TRENDING NOW

 Olahraga disebut-sebut mengambil peran penting dalam proses penurunan berat badan. Namun, bagaimana jika berat badan justru naik meski telah rutin berolahraga?


Ada banyak penyebab berat badan naik meski rutin berolahraga. Sebuah riset menunjukkan bahwa memang ada orang-orang yang bisa menurunkan berat badan hanya dengan berolahraga. Namun, pada beberapa orang lainnya, olahraga saja tidak cukup.

Penurunan berat badan memang bersifat multifaktor. Olahraga akan memberikan hasil maksimal jika dikombinasi dengan faktor lain seperti pola makan dengan gizi seimbang dan istirahat yang cukup.

Berikut beberapa penyebab berat badan naik meski rutin berolahraga.

1. Terlalu banyak makan

Prinsip menurunkan berat badan adalah lebih banyak pengeluaran daripada pemasukan. Artinya, pembakaran kalori harus lebih banyak daripada jumlah kalori yang masuk.

Namun, harus diakui, nafsu makan bisa seketika meningkat saat selesai berolahraga.

"Saat Anda mulai berolahraga, tubuh Anda mulai membakar lebih banyak kalori. Dan ketika Anda membakar lebih banyak kalori, tubuh Anda secara alami ingin mengimbanginya dengan makan lebih banyak kalori untuk menebus apa yang Anda bakar," jelas Torey Armul, juru bicara Academy of Nutrition and Dietetics, mengutip dari Prevention.

Dia menyarankan untuk melacak seberapa banyak kalori yang terbakar dan jumlah kalori asupan makanan selama 1-2 minggu. Dari catatan ini, Anda bisa mengevaluasi menu olahraga dan asupan makanan.

2. Pilihan makanan sebelum atau sesudah olahraga yang kurang tepat

Saat nafsu makan meningkat, Anda justru memilih camilan berkalori tinggi seperti kue, keripik, maupun biskuit. Rasa lapar Anda memang berkurang, tetapi angka timbangan bertambah.

Sebaiknya pilih camilan sehat seperti sayuran dengan hummus, buah potong, kacang-kacangan, dan protein tanpa lemak atau lemak sehat seperti alpukat.

3. Metabolisme melambat

Ahli diet, Trista Best mengatakan, kenaikan berat badan bisa terjadi akibat metabolisme yang melambat. Metabolisme bisa melambat karena pembatasan kalori atau kelelahan adrenal.

"Untuk membantu mengatasi hal ini, Anda dapat mempertimbangkan menambah makanan dengan peluang lebih besar untuk meningkatkan metabolisme Anda," kata Best, mengutip dari Eat This, Not That!.

Pilih makanan yang mampu menaikkan suhu internal tubuh sehingga metabolisme meningkat. Suhu internal tubuh naik ketika mencerna atau membakar kalori makanan.

Makanan yang disarankan antara lain susu, ikan, daging, telur, kacang-kacangan, biji-bijian, dan polong-polongan.

4. Terlalu banyak asupan protein atau karbohidrat

Anda bukan atlet atau pelari marathon yang memerlukan banyak asupan protein dan karbohidrat. Cukupi kebutuhan keduanya sesuai asupan harian yang disarankan.

"Orang suka membicarakan protein karena itu penting. Tapi, jika Anda mengonsumsi terlalu banyak [protein], Anda akan menaikkan berat badan karena akan ada kalori ekstra masuk," ujar Armul.

5. Kurang asupan cairan

Orang kerap lupa mencukupi kebutuhan cairan selama berolahraga. Olahraga membuat tubuh mengeluarkan keringat sehingga tubuh memerlukan cairan pengganti.

Kekurangan cairan ini memicu rasa haus yang kerap dianggap sebagai rasa lapar.

Sebaiknya, targetkan asupan cairan harian paling tidak 1,5-2 liter per hari.

6. Cuma bergerak saat olahraga

Anda memang rajin berolahraga. Namun, tubuh diajak bergerak hanya saat olahraga.

Jangan lupa untuk tetap bergerak meski di luar jadwal olahraga. Hindari kebiasaan-kebiasaan sedenter, seperti duduk berjam-jam.

(els/asr)
sumber : https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20220316141534-260-772068/6-penyebab-berat-badan-naik-meski-rutin-olahraga, akses tgl 19/03/2022.

