ يَصْنَعُونَ ذَلِكَ فَلاَ يَضُرُّ أَوْلاَدَهُمْ

Sungguh, aku ingin melarang (kalian) dari perbuatan ghiilah. Lalu aku melihat bangsa Romawi dan Persia dimana mereka melakukan ghiilah terhadap anak-anak mereka. Ternyata hal itu tidak membahayakan anak-anak mereka[1]

Dalam kitab Mausuu’ah fiqhiyah Al-Kuwaitiyah dijelaskan,

‏ ومن معاني الغيلة في اللّغة كذلك‏:‏ وطء الرّجل زوجته وهي ترضع، وإرضاع المرأة ولدها وهي حامل‏.‏ ولا يخرج المعنى الاصطلاحيّ عن المعنى اللّغويّ‏.‏

“Diantara makna Al-ghiilah secara bahasa Adalah seseorang laki-laki menyetubuhi istrinya yang sedang masa menyusui, atau seorang wanita yang sedang masa menyusui sedangkan ia dalam keadaan hamil, makna istilah tidak melenceng dari makna bahasanya.”[2]

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan hadits,

واختلف العلماء في المراد بالغيلة في هذا الحديث وهي الغيل فقال مالك في الموطأ والأصمعي وغيره من أهل اللغة أن يجامع امرأته وهي مرضع …وقال بن السكيت هو أن ترضع المرأة وهي حامل … وفي الحديث جواز الغيلة فإنه صلى الله عليه وسلم لم ينه عنها وبين سبب ترك النهي وفيه جواز

“Ulama berselisih pendapat mengenai maksud dari Al-ghiilah pada hadits ini. Maknanya bisa “al-ghail”. Berkata imam Malik dalam muwattha’ dan Al-Ashnamiy serta ahli bahasa yang lainnya: maknanya adalah menyetubuhi istri dalam keadaan menyusui…berkata Ibnu Sikktit, maknanya yaitu seseorang wanita menyusui dalam keadaan hamil… Dalam hadits ini terdapat dalil bolehnya melakukan ghiilah karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melarangnya dan menjelaskan sebab beliau tidak melarangnya. Hadits ini menunjukkan bolehnya ghiilah.”[3]

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ditanya,

إذا المرأة لم ترضع طفلها إلا لمدة سنة، فحملت وأفطمت الرضيع هل تكون آثمة والحال ما ذكر؛ لأني سمعت أن المرأة إذا أرضعت وهي حامل أن الرضيع يتضرر، فهل هذا صحيح؟

Jika seorang wanita hanya menyusui anaknya selama setahun saja, lalu ia hamil lagi dan menyapih anaknya yang masih menyusui, apakah ia berdosa dengan kondisi seperti itu? Karena aku pernah mendengar bahwa wanita yang menyusui ketika hamil bisa memberi bahaya bagi anak yang disusui, apakah hal ini benar?

Beliau menjawab,

هذا يرجع إليها وزوجها فإن تراضيا على فطامه فلا بأس وإن تراضيا على بقائه يبقى ولا يضره, فالحاصل أن المرأة تشاور زوجها في ذلك فإذا تراضيا فلا حرج؛ لقوله سبحانه: فَإِنْ أَرَادَا فِصَالاً يعني فطاماً عَن تَرَاضٍ مِّنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِمَا (233) سورة البقرة. فالأمر يرجع إليهما في فطمه وعدم فطمه. جزاكم الله خيراً.

Hal Ini terserah dia dan suaminya, jika mereka berdua ridha menyapihnya maka tidak mengapa dan jika mereka berdua ridha untuk tetap menyusuinya maka silahkan tetap menyusui dan hal ini tidaklah berbahaya bagi si bayi. Intinya, seorang istri hendaknya mendiskusikannya dengan suaminya mengenai masalah itu, jika mereka berdua ridha maka tidak mengapa. Berdasarkan firman Allah Ta’ala,

فَإِنْ أَرَادَا فِصَالًا عَنْ تَرَاضٍ مِنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا

Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya..” [QS Al-Baqarah: 233]

Maka urusan ini terserah kepada mereka berdua, apakah akan menyapih atau tidak.[4]

Awas air susu campur darah, jangan menyusui ketika hamil!

Ya, begitulah perkataan orang dahulu seperti nenek kita, mereka melarang hal ini karena bisa memberikan dampak bahaya bagi janin ataupun anak yang menyusu, misalnya kekurangan gizi karena diambil oleh anak yang menyusui. Sebagaimana dijelaskan oleh imam An-Nawawi rahimahullah, ini juga pendapat beberapa dokter di zaman beliau, beliau berkata,

قال العلماء سبب همه صلى الله عليه وسلم بالنهي عنها أنه يخاف منه ضرر الولد الرضيع قالوا والأطباء يقولون إن ذلك اللبن داء والعرب تكرهه وتتقيه

“Para ulama menjelaskan bahwa keinginan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangnya (al-ghiilah) adalah beliau khawatir akan membahayakan anak susu, berkata para dokter (di zaman imam An-Nawawi, pent) bahwa air susu tersebut adalah air susu penyakit, bangsa Arab tidak menyukainya dan menjauhinya.”[5]

Benarkah berbahaya? Jawaban secara medis: tidak berbahaya, selama memperhatikan beberapa poin berikut (penulis berkata: sekedar berbagi pengalaman, istri saya tetap menyusui ketika hamil sampai umur kehamilan 6 bulan, itu juga si kecil berhenti menyusui karena memang air susu sudah mulai berubah warnanya dan mungkin rasanya juga sudah berubah karena pengaruh kehamilan, alhamdulillah, kedua anak dan ibu sehat sampai saat ini).

