Top News

Pembangunan yang diharapkan adalah pembangunan yang berpihak pada masyarakat, bukan pada sekelompok orang, termasuk pembangunan bidang kesehatan. Gizi merupakan salah satu faktor yang berperan bagi kesehatan manusia. Gizi berkontribusi besar terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Berbagai penelitian telah menunjukkan adanya hubungan erat antara kurang gizi dengan kualitas sumber daya generasi penerus. Anak yang mengalami kurang gizi pada masa pembentukan otak (masa janin sampai dengan usia 2 tahun), akan memberikan pengaruh yang kurang baik bagi perkembangan fungsi otak.

Suatu hal yang miris bahwa Indonesia masih dihadapkan dengan permasalahan gizi setelah 67 tahun Indonesia merdeka. Riset Kesehatan Dasar tahun 2007 dan 2010, menunjukkan prevalensi gizi kurang pada balita sebesar 18,4% dan 17,9%.

Walaupun data tersebut menunjukkan penurunan kejadian gizi kurang dan buruk dibanding tahun sebelumnya, namun angkanya masih cukup tinggi. Prevalensi tersebut masih di atas target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional tahun 2010-2014, yaitu 15% dan Millenium Development Goals pada 2015, yaitu 15,5%.

Dari media televisi maupun surat kabar, juga diperoleh informasi mengenai kasus gizi kurang dan buruk pada balita di berbagai daerah maupun kota besar seperti Jakarta. Bahkan, balita tersebut tidak tertolong. WHO menyatakan kematian balita di negara berkembang, 60%-nya disebabkan gizi buruk.

Di sisi lain, Indonesia dihadapkan dengan permasalahan penyakit infeksi yang kembali muncul dan mulai meningkatnya kejadian gizi lebih. Hal ini menunjukkan kebijakan kesehatan, khususnya gizi masih belum mampu mengatasi permasalahan gizi yang ada di Indonesia.

Bila dibandingkan permasalahan gizi di Indonesia dengan negara Asia Tenggara lainnya, Indonesia tertinggal dari Thailand, Philipina dan Malaysia bahkan Vietnam. Menurut World Bank (2005), selain menghadapi permasalahan gizi kurang, Indonesia juga dihadapkan dengan permasalahan gizi lebih. Sedangkan negara Asia Tenggara lainnya hanya dihadapkan dengan permasalahan gizi kurang, sementara kejadian gizi lebih memiliki prevalensi lebih rendah.

Penyebab terjadinya gizi kurang pada balita sudah dipahami bersama. Salah satu konsep yang menjelaskan penyebab kejadian gizi kurang adalah konsep Unicef. Konsep ini menjelaskan gizi kurang pada balita secara langsung disebabkan oleh asupan gizi yang tidak terpenuhi dan penyakit infeksi. Secara tidak langsung, keadaan ini disebabkan tidak tersedianya makanan di tingkat rumah tangga, pola asuh yang kurang baik dan sanitasi lingkungan yang kurang memadai.

Penyebab mendasar adalah ekonomi masyarakat yang rendah, sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan makanan. Meskipun demikian, permasalahan gizi kurang di masing-masing daerah disebabkan oleh penyebab tidak langsung yang berbeda. Oleh karena itu, dalam menyusun suatu program gizi, perlu dilakukan survei awal untuk mengetahui penyebab terjadinya gizi kurang sehingga dalam mengatasi permasalahan lebih tepat sasaran, sesuai kenyataan yang ada.

Sejak dulu pemerintah, khususnya institusi kesehatan, sudah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi permasalahan gizi. Salah satu program yang dijalankan yakni pemberian makanan tambahan (supplementary feeding) dengan target utama adalah balita gizi buruk.

Pemberian makanan tambahan dilaksanakan dalam kegiatan Posyandu dengan melibatkan PKK. Kegiatan ini disertai penyuluhan gizi bagi ibu-ibu balita, sehingga diharapkan pengetahuan gizi ibu meningkat dan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Namun dari evaluasi dan penelitian, menunjukkan pemberian makanan tambahan ini masih belum efektif mengatasi permasalahan gizi. Keterbatasan keterampilan tenaga dalam penyediaan makanan yang memenuhi kebutuhan gizi balita, serta belum maksimalnya kegiatan penyuluhan, turut mempengaruhi keberhasilan program ini. Selain itu, program ini dilaksanakan untuk jangka pendek, sehingga apabila program sudah habis maka berakhir pula pemberian makanan tambahan pada balita.