 SEBAGIAN besar masyarakat Indonesia menyukai aneka masakan pedas. Masakan pedas dinilai akan meningkatkan nafsu makan seseorang dan dapat menimbulkan sensasi menyenangkan saat mengonsumsinya.


Namun, tak sedikit dari mereka yang tak kuat menahan rasa pedas dari olahan cabai. Secara ilmiah rasa pedas timbul dari permainan sinyal yang diterima oleh otak melalui lidah karena kepekaannya terhadap suhu.

Oleh sebab itu, para ahli menilai, toleransi untuk menangani makanan pedas adalah sesuatu yang Anda miliki sejak lahir, sementara ada sekumpulan peneliti lain yang percaya bahwa itu adalah seni yang dapat Anda pelajari. Tentunya hal ini memerlukan analisis terperinci apakah itu hanyalah permainan pikiran atau ada sesuatu yang benar-benar mendorong kita untuk menanganinya dengan kesabaran.

Lantas ha apakah yang menyebabkan tingkat resistensi seseorang terhadap pedas, berbeda satu sama lainnya? Melansir dari Times of India, Senin (12/8/2018), Okezone akan mengulasnya satu per satu:

1.Faktor genetik

Menurut ahli gizi Pooja Kapoor, cabai memiliki zat kimia aktif yang disebut 'Capsaicin' yang menstimulasi reseptor yang dikenal sebagai TRPV1 (reseptor potensial transien vanilloid) dan mendeteksi rasa pedas dalam makanan. Setelah dirangsang, reseptor ini mengirimkan rasa sakit ke otak yang memicu sensasi terbakar. Tingkat toleransi seseorang tergantung sepenuhnya pada tingkat TRPV1 yang mereka miliki sejak lahir. Dalam kasus yang jarang terjadi, ada orang yang lahir tanpa reseptor capsaicin.

2.Kebiasaan mengonsumsi makanan pedas secara teratur

Diyakini bahwa beberapa orang dilahirkan dengan ambang yang lebih tinggi untuk menahan makanan pedas sementara yang lain tidak. Ini telah terbukti ketika mereka yang makan makanan pedas berulang kali mengembangkan toleransi yang lebih tinggi. Menurut para ahli, jika Anda ingin dapat melatih diri untuk mengonsumsi makanan pedas, maka fenomena itu disebut 'desensitisasi capsaicin'.

3.Kepribadian seseorang

Menurut sebuah penelitian yang dilakukan pada 2012, diyakini bahwa orang yang mencari sensasi lebih cenderung memilih makanan pedas. Penelitian ini mengungkapkan bahwa orang-orang seperti itu terbuka untuk mengeksplorasi aktivitas dan olahraga berbasis sensasi.

4.Bagaimana seseorang menyajikan suatu masakan

Seperti yang disebutkan di atas, rasa pedas hanyalah tipuan pikiran. Menurut ahli makanan, cara cerdas untuk melakukannya adalah dengan melengkapi bumbu dengan rasa dingin. Misalnya, Anda dapat menyembunyikan kari India pedas dengan santan yang tidak hanya manis, tetapi juga mendinginkan cabai dan rempah-rempah.

Leonardus Selwyn Kangsaputra
sumber : https://lifestyle.okezone.com/read/2018/08/13/298/1935723/alasan-manusia-kuat-makanan-pedas-kamu-termasuk, akses tgl 17/02/2022.

 Obat diet berupa pil, kapsul, atau suplemen, biasanya menawarkan khasiat dalam menurunkan berat badan secara cepat.


Namun sayangnya, bahaya obat diet yang dikonsumsi sembarangan justru berpotensi mengintai masalah kesehatan jangka panjang.

Menurut penuturan tim ahli Food and Drug Administration melalui laman CHLA, meski obat diet itu berlabel bahan alami, dapat dipastikan komposisinya tidak akan sepenuhnya natural.

The National Institutes of Health mengingatkan bahwa obat diet seringkali memengaruhi penurunan berat badan karena cara kerjanya menghilangkan cairan tubuh dan bukan lemak.

Bahaya Obat Diet

Merujuk laman Drugs, di bawah ini terdapat beberapa dampak serius yang membahayakan kesehatan apabila Anda mengonsumsi obat diet sembarangan.

