Top News

Pasien positif Covid-19 umumnya makan minum di luar rumah dua pekan sebelumnya.


Makan di luar seperti di restoran, kafe, maupun tempat sejenisnya dilaporkan meningkatkan risiko terkena infeksi virus corona jenis baru (Covid-19) yang lebih besar. Makan di luar rumah lebih berisiko dibandingkan dengan kegiatan lainnya seperti berbelanja di mal maupun pergi ke salon.

Laporan dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (AS) atau CDC mengatakan peningkatan kasus Covid-19 terjadi menyusul banyak negara bagian yang membuka kembali bisnis, secara khusus mengizinkan restoran menerima pengunjung makan di tempat. Laporan CDC menyertakan 314 orang yang memiliki gejala Covid-19 dan setelah menjalani tes, setengah di antaranya dinyatakan positif.

Para peneliti saat itu bertanya kepada semua peserta tentang aktivitas sosial mereka selama dua minggu sebelum pengujian dilakukan. Dilansir NBC News, para peserta tinggal di sejumlah negara bagian AS seperti California, Colorado, Maryland, Massachusetts, Minnesota, North Carolina, Ohio, Tennessee, Utah dan Washington. Masing-masing wilayah memiliki kebijakan aturan pembukaan kembali yang berbeda-beda.

Kedua kelompok tersebut umumnya melaporkan aktivitas serupa, seperti pergi ke gereja, pusat kebugaran, dan toko, dengan satu pengecualian pergi makan atau minum di bar atau kedai kopi. Mereka yang dites positif SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan Covid-19, dikatakan dua kali lebih mungkin makan di restoran dibanding mereka yang memiliki hasil tes negatif.

Sementara, mereka yang didiagnosis tanpa terpapar virus corona jenis baru lebih mungkin melaporkan telah mengunjungi bar atau kedai kopi dalam dua minggu sebelumnya. Peningkatan risko tertular Covid-19 disebut sangat masuk akal, karena sangat mudah untuk mengenakan masker di toko atau di tempat ibadah, tetapi tidak mungkin melakukannya saat makan dan minum.

“Jika orang makan di luar, mereka perlu memikirkakn bagaimana akan melakukannya,” ujar Todd Rice, salah satu penulis laporan dan profesor kedokteran di Vanderbilt University Medical Center.

Selain tanpa masker, setiap individu sering kali berdekatan saat makan di restoran, seperti duduk berseberangan satu sama lain. Rice mengaku bahwa dalam enam bulan terakhir pernah makan di luar, namun mengambil sejumlah tindakan pencegahan yang diperlukan.

"Bahkan jika saya duduk di meja dan makanan belum sampai, saya tetap memakai topeng. Saya tidak akan duduk di meja yang ada di sebelah orang lain dan meminta meja di area outdoor (luar ruangan),” jelas Rice.

Salah satu batasan dari laporan tersebut adalah para peneliti tidak menanyakan partisipan apakah mereka makan atau minum di dalam atau di luar ruangan. Pakar penyakit infeksi berpendapat bahwa area outdoor lebih aman dibanding indoor atau dalam ruangan, yang memiliki lebih sedikit ventilasi. Pedoman CDC untuk makan di luar, yaitu seperti drive-thru, delivery atau pengiriman, pengambilan, dan penjemputan makanan di tepi jalan membawa risiko terendah untuk penularan Covid-19.

Rep: Puti Almas/ Red: Indira Rezkisari
Sumber : https://republika.co.id/berita/qghiza328/laporan-cdc-makan-di-restoran-picu-kasus-covid19, akses tgl 12/09/2020.

Bayi-bayi yang lahir dari pandemi COVID-19 berpeluang menjadi beban demografi karena berkualitas rendah akibat kurang gizi dan akses kesehatan.


Seks merupakan salah satu alternatif aktivitas yang mengurangi stres. Tak heran, selama wabah aktivitas seks cenderung meningkat. Sayangnya seks saat pandemi tak diimbangi penggunaan kontrasepsi sehingga angka kehamilan tidak diinginkan (KTD) ikut-ikutan naik.

Efek wabah COVID-19 tak cuma menyasar adaptasi perilaku bersih dan masalah kesehatan semata, tapi lebih luas dari itu. Pemberlakuan karantina wilayah atau pembatasan di banyak negara dunia mempengaruhi kehidupan ekonomi, sosial, dan aktivitas seks para warganya.

Beberapa penelitian sudah mengemukakan, bahwa selama pandemi kali ini aktivitas seksual cenderung meningkat. Salah satunya terbit di International Journal of Gynecology & Obstetrics. Studi dari Turki ini mengungkap bahwa aktivitas seksual dilakukan sebanyak 2,4 kali seminggu saat pandemi, dibanding 1,9 kali seminggu sebelum pandemi.