Berikut poin-poin yang harus kita perhatikan:

1. Kontraksi rahim (sering di khawatirkan menjadi keguguran)

Menyusui menyebabkan hormon oksitosin diproduksi, hormon ini akan menyebabkan kontraksi pada payudara dan rahim. Namun tingkat kontraksi dari hormon oksitosin ini tidak memiliki dampak yang terlalu besar pada rahim selama hamil, tidak sampai pada tingkatan bisa menyebabkan kelahiran bayi, kecuali jika waktu melahirkan sudah mendekati harinya atau ada hal-hal lain yang berpengaruh. Sebagai perbandingan, Kontraksi rahim saat berhubungan sex. Hubungan sex akan menyebabkan rahim berkontraksi, namun tidak berpengaruh terhadap kehamilan.

Akan tetapi ada juga yang tidak tahan menahan kontraksi rahim akibat menyusui atau bahkan merasa nyeri, jika sampai keadaan seperti ini, maka sebaiknya menyusui dihentikan.

2. Khawatir kekurangan gizi

Ibu hamil sekaligus menyusui harus mendapat super ekstra asupan gizi. Asupan makanan dengan kandungan protein dan karbohidrat yang lebih tinggi dibutuhkan seorang ibu yang hamil dan menyusui, karena keadaan ini memang memerlukan tambahan tenaga. Gizi terutama kalsium, bisa meminum kalsium posfat 1-2x sehari dan vitamin kehamilan serta juga lebih sering memakan makanan alami.

3. ASI basi?

Produksi ASI biasanya akan berkurang perlahan-lahan, karena semakin meningkatnya kadar hormon estrogen di dalam tubuh. Rasa ASI bisa jadi berubah, bisa juga tidak dan bayi mungkin akan berhenti sendiri atau mengurangi menyusu atau menyapih dirinya sendiri. Tidak ada istilah ASI basi, karena selama berada di dalam tubuh, ASI tidak akan pernah basi.

Begitu juga keadaan payudara ibu, sensitifitasnya akan meningkat ketika hamil, sehingga terkadang sang ibu sudah mulai merasa geli , tidak nyaman atau nyeri ketika menyusui, maka ini juga perlu diperhatikan

4. Keadaan fisik dan psikis ibu

Sang ibu pasti merasa lelah secara fisik dan psikis saat ini, belum lagi mual dan muntah karena kehamilan (morning sickness). Oleh karena itu perlu diperhatikan keadaan ibu, jika tidak memungkinkan maka jangan menyusui ketika hamil, lebih banyak beristirahat.

5. Tetap konsultasikan kepada dokter dan ahlinya

Jangan hanya mendengar perkataan orang atau perkataan orang lain, tetapi konsultasikan kepada dokter ahlinya mengenai keadaan anda. Karena Setiap orang memiliki kondisi tubuh dan kesehatan yang berbeda. Mungkin ada pertimbangan kesehatan khusus, seperti riwayat keguguran yang sering, sudah lama menikah namun belum juga dikaruniai anak, kontraksi rahim berlebihan ketika menyusui, atau keadaan yang lain.

Allah Ta’ala berfirman,

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu jika kamu tidak mengetahui!” [QS An-Nahl :  43]

Semoga pembahasan ini bermanfaat.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush shalihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam.

dr. Raehanul Bahraen, Mataram, 7 Syawwal 1433

footnote:
[1] HR. Muslim no. 1442
[2] Mausuu’ah fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, sumber: http://www.al-eman.com
[3] Syarah Shahih Muslim 10/16, Dar Ihya’ At-turats, Beirut, 1392 H, Syamilah
[4] http://www.binbaz.org.sa/mat/11743
[5] Syarah Shahih Muslim 10/16, Dar Ihya’ At-turats, Beirut, 1392 H, Syamilah

sumber : https://muslimafiyah.com/menyusui-ketika-hamil-bahayakah-syariat-dan-medis.html, akses tgl 11/08/2020.

Ibu yang positif Covid-19 bisa tetap menyusui tanpa harus khawatir akan menularkan virus corona kepada sang bayi melalui ASI.


Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan bahwa para ibu yang positif Covid-19 bisa tetap menyusui dengan aman tanpa harus khawatir akan menularkan virus corona kepada sang bayi melalui ASI.

"Kita tahu bahwa anak-anak memiliki risiko yang cukup rendah terkena Covid-19, namun berisiko tinggi terkena penyakit lain yang bisa dicegah dengan ASI," katanya dalam sebuah briefing pers, dikutip dari Fox News.