1. Ketergantungan

Ketergantungan merupakan masalah utama yang paling dikhawatirkan saat mengonsumsi obat-obatan diet. Hal ini disebabkan oleh proses pembakaran lemak yang mengandalkan bahan-bahan dari obat diet, sehingga tubuh memberi reaksi kecanduan.

Di samping itu, beberapa obat diet juga umumnya memiliki efek stimulan kuat dan adiktif yang cukup berdampak serius bagi masalah kesehatan.

2. Insomnia

Obat-obatan diet sangat berpengaruh dalam menurunkan kualitas tidur dan berpotensi menimbulkan gangguan yang disebut insomnia. Penyebab insomnia ini bisa disebabkan dari efek stimulan obat diet tersebut karena tubuh jadi lebih banyak energi.

Selain jadi sulit tidur nyenyak, tubuh Anda juga akan memberi reaksi gelisah atau perasaan tidak tenang.

3. Metabolisme tidak terkontrol

Bahaya obat diet ternyata dapat memengaruhi proses metabolisme tubuh sehingga menjadi tidak terkontrol dan bekerja kurang maksimal. Terutama jika obat diet itu menawarkan khasiat mempercepat metabolisme dan menekan nafsu makan.

Nantinya sangat berisiko menyebabkan tekanan darah tinggi, detak jantung terasa lebih cepat, serta masalah paru-paru, dan penyakit jantung.

4. Efek samping psikosis

Konsumsi obat diet sembarangan atau tanpa resep dokter mempunyai efek samping psikosis yang cukup serius.Seperti perubahan mood tidak stabil, cenderung sensitif, depresi, psikosis, halusinasi, paranoia, sampai delusi.

Kejadian serius lainnya yang pernah dilaporkan yaitu adanya pemikiran-pemikiran untuk bunuh diri.

5. Kanker

Menurut hasil penelitian, obat atau pil diet dapat menyebabkan kerusakan hati, serta tumor yang termasuk kanker tiroid. Adapun komplikasi lain seperti muncul reaksi benjolan, pembengkakan di leher, suara serak, kesulitan menelan, atau sesak napas.

Kondisi tersebut harus segera ditangani oleh dokter karena kemungkinan menjadi gejala kanker tiroid.

6. Malnutrisi

Obat diet biasanya memberi efek menekan nafsu makan dalam waktu yang cukup lama sehingga Anda kehilangan rasa lapar. Terutama jika obat diet tersebut mengandung phentermine dan topiramate, sebagai pengendali nafsu makan.

Keadaan itu cukup membahayakan karena tubuh lebih rentan mengalami malnutrisi dan berdampak pada metabolisme.

7. Gangguan ginjal

Saxenda atau Wegovy merupakan obat-obatan khusus yang dimanfaatkan untuk menanggulangi obesitas. Obat diet ini diklaim dapat membantu menurunkan berat badan sekitar 5-10 persen selama 14 bulan.

Jika obat itu dikonsumsi tanpa resep dokter, dikhawatirkan menyebabkan peradangan pankreas, masalah kandung empedu, gangguan ginjal, dan peningkatan gula darah rendah.

Meski bahaya obat diet memang terbukti ada, obat-obatan jenis ini masih bisa dikonsumsi kalangan tertentu khususnya penderita obesitas.

Tapi, aturan konsumsinya harus berada dalam pengawasan dokter sambil diimbangi diet sehat seimbang dan tidak diminum untuk jangka panjang.


(avd/fef)
sumber : https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20220217131612-260-760433/mengenal-bahaya-obat-diet-bagi-kesehatan, akses tgl 10/03/2022.

 Diet menurunkan berat badan secara instan mungkin menggiurkan. Apalagi, belakangan banyak obat diet yang menjanjikan berat badan turun cepat tanpa usaha keras.


Namun, Anda perlu berhati-hati dan tidak sembarangan dalam memilih obat untuk diet penurunan berat badan. Pasalnya, ada bahaya minum obat diet, terutama yang menyebabkan sering buang air besar dan kecil.

Ahli gizi dari Rumah Sakit Siloam Inge Permadhi mengatakan bahwa obat-obatan yang menjanjikan dapat menurunkan berat badan dengan cara membuat seseorang menjadi lebih sering buang air kecil atau buang air besar sebaiknya tidak digunakan. 