Tahun 2010, Kementerian Kesehatan memperkenalkan program "1000 Hari Pertama Kehidupan", sejak dicanangkan Gerakan Scalling-up Nutrition di tingkat global. Program ini merupakan upaya sistematis yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan khususnya pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat untuk memberikan perhatian khusus kepada ibu hamil sampai anak usia 2 tahun, terutama kebutuhan pangan, kesehatan, dan gizinya. Kebijakan yang ditetapkan antara lain:

  • Meningkatkan cakupan dan kualitas pelayanan kehamilan dan persalinan;
  • Melakukan sosialisasi dan pemantauan pelaksanaan UU nomor 36/2009 tentang Kesehatan dan PP nomor 33/2012 tentang Pemberian ASI Eksklusif;
  • Meningkatkan cakupan dan kualitas pelayanan gizi dan kesehatan melalui penyediaan dukungan tenaga, penyediaan obat gizi dan suplementasi yang cukup;
  • Meningkatkan kegiatan edukasi kesehatan dan gizi melalui budaya perilaku hidup bersih dan sehat;
  • Serta dengan meningkatkan komitmen berbagai pemangku kepentingan terutama lintas sektor, dunia usaha serta masyarakat untuk bersama-sama memenuhi kebutuhan pangan tingkat keluarga. 

Harapan terbesar adalah program "1000 Hari Pertama Kehidupan" bukan hanya suatu "gaung" saja, tapi dapat dilaksanakan secara maksimal. Sehingga, mampu mencapai tujuan yang diharapkan terutama menghasilkan generasi penerus bangsa yang berkualitas.

Evaluasi terhadap program terdahulu, diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas program yang dilaksanakan. Perlu dilatih terus tenaga kesehatan, sehingga terampil dalam melaksanakan kebijakan, termasuk menyampaikan informasi gizi kepada masyarakat. Program-program yang bersifat promosi dan preventif juga diutamakan tidak hanya program kuratif dan rehabilitatif.

Perlu dipertimbangkan sasaran program tidak hanya fokus pada balita dan ibu-ibu hamil, tapi juga fase sebelum kehamilan. Masa remaja merupakan salah satu masa kritis dalam siklus kehidupan manusia. Remaja putri yang memiliki status gizi kurang, berisiko tinggi untuk melahirkan bayi kurang gizi. Program preventif berupa promosi gizi ke sekolah atau ke masyarakat perlu ditingkatkan lagi frekuensi dan kualitasnya.

Berhasil atau tidaknya suatu program, tergantung komitmen pemerintah dalam menjalankan program tersebut. Manajemen yang baik dan dukungan sumber daya yang memadai diperlukan dalam keberhasilan program.

Permasalahan gizi bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja, terutama bidang kesehatan. Kerja sama lintas program dan sektor secara aktif harus terus dilaksanakan dalam mengatasi permasalahan ini. Dukungan dunia usaha diperlukan dalam pelaksanaan kegiatan, selain membuat produk fortifikasi dan peran dalam meningkatkan pengetahuan konsumen. Masyarakat sebagai sasaran dalam kegiatan pun turut andil dalam keberhasilan suatu program, melalui partisipasi aktif dalam kegiatan, terus berupaya meningkatkan pengetahuan gizi, memiliki motivasi kuat dan menerapkan perilaku gizi yang baik dalam kehidupan sehari-hari.

Program untuk mengatasi permasalahan gizi membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Kalaupun anggaran yang dimiliki terbatas, perlu lebih terencana dalam menyusun suatu program dan dilaksanakan dalam manajemen yang terampil.

Adalah suatu ironi jutaan balita mengalami gizi kurang bahkan meninggal karena permasalahan gizi, yang sebenarnya dapat diatasi dengan intervensi yang sederhana dan dapat diupayakan. Pemegang kebijakan harus memberikan prioritas pada strategi yang bertujuan untuk mengatasi permasalahan yang belum teratasi, salah satunya masalah gizi kurang pada balita. Sehingga, adanya ungkapan "anak merupakan generasi penerus bangsa" tidak hanya sebuah ungkapan semata, tapi sesuatu yang diupayakan.

Azrimaidaliza
Staf Pengajar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas Padang
sumber : https://republika.co.id/berita/mc164l/siklus-permasalahan-gizi-yang-tidak-pernah-usai, akses tgl 02/06/2020.