Tedros mengatakan bahwa WHO telah berhati-hati menginvestigasi risiko ibu menyusui menularkan penyakit pada anaknya.

Mereka menemukan bahwa ibu menyusui tetap aman, kecuali sang ibu berada dalam keadaan sakit parah sehingga tidak bisa menyusui.

"Berdasarakan bukti yang ada, saran WHO adalah manfaat menyusui melebihi potensi risiko penularan Covid-19," lanjutnya.

Ditambahkan oleh Ashu Banerjee, direktur Departemen Riset dan Kesehatan Reproduksi WHO, bahwa hanya potongan virus yang ada dalam ASI, dan tidak ditemukan adanya virus hidup di dalamnya.

"Sehingga risiko penularan dari ibu ke anak sejauh ini belum ditemukan," ujar Banerjee

WHO telah mengeluarkan panduan bagi layanan kesehatan untuk menjaga layanan penting bagi perawatan bayi baru lahir selama pandemi virus corona.

Para ibu disarankan untuk tetap menyentuh bayi mereka dan diinstruksikan untuk tetap melakukan kontak kulit atau skin to skin meski dirinya positif virus corona.

WHO juga mengatakan bahwa para ibu sebaiknya satu ruangan dengan bayinya dan melakukan praktek kebersihan diri saat menyusui dan menggendong bayinya, misal tetap mencuci tangan.

"ASI mengandung antibodi dan manfaat imunologis lainnya yang dapat membantu melindungi terhadap penyakit pernapasan," tulis WHO dalam laporannya.

WHO juga menyatakan bahwa sejauh ini Covid-19 pada bayi dan anak-anak tidak terlalu parah. Risiko utama penularan biasanya berasal dari saluran pernapasan sang ibu yang positif.

Vania Rossa | Frieda Isyana Putri
sumber : https://www.suara.com/health/2020/06/15/142846/ibu-menyusui-bisa-tenang-who-pastikan-tak-ada-virus-corona-di-asi, akses tgl 11/08/2020.

Sebuah studi baru menunjukkan, ibu dan bayi bisa berbagi bakteri baik saat proses menyusui lewat ASI.


Sebuah studi baru yang disusun oleh para peneliti dari University of British Columbia dan University of Manitoba telah menemukan bahwa ada bakteri baik yang dibagi dan mungkin ditransfer dari ASI ke usus bayi. Studi ini diterbitkan pada Cell Host & Microbe pada Jumat (10/7/2020) kemarin.

Dilansir dari MedicalXpress, para peneliti menemukan bahwa bakteri tertentu, termasuk Streptococcus dan Veillonella, muncul bersamaan dalam ASI dan tinja bayi. Kemunculan bakteri ini lebih tinggi saat bayi menyusu langsung di payudara ibunya.

Bakteri streptococcus dikenal baik untuk pencernaan, sementara bakteri veillonella disebut baik untuk ketahanan tubuh.

"Studi kami menegaskan bahwa ASI adalah pendorong utama perkembangan mikrobiota usus bayi," kata rekan penulis senior studi tersebut, Dr Stuart Turvey, seorang profesor di departemen pediatri dan penyelidik pediatrik UBC di BC Children's Hospital.

"Kami menemukan bahwa eksklusivitas dan durasi menyusui sangat terkait dengan komposisi mikrobiota usus bayi secara keseluruhan dan bahwa bakteri ASI membentuk mikrobioma usus bayi," imbuhnya.

Menurut para peneliti, ini adalah studi pertama yang mengevaluasi hubungan beberapa praktik pemberian ASI (mode, eksklusivitas, dan durasi), bakteri susu, dan komponen susu dengan komposisi mikrobiota usus bayi pada berbagai titik di pertama bayi.

Sebanyak 1.249 pasangan ibu-bayi yang terlibat dalam penelitian ini berpartisipasi dalam CHILD Cohort Study (CHILD). Temuan ini didasarkan pada penelitian CHILD sebelumnya yang menunjukkan memompa ASI berhubungan dengan perbedaan komposisi mikrobiota ASI dan kesehatan bayi.

"Uniknya, penelitian kami menunjukkan bahwa sementara ASI dan usus bayi memiliki komposisi mikrobiota yang berbeda, ada beberapa bakteri umum yang lebih umum dan melimpah dalam ASI ibu yang memberikan susu langsung dari payudara," kata rekan penulis senior studi ini, Brett Finlay, profesor di departemen biokimia dan biologi molekuler, serta mikrobiologi dan imunologi di UBC.

"Hasil ini memajukan hipotesis bahwa ASI dapat bertindak sebagai inkubator yang memperkaya, melindungi dan mengangkut bakteri tertentu ke saluran usus bayi dan ini dapat memberi kita petunjuk tentang bakteri mana yang dapat membuat probiotik," ujar Finlay kemudian.

Rima Sekarani Imamun Nissa | Fita Nofiana
sumber : https://www.suara.com/health/2020/07/11/135930/studi-ibu-dan-bayi-berbagi-bakteri-baik-melalui-asi-saat-menyusui, akses tgl 09/08/2020.