Menurutnya, alih-alih membuang lemak dalam tubuh, obat diet justru bisa mengurangi jumlah cairan yang dibutuhkan tubuh.

"Kalau menggunakan obat-obat pencahar atau obat yang menyebabkan banyak buang air kecil dan air besar itu saya tidak setuju karena itu tidak sesuai dengan konsep obat yang memang digunakan untuk penurunan berat badan," kata Inge saat dihubungi ANTARA, Rabu (22/12).

Inge kemudian menjelaskan jika seseorang mengalami kelebihan berat badan atau obesitas, hal yang harus dikurangi agar bobot tubuh menjadi turun adalah lemak dan bukan cairan.

Sehingga, penggunaan obat diet yang membuat seseorang sering buang air besar dan buang air kecil bukanlah solusi yang tepat.

"Kalau dia banyak buang air kecil, sebetulnya kan cairan sangat dibutuhkan oleh tubuh. Orang gemuk itu bukan berarti dia harus mengurangi cairan di dalam tubuhnya. Tapi lemaknya yang kebanyakan dan itu yang harus dihilangkan," kata Inge.

"Jadi jika memang beratnya turun menggunakan obat tersebut, itu karena cairannya yang berkurang bukan lemaknya yang berkurang. Kan enggak oke. Malah bisa menyebabkan dehidrasi atau gagal ginjal kan," lanjutnya.

Oleh sebab itu, Inge pun menyarankan agar masyarakat tidak sembarangan dalam membeli dan mengonsumsi obat diet.

Sebaiknya, lakukanlah konsultasi dengan dokter jika memang mengalami obesitas dan ingin melakukan diet penurunan berat badan.

"Kalau obat-obat diet yang memang digunakan oleh dokter-dokter gizi, itu sih oke banget ya. Memang sudah terbukti dia (obat) bisa membantu," katanya.

(Antara/agn)
sumber : https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20211227180022-260-739272/bahaya-obat-diet-yang-bikin-sering-buang-air, akses tgl 19/03/2022.

Melihat hidangan favorit tersaji di depan mata. Nafsu makanpun bisa meningkat dan ingin menghabiskan makanan. Program diet bakal sukses terlupakan. Jika sering dilakukan, bukan tidak mungkin berar badanpun meningkat tajam.


Penyebab makan berlebihan diakibatkan oleh banyak hal. Umumnya karena tidak tahan dengan godaan pada makanan enak. Inilah penyebab lain yang dapat meningkatkan berat badan Anda dengan cepat.

1. Teman

Saat pergi ke restoran dengan teman, biasanya Anda akan mudah tergoda dengan makanan yang dipesan teman. Misalnya, teman memesan gorengan dan Anda mencicipinya. Tentunya rencana membatasi makanan akan gagal.

Saat seperti ini sebaiknya tetap patuh pada rencana diet.Pilihlah menu sehat seperti sayuran dan jus buah yang rendah kalori.

2. Alat Makan

Ukuran peralatan makan juga memicu makan berlebihan. Seperti piring mewah berukuran besar. Gunakan piring yang agak kecil dan sederhana sehingga Anda akan lebih sedikit menaruh makanan ke dalam piring.

3. Kelelahan

Rasa lelah juga mengakibatkan nafsu makan bertambah. Pastikan Anda cukup tidur saat malam hari minimal 6-8 jam. Jika merasa lelah saat bekerja sebaiknya istirahat dahulu sambil menikmati camilan sehat seperti buah, jus atau puding.

4. Makan Terlalu Cepat

Apakah Anda selalu melahap makanan kurang dari 10 menit? Cara ini akan menyebabkan risiko makan berlebihan. Makanlah perlahan sambil menikmatinya dan kunyah dengan benar, cara ini akan membantu Anda merasa kenyang lebih lama.

5. Makan Sambil Nonton TV

Menghilanagkan rasa bosan di rumah bisa dilakukan dengan menonton TV ditemani camilan gurih. Namun tanpa sadar Anda akan menghabiskan seluruh camilan, sekalipun ditaruh dalam stoples.

Para ahli mengatakan ada jutaan orang yang makan berlebihan karena bosan. Sebaiknya hindari hal ini dengan melakukan kegiatan yang lebih menguntungkan, seperti berolah raga.