Jamu umumnya digunakan masyarakat Indonesia sebagai minuman obat alami untuk menjaga kesehatam, serta menyembuhkan berbagai penyakit. Tradisi minum jamu ini diperkirakan sudah ada sejak 1300 M dan merupakan minuman bersejarah.


Jamu merupakan minuman berkhasiat dari Indonesia sebagai minuman kesehatan, mencegah, dan menyembuhkan berbagai penyakit. Jamu disajikan dengan berbagai jenis, mengingat di Indonesia memiliki tanaman herbal berjumlah cukup banyak. Setiap daerah mempunyai jenis Jamu yang berbeda, menyesuaikan dengan tanaman herbal yang tumbuh didaerahnya.

Mengolah Jamu tidak terlalu rumit, kebanyakan hanya mengambil sari dari perasan tumbuhan herbal. Ada juga dengan ditumbuk. Seringkali berbahan dasar kunyit, temulawak, lengkuas, jahe, kencur, dan kayu manis. Khusus gula jawa, gula batu, dan jeruk nipis biasanya digunakan sebagai penambah rasa segar dan rasa manis.

Uniknya, dalam pembuatan jamu juga disesuaikan takaran tiap bahan, suhu, lama menumbuk atau merebus, dan lainnya. Jika tidak diperhatikan dengan baik, akan kehilangan khasiat dari bahan-bahannya bahkan bisa membahayakan tubuh. Begitu juga dengan perkembangannya, tradisi minum Jamu mengalami pasang surut sesuai zamannya. Secara garis besar terbagi dari zaman pra-sejarah saat pengolahan hasil hutan marak berkembang, zaman penjajahan jepang, zaman awal kemerdekaan Indonesia, hingga saat ini.

Masyarakat Indonesia sejak zaman Kerajaan Mataram hingga kini masih menggunakan Jamu. Minuman khas Indonesia ini telah menjadi kebanggaan tersendiri seperti halnya dengan Ayurveda dari India dan Zhongyi dari Cina. Sejak saat itu, perempuan lebih berperan dalam memproduksi jamu, sedangkan pria berperan mencari tumbuhan herbal alami. Fakta itu diperkuat dengan adanya temuan artefak Cobek dan Ulekan –alat tumbuk untuk membuat jamu. Artefak itu bisa dilihat di situs arkeologi Liyangan yang berlokasi di lereng Gunung Sindoro, Jawa Tengah.

Selain artefak Cobek dan Ulekan, ditemukan juga bukti-bukti lain seperti alat-alat membuat jamu yang banyak ditemukan di Yogyakarta dan Surakarta, tepatnya di Candi Borobudur pada relief Karmawipangga, Candi Prambanan, Candi Brambang, dan beberapa lokasi lainnya. Konon, di zaman dulu, rahasia kesehatan dan kesaktian para pendekar dan petinggi-petinggi kerajaan berasal dari latihan dan bantuan dari ramuan herbal.

Seiring perkembangannya, tradisi minum Jamu sempat mengalami penurunan. Tepatnya saat pertama kali ilmu modern masuk ke Indonesia. Saat itu kampanye obat-obatan bersertifikat sukses mengubah pola pikir masyarakat Indonesia sehingga minat terhadap Jamu menurun. Selain soal standar atau sertifikat, khasiat dari Jamu pun turut dipertanyakan.

Pada masa penjajahan Jepang, sekitar tahun 1940-an, tradisi minum Jamu kembali populer karena telah dibentuknya komite Jamu Indonesia. Dengan begitu, kepercayaan khasiat terhadap Jamu kembali meningkat. Berjalannya waktu, penjualan Jamu pun menyesuaikan dengan teknologi, diantaranya telah banyak dikemas dalam bentuk pil, tablet, atau juga bubuk instan yang mudah diseduh. Saat itu berbenturan dengan menurunnya kondisi pertanian Indonesia yang mengakibatkan beralihnya ke dunia industri termasuk industri Jamu (baca: industri Fitofarmaka).

Tahun 1974 hingga 1990 banyak berdiri perusahaan Jamu dan semakin berkembang. Pada era itu juga ramai diadakan pembinaan-pembinaan dan pemberian bantuan dari Pemerintah agar pelaku industri Jamu dapat meningkatkan aktivitas produksinya.