Sementara aktivitas seksual meningkat, penggunaan kontrasepsi justru menurun dari 41,3 persen menjadi 17,2 persen. Badan kesehatan seksual dan reproduksi PBB (UNFPA) juga memperkirakan dalam jangka enam bulan karantina wilayah, akan ada 47 juta perempuan dari 114 negara berpenghasilan rendah dan menengah tidak dapat mengakses kontrasepsi modern.

Dari jumlah tersebut diperkirakan ada sekitar 7 juta kehamilan tidak direncanakan (KTD) akan terjadi. Setiap tiga bulan berikutnya, jumlah perempuan yang tidak dapat mengakses kontrasepsi modern bertambah sebanyak 2 juta jiwa. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyebut tren serupa di Indonesia.

Dibandingkan dengan tahun 2019 (13 juta) di periode yang sama (Januari-April), terjadi penurunan angka pelayanan KB hingga lebih dari 1 juta pada tahun 2020 (12 juta). Kondisi ini dipengaruhi beberapa faktor, di antaranya rasa takut masyarakat untuk mendatangi fasilitas kesehatan.

Kemudian terdapat pembatasan kunjungan di fasilitas kesehatan, minimnya Alat Pelindungan Diri (APD) bagi tenaga kesehatan pelayanan KB. Secara general penggunaan berbagai alat kontrasepsi di seluruh Indonesia pada periode Februari-Maret 2020 menurun 35-47 persen.

“Ini bisa berimbas pada peningkatan jumlah kehamilan tidak direncanakan sebesar 15-20 persen pada 2021,” ungkap Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo dalam webinar bersama DKT Indonesia.

Angka tersebut jika dikalkulasi bisa mencapai 370 hingga 500 kehamilan. Namun BKKBN telah membuat prediksi peningkatan kehamilan hingga menyentuh angka 420. Hitung-hitungannya didapat dari perkiraan jumlah pasangan usia subur (20-35 tahun) sebanyak 2,5 juta yang tidak memakai KB.

Krisis Pangan Perparah Keadaan

Di sisi yang berbeda, pandemi COVID-19 ikut mengobrak-abrik tatanan pangan dunia. Indonesia sendiri tengah bersiap menghadapi dua masalah terkait kondisi tersebut: ketimpangan neraca pangan oleh aktivitas impor dan pembatasan pasokan dari negara eksportir.

Akibat karantina atau pembatasan, sejumlah jalur distribusi pangan terputus, terjadi penimbunan bahan pangan oleh sebagian pihak, dan harga bahan pangan melonjak. COVID-19 secara langsung atau tidak punya potensi mengganggu sistem pangan nasional serta menimbulkan kerawanan pangan dan gizi.

Menurut analisis Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), pandemi ini telah mencederai sumber daya manusia di sektor pertanian dan pangan menjadi sakit. Terjadi kekurangan tenaga kerja yang kemudian berdampak pada masalah sistem pangan nasional, mata-rantai pasok pangan mulai dari farm (lahan pertanian, peternakan, perikanan, dan perkebunan) hingga ke meja makan konsumen.

“Gangguan sistem pangan berkepanjangan menyebabkan turunnya jumlah dan mutu asupan gizi,” tulis Wirakartakusumah, dkk dalam siaran yang diterima Tirto.

Saat pandemi seperti sekarang ini asupan gizi sangat diperlukan untuk menjaga imunitas tubuh agar tidak terserang virus atau menang dalam proses penyembuhan. Ketika jumlah dan mutu pangan turun, pada gilirannya akan memengaruhi imun, dan mengurangi status gizi masyarakat dan produktivitas nasional.

Sebelum ada pandemi, Indonesia sudah kekurangan tenaga petani dan lahan mereka. Data Kementerian Pertanian menunjukkan dalam tujuh tahun terakhir kita kehilangan lebih dari 10 juta petani. Sementara lahan persawahan berkurang lebih dari satu juta hektar selama periode 2014-2018.

Neraca pangan dari aktivitas ekspor saat ini juga tengah suram. Negara penghasil pangan seperti Vietnam dan India memilih mengamankan cadangan pangan dalam negeri. Padahal selama ini sebanyak 30 persen komoditas beras impor Indonesia dipasok Vietnam (2018). Sementara India mengirimkan bawang merah, putih, dan juga gula.

“Momentum COVID-19 perlu jadi pelajaran bagi Indonesia untuk membenahi sistem ketahanan, kemandirian, dan kedaulatan pangan nasional secara serius.”

Para peneliti yang tergabung dalam Komisi Ilmu Rekayasa AIPI kemudian memberi rekomendasi agar pemerintah mulai beralih ke sumber pangan alternatif seperti sagu, singkong, jagung, dll. Untuk menjaga ketahanan pangan selama wabah perlu juga untuk memberi perlindungan bagi pekerja sektor pertanian dan pangan.

Di sisi lain masyarakat harus mulai berdaya untuk meningkatkan produksi pangan lokal dengan berkebun, menyimpan dan mengolah pangan secara tepat dengan mengurangi limbah makanan (food waste), serta menahan diri dari panic buying.