6. Dehidrasi

Saat merasa dehidrasi, tubuhpun akan kehilangan cairan. Saat seperti ini Anda cenderung makan berlebihan. Mulailah biasakan minum segelas air sebelum makan dan segelas air setelah bangun tidur. Sisanya sebanyak 6 gelas bisa diminum saat melakukan kegiatan lainnya.

(dyh/odi)
sumber : https://food.detik.com/info-sehat/d-2014583/makan-berlebihan-mungkin-ini-yang-jadi-penyebabnya, akses tgl 16/02/2022.

 Perut buncit bisa menimpa siapa saja, laki-laki atau perempuan, tua ataupun muda. 


Perut buncit memang seringnya terjadi pada usia dewasa. Namun usia muda pun juga bisa memiliki lemak perut jika mereka tak bisa menjaga pola makan dan berat badannya. 

Melansir Medical News Today,  perut buncit bisa dipicu oleh banyak hal. Mulai dari pola makan yang tidak sehat, kurang olahraga, terlalu banyak mengonsumsi alkohol, kurang tidur, kebiasaan merokok, dan juga stres. Selain itu, perut buncit pada remaja bisa juga disebabkan karena faktor genetika. Ilmuwan yakin gen bisa mempengaruhi perilaku, metabolisme, dan risiko peluang obesitas pada seseorang.

Bahaya perut buncit pada remaja 

Perut buncit pada remaja harus segera ditangani. Karena jika tidak, perut buncit ini bisa menyebabkan meningkatnya risiko terkena gangguan jantung, kenaikan tekanan darah, diabetes tipe 2, stroke, kanker usus dan kanker payudara, juga demensia di usia tua. 

Seperti dikutip dari Livescience, ilmuwan telah meneliti lebih dari 3000 remaja dengan rentang usia 14 hingga 15 tahun di Ontario, dengan mengukur lingkar pinggang, tinggi badan, berat badan, dan juga tekanan darah. 

Dalam penelitian tersebut didapatkan bahwa remaja yang mengalami obesitas dengan lingkar perut atau lingkar pinggang besar, memiliki tekanan darah lebih tinggi dan level lemak yang juga tinggi di dalam peredaran darahnya. Pelebaran lingkar pinggang erat kaitannya dengan peningkatan tekanan darah dan tumpukan lemak di organ dalam. Lebih lanjut dikatakan, remaja yang memiliki perut buncit ini sangat berisiko terkena diabetes, gangguan jantung dan masalah hati.

Cara mengatasi perut buncit pada remaja 

Untuk mengurangi perut buncit, remaja sebaiknya tidak langsung melakukan pola diet yang sangat ketat dengan berpantang makan ini dan itu. Karena usia remaja adalah usia tumbuh kembang, di mana tubuh terutama otak dan tulang masih membutuhkan banyak asupan nutrisi dari berbagai sumber bahan makanan. Seperti kalori yang adalah sumber energi yang bisa digunakan tubuh untuk terjaga dan fokus selama menerima pelajaran di sekolah.

Cara tepat untuk mereduksi perut buncit pada remaja adalah dengan aktif berolahraga dan mengurangi makanan yang tak mengandung kalori. 

Mengutip Livestrong, remaja wanita umumnya akan membakar 1.800 hingga 2.400 kalori setiap harinya, tergantung dari aktivitas yang dilakukannya. Jadi untuk mengurangi berat badan dan mengurangi timbunan lemak pada perut buncit, mereka harus mengonsumsi kalori di bawah batas kalori harian yang mereka bakar. 

Mengurangi makanan yang rendah vitamin dan nutrisi jauh lebih bijak daripada mengurangi porsi makanan sehat yang mengandung banyak gizi. 

Sumber kalori yang paling tepat untuk menurunkan berat badan adalah sayuran, serealia utuh, buah-buahan, dan makanan-makanan yang mengandung protein rendah lemak. 

Selain mengurangi kudapan yang kaya zat gula, lakukan pula olahraga untuk membakar kalori yang ada dalam tubuh.


Penulis : Inten Esti Pratiwi
Editor : Inten Esti Pratiwi
sumber : https://www.kompas.com/tren/read/2022/01/17/123000765/perut-buncit-pada-remaja-kenali-bahaya-dan-cara-mengatasinya?page=all#page2, akses tgl 23/03/2022.