Sejak pertama kali masyarakat Indonesia menggunakan Jamu sebagai minuman kesehatan hingga saat ini, pengolahan Jamu berdasarkan ilmu yang diajarkan secara turun-menurun. Namun saat ini, tradisi pengajaran pembuatan Jamu telah jarang dilakukan, sehingga penjualan Jamu gendong sudah jarang ditemukan. Sekarang ini, semakin sedikit anak muda yang ingin belajar membuat Jamu. Sebagian besar dari mereka berpikir untuk mendapatkan Jamu cukup dengan memanfaatkan Jamu yang dijual sachet dan instan.

Perlu diketahui, Jamu dipercaya berasal dari dua kata Jawa Kuno, Djampi yang bermakna penyembuhan dan Oesodo yang bermakna kesehatan. Istilah Jamu diperkenalkan ke publik lewat orang-orang yang dipercaya punya ilmu pengobatan tradisonal. Mesti tak bersertifikat, khasiat Jamu telah teruji oleh waktu secara turun-temurun digunakan sebagai obat tradisional. Sehingga hingga saat ini, minuman berkhasiat khas Indonesia ini selalu terjaga keberlangsungannya. Warisan nenek moyang yang tetap dijaga sampai kapan pun. (K-MP)

sumber : https://indonesia.go.id/ragam/komoditas/sosial/sejarah-dan-perkembangan-jamu-minuman-tradisonal-indonesia, akses tgl 02/06/2020.

Diet sudah dijalani dengan baik. Pola makan teratur sesuai program ditambah aktivitas olahraga seharusnya berhasil menurunkan berat badan. Namun, nyatanya membikin badan langsing tak semudah itu.

Jika berbagai cara sudah dilakoni dan berat badan tak kunjung turun, jangan stres. Barangkali ada yang salah dengan pola diet Anda.

Ada beberapa yang menjadi faktor penghambat proses penurunan berat badan. Beberapa di antaranya mulai dari ketidakcocokan program diet hingga kurangnya waktu tidur.

Berikut mengutip Men's Health, beberapa hal yang mungkin menghambat program penurunan berat badan Anda.

1. Program diet dan olahraga yang tak sesuai

Ada beragam jenis program diet, disertai dengan aktivitas olahraga yang melengkapinya. Namun, terkadang penerapan program itu akan memberikan hasil yang berbeda pada setiap orang.

Wajar, sebab masing-masing individu punya pola hidup harian yang saling berbeda satu sama lain. Hal itu membuat tubuh memiliki kebutuhan yang saling berbeda pula.

"Anda harus menyesuaikan apa yang Anda lakukan untuk diri sendiri," ujar Direktur Eksekutif Global Obesity Prevention Center di John Hopkins University, Brunce Lee.

Jangan takut untuk mencoba beberapa hal yang berbeda untuk menemukan pola diet dan olahraga yang cocok untuk Anda.

2. Tidak memprioritaskan makanan sehat

Penurunan berat badan bukan hanya soal rutin berolahraga, tapi juga dipengaruhi oleh asupan yang masuk ke dalam tubuh. Lee mengatakan, banyak orang masih tidak memperhatikan asupannya dengan baik.

Penurunan berat badan tak akan berhasil tanpa mengendalikan pola makan.

Lee menyarankan untuk membuat buku harian berisi catatan asupan makanan selama sepekan. Kemudian, cari tahu di mana Anda dapat memangkas kalori yang tidak perlu dari diet yang tengah dijalani.

3. Anda hanya berolahraga ke pusat kebugaran

Menghabiskan waktu dengan berolahraga di pusat kebugaran tentu akan membantu penurunan berat badan. Namun, kebanyakan orang tidak konsisten melakukannya karena beberapa alasan seperti malas pergi ke pusat kebugaran.

Aktivitas olahraga tak harus selalu dilakukan di pusat kebugaran. Dalam rutinitas sehari-hari, misalnya, banyak peluang olahraga yang bisa Anda lakukan. Anda bisa mencoba naik turun tangga, berjalan kaki, atau bermain bersama si buah hati.

4. Anda perlu banyak tidur

Tidur sangat penting untuk membantu tubuh kembali pulih setelah berolahraga. Selain menyediakan waktu tidur selama 7-8 jam, pastikan pula Anda mendapatkan kualitas tidur yang baik dengan mengevaluasi lingkungan tidur Anda.

Jika waktu tidur dirasa masih kurang, Anda bisa menyelipkan waktu tidur di siang hari.