Beban Negara dari Jeleknya Bonus Demografi

Kolaborasi antara peningkatan kehamilan, krisis kesehatan, ekonomi, dan pangan di kala pandemi melahirkan masalah yang tak kalah runyam: Tabungan generasi muda Indonesia yang berkualitas buruk.

Saat pandemi banyak keluarga mengalami penurunan ekonomi sehingga perlu melakukan penghematan termasuk pada pola konsumsi mereka. Ketika bersamaan terjadi kehamilan, maka sangat mungkin risiko stunting atau kekerdilan, angka kematian ibu, dan angka kematian janin jadi meningkat.

Padahal tanpa penghematan pola konsumsi dan krisis pangan, proporsi status gizi balita Indonesia berdasar Riskesdas 2018 masih berada di bawah target RPJMN 2019. Status gizi buruk dan gizi kurang pada balita berada di angka 17,7 persen (RPJMN 17 persen). Sementara proporsi status gizi sangat pendek dan pendek mencapai 30,8 persen (RPJMN 28 persen).

“Besar sekali kemungkinan stunting karena tinggi pembatasan,” ungkap Ketua Umum Ikatan Bidan Indonesia, Emi Nurjasmi dalam webinar yang sama.

Pertumbuhan janin sangat bergantung pada trimester pertama kehamilan. Namun di tahap awal kehamilan, ibu sering mengalami masalah mual muntah. Keterbatasan akses kesehatan bisa membuat permasalahan tersebut tidak teratasi. Apalagi banyak kehamilan tidak disadari pada trimester awal. Akhirnya asupan makanan untuk janin pun tidak tercukupi.

Bayi-bayi yang lahir prematur atau stunting lebih banyak menguras ekonomi ketika proses kehamilan dan persalinan. Selain itu mereka akan menjadi beban baru bagi negara karena Indonesia akan mendapat bonus demografi (2030-2040) dengan kualitas rendah.

Jika pemerintah tak segera menata satu-persatu permasalahan pangan dan kesehatan secara tepat, maka ekses dari pandemi COVID-19 akan dipanen hingga puluhan tahun mendatang.

Oleh: Aditya Widya Putri
sumber : https://tirto.id/memanen-generasi-kerdil-dari-pandemi-covid-19-fH4K?utm_source=Tirtoid&utm_medium=Terkait, akses tgl 13/09/2020.

Nah pertanyaannya adalah makanan seperti apa yang baik untuk kita yang bukan hanya sekedar menghilangkan rasa lapar tetapi juga menghilangkan kemiskinan


HILANGNYA kemiskinan dan nihilnya kelaparan (No Poverty and Zero Hunger) adalah goals pertama dan kedua dari 17 goals yang disepakati oleh negara-negara di dunia dengan apa yang disebut Sustainable Development Goals atau SDGs. Target pencapian SDGs ini semula adalah 2030, namun  banyak kalangan meragukan pencapaian ini lebih-lebih setelah adanya pandemi global Covid-19 yang dialami oleh hampir seluruh negara di dunia tahun ini.

Saya melihat justru sebaliknya, pandemi covid-19 bisa menjadi momentum global untuk mempercepat program pengentasan kemiskinan dan pengatasan problem kelaparan – yaitu apabila masyarakat di dunia mau berubah – itu saja syaratnya. Dan peluang masyarakat untuk­­­ berubah ini menjadi semakin besar ketika masyarakat kepepet – seperti dilanda pandemi, hilangnya pekerjaan, tekanan ekonomi dan lain sebagainya yang kini terjadi secara massif di seluruh dunia.

Mengapa saya sangat yakin dengan pendapat saya ini? Karena ada dasar hukum yang sangat kuat untuk masalah makanan dan kemiskinan ini baik yang berasal dari Al-Qur’an maupun hadits. Kita tahu bahwa kemiskinan dan kelaparan itu amat erat dan keduanya beririsan di masalah makanan, ketika makanan kita benar maka akan hilang dengan sendirinya kelaparan dan kemiskinan itu.

Nah pertanyaannya adalah makanan seperti apa yang baik untuk kita yang bukan hanya sekedar menghilangkan rasa lapar tetapi juga menghilangkan kemiskinan. Jangan tanyakan masalah ini ke mbah Google karena kalau Anda bertanya kepadanya tentang makanan yang baik, hasilnya Anda akan bingung sendiri. Satu pihak mengatakan ini makanan yang baik, yang lain dengan kompetensi yang sama akan mengatakan makanan ini buruk dst.

Bertanyalah pada Al-Qur’an, maka Al-Qur’an akan memberikan jawaban yang sangat rinci yang kebenarannya hakiki sepanjang zaman. Tentang makanan kita misalnya, ada rincian detail yang merenceng susunan makanan kita dari biji-bijian, buah, sayur, rempah dan hasil ternak di Surat ‘Abasa dari ayat 23 sampai 32