5. Anda perlu menemui dokter

Dalam beberapa kasus, konsultasi dengan dokter dapat membantu mengelola kondisi tubuh agar tetap stabil. Datanglah menemui dokter dengan membawa catatan harian berisi daftar asupan dan mintalah saran darinya.

6. Bantuan teman

Jika segala upaya telah dilakukan, Lee menyarankan Anda untuk berteman dengan seseorang yang memiliki pola hidup sehat. Dengan begitu, perlahan Anda akan tertular oleh pola hidup sehatnya. (ims/asr)

sumber : https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20190306072145-255-374885/alasan-diet-dan-olahraga-tak-berhasil-turunkan-berat-badan?, akses tgl 01/06/2020.


Stunting masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang banyak diderita oleh anak-anak di Indonesia. Adapun, pemerintah telah menargetkan penurunan angka stunting hingga 14 persen pada 2024. Namun, ini mungkin akan sulit tercapai dengan kondisi tengah fokus menangani pandemi Covid-19.

Agar target penurunan angka stunting nasional tetap tercapai, dibutuhkan modifikasi strategi kebijakan yang dapat diimplementasikan di tingkat daerah. Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Damayanti Rusli Sjarif, menuturkan dalam mencegah terjadinya malnutrisi, deteksi dini seperti pemantauan pertumbuhan rutin di fasilitas kesehatan memiliki peran krusial.

“Kebijakan stay at home dan physical distancing menyulitkan pemantauan pertumbuhan balita di posyandu. Apabila tidak cepat dideteksi melalui pengukuran berat badan, panjang badan, hingga lingkar kepala, anak-anak bisa menderita malnutrisi kronis hingga menjadi stunting,” katanya dalam acara Webinar di Jakarta beberapa waktu lalu.

Damayanti menambahkan selain mempengaruhi otak, nutrisi pada awal kehidupan, seperti protein hewani, asam amino, zat besi, maupun seng, juga berpengaruh kepada daya tahan tubuh anak. Asupan yang tidak cukup dapat berpengaruh pada penurunan berat badan, weight faltering (kenaikan berat badan yang tidak sesuai kurva), kesulitan nafsu makan, hingga malnutrisi.

Pengamat dan aktivis kesehatan Tubagus Rachmat Sentika juga mengimbau perbaikan dari segi kurangnya infrastruktur regulasi di Kementerian Kesehatan dalam upaya penanganan masalah stunting secara menyeluruh. Menurutnya, meskipun Kementerian Kesehatan telah menerbitkan aturan tentang Tatalaksana Gangguan Gizi Akibat Penyakit melalui Permenkes 29 tahun 2019, implementasinya masih belum berjalan dengan baik.

“Aturan tersebut jelas sekali menyebutkan bahwa penanganan stunting harus dilakukan melalui surveilans dan penemuan kasus oleh Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) dan selanjutnya bila ditemukan gangguan gizi baik, gizi buruk, gizi kurang, kurus, alergi atau masalah medis lainnya harus diberikan Pangan Khusus Medis khusus (PKMK),” jelas Rachmat.

Pengamat Kebijakan Publik Agus Pambagio mengatakan bahwa kebijakan pencegahan stunting ini harus dikawal dan dilakukan mulai pusat sampai daerah melalui kebijakan yang jelas, terkoordinasi dan mudah diimplementasikan.

“Kebijakan yang ada harus dievaluasi dan kementerian melakukan terobosan kebijakan termasuk menyiapkan petunjuk teknis yang jelas misalnya mengenai Pangan Khusus Untuk Kebutuhan Medis Khusus (PKMK) yang terbukti mampu mengatasi stunting pada anak,” tegas Agus

"Salah satu terobosan konkret yang diperlukan adalah pembuatan petunjuk teknis (juknis) tentang program pemberian PKMK yang sudah terbukti berhasil diterapkan," tuturnya.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) sendiri telah mengingatkan seluruh jajaran menteri terkait untuk tidak melupakan ancaman stunting dan penyakit lain yang juga mewabah di tengah masyarakat meski kini pemerintah masih fokus menangani pandemi virus corona. Hal itu ditegaskan Jokowi dalam Ratas Evaluasi Proyek Startegis Nasional untuk Pemulihan Ekonomi Nasional Dampak Covid-19.

"Stunting atau gagal tumbuh merupakan ancaman utama terhadap kualitas manusia Indonesia, ancaman terhadap kemampuan daya saing bangsa. Kita sudah membagi-bagikan biskuit untuk ibu hamil dan balita. Saya lihat itu belum cukup. Tidak cukup, perlu gerakan hidup sehat yang harus dimulai dari lingkungan tempat tumbuh kembang anak-anak menjadi sebuah lingkungan yang sehat," kata Jokowi.

Reporter: Sarah Ervina Dara Siyahailatua
Editor: Yayuk Widiyarti
sumber : https://gaya.tempo.co/read/1347917/atasi-stunting-di-tengah-pandemi-covid-19-ini-saran-pakar, akses tgl 01/06/2020.

Perut buncit menjadi salah satu masalah untuk penampilan. Untuk mendapatkan perut ramping tentu diperlukan beberapa usaha. Olahraga mengecilkan perut buncit bisa kamu coba.


Olahraga menjadi salah satu kunci penting untuk mendapatkan perut ramping. Dengan berolahraga secara teratur minimal 3 kali dalam seminggu dengan durasi minimal 30 menit, maka kamu akan terhindar dari penumpukan lemak di bagian perut.

Berikut ini ulasan gerakan olahraga mengecilkan perut yang dirangkum oleh detikcom:

1. Bersepeda
Olahraga mengecilkan perut ini baik dilakukan oleh pria ataupun wanita. Bersepeda selama 30 menit mampu membakar kalori sekitar 300 kalori. Selain menghilangkan perut buncit, olahraga ini juga melatih otot paha dan tungkai kaki agar lebih kuat. Sebaiknya lakukan bersepeda di pagi hari ya supaya bisa menghirup udara segar sebelum terpapar polusi kendaraan.

2. Renang
Renang merupakan termasuk olahraga tanpa memberikan beban pada titik tumpuan tertentu dari tubuh sehingga kamu akan tetap nyaman tanpa membebani kaki untuk menopang badan. Saat berenang, banyak sekali anggota tubuh yang bergerak sehingga lengan dan paha juga bisa mendapatkan manfaat tersebut.

3. Senam Aerobik
Olahraga ini dapat membakar kalori secara bertahap dan konsisten sehingga olahraga ini mempertahankan unsur-unsur penting dari aktivitas fisik yang baik, seperti gerakan pemanasan, inti, hingga pendinginan. Hal tersebut dapat mencakup oksigen yang dipakai lebih efektif untuk membakar lemak. Sehingga dapat membantu perut lebih rata.

4. Jogging
Olahraga ini termasuk mudah untuk dilakukan bahkan untuk para pemula. Kamu bisa mengkombinasikan secara bertahap mulai dari berjalan perlahan hingga berlari dimulai 20 menit per hari selama 4 hari dalam sepekan. Prinsip olahraga ini yang terpenting ialah tetap bergerak karena kalori yang ada di dalam tubuh akan terbakar meski secara bertahap. Tapi, jika kamu memiliki jadwal yang padat, kamu bisa menggantinya dengan naik turun tangga.

5. Olahraga yang Memakai Raket
Mulai dari olahraga bulu tangkis, tenis, atau ping pong, semua jenis latihan yang menggunakan raket membuat seseorang akan menggerakkan tangannya lebih banyak untuk digerakkan. Gerakan tangan secara intensif ini yang mampu mengencangkan perut.

6. Zumba
Bosan dengan gerakan yang itu-itu saja? Kamu bisa mencoba senam zumba. Zumba sendiri cocok untuk meratakan perut buncit, karena dalam 1 jam bisa membakar sekitar 1.000 kalori dalam tubuh. Dengan iringan musik yang bisa membuat semangat untuk bergerak, pastinya gerakan apa pun akan terasa menyenangkan dan mudah diikuti.

7. Seni Bela Diri (Martial Arts)
Meskipun tujuan utamanya ialah untuk melindungi diri, tetapi kini banyak yang ikut mencoba olahraga ini untuk membentuk otot tubuh terutama otot perut. Semua gerakannya pun membuat tubuh lebih sigap dan kuat karena variasi gerakan seperti meninju, menendang, menangkis serangan dan lain-lain sehingga pastinya otot-otot akan ikut terbentuk termasuk otot perut.

8. Teknik Hula Hoop
Berawal dari permainan, kini tergolong salah satu jenis olahraga loh. Dengan memutarkan hula hoop pada perut, faktanya cukup efektif dalam membakar kalori terutama area perut dan pinggang. Tak hanya senang yang didapat, secara tidak langsung perut juga terlatih aktif untuk bergerak dan lemak di perut secara efektif dapat hilang.

9. Elliptical Trainer
Jika kamu sempat berkunjung ke tempat gym, kamu pasti akan mengenali bentuk olahraga Ellipptical Trainer ini. Cara olahraga satu ini memiliki 3 perpaduan, antara lain ialah jalan cepat, bersepeda dan naik-turun tangga. Selain memberantas lemak perut, kamu juga merampingkan tubuh sekaligus.

10. Gerakan Olahraga Pembentuk Otot Perut
Ada beberapa gerakan olahraga yang berfokus untuk membakar lemak di area perut. Gerakan-gerakan tersebut adalah sit up, back up, sikap lilin dan bicycle crunches. Kamu bisa melakukan olahraga mengecilkan perut sebelum tidur ini secara berurutan dan bertahap.

Jadi olahraga mengecilkan perut seperti apa yang akan kamu coba?

Rizky Wika Shintya Devi
sumber : https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-4731732/10-olahraga-mengecilkan-perut-buncit-dengan-cepat, akses tgl 27/10/2019.


Ternyata, beras bukanlah makanan asli Indonesia meskipun beras saat ini masih menjadi makanan pokok masyarakat Indonesia dan bisa membuat gaduh saat harga tinggi.

Menurut Peneliti Sagu Indonesia, Prof. Nadirman Haska, sagu ternyata telah ada dan menjadi makanan pokok penduduk nusantara jauh sebelum beras masuk ke Indonesia saat dibawa oleh orang India, beberapa abad silam.

Hal ini dibuktikan oleh relief atau pahatan di Candi Borobudur tentang palma kehidupan yakni ada nyiur (kelapa), lontar, aren dan sagu. Candi Borobudur merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Budha di Indonesia

"Sagu itu makanan asli Indonesia. Itu terpahat jelas di relief Candi Borobudur. Saat kerajaan Hindu masuk, orang India bawa beras ke sini," Kata Nadirman Lokasi Pabrik Sagu Perhutani di Distrik Kais, Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat, Kamis ( 31/12/2015).

Secara Antropologi, masyarakat Jawa menyebut beras dengan istilah sego dan masyarakat Sunda menyebut beras dengan sebutan sangu. Sego atau sangu dalam bahasa sesungguhnya ialah sagu.

"Dari awal kita sebelum makan nasi, kita sudah makan sagu," Ujarnya.

Fakta sejarah itu tak lepas dari cadangan pohon sagu alami yang bisa menjadi sumber karbohidrat alternatif, pengganti beras. Indonesia memiliki 1,4 juta hektar (ha) lahan sagu yang tersebar di hutan tropis Sumatera, Kalimantan, Maluku hingga Papua. Namun, Papua dan Papua Barat menyimpan cadangan 1,2 juta ha.

Sayangnya, baru 5% cadangan sagu yang dimanfaatkan sebagai sumber karbohidrat dan produk olahan makanan. Padahal, sagu bisa diolah menjadi makanan lezat seperti siomay, mpek-mpek, bakso hingga papeda.

"Dari sagu yang ada di Indonesia, 95% merupakan sagu yang tumbuh alami," tambahnya.

Lanjut Nadirman, Jepang dinilai sebagai negara di dunia yang peduli dan bersemangat meneliti tentang kasiat sagu. Kondisi bukan tanpa sebab. Tentara Jepang saat kalah berperang di Indonesia, ada yang melarikan diri ke hutan di daerah Halmahera, Maluku. Di sana, Tentara Jepang mampu bertahan hidup di tengah hutan hampir 35 tahun hanya mengandalkan makanan dari sagu.

"Saat ditemukan tahun 1982, dia (Tentara Jepang) sudah hidup di dalam Hutan di Halmahera selama 35 tahun," tutur Nadirman.

Selain itu, Jepang paham bila sagu bakal menjadi produk pangan alternatif di tengah terbatasnya dan menurunnya stok pangan dunia seperti beras di akhir abad 21.

"Akhir abad 21, sagu menjadi salah satu alternatif sumber pangan Indonesia. Indonesia sendiri bisa menjadi pemasok sagu terbesar di dunia, kata Nadirman (feb/hns)

Feby Dwi Sutianto
sumber : https://finance.detik.com/industri/d-3108281/bukan-beras-ini-makanan-asli-ri-sejak-zaman-kerajaan, akses tgl 01/06/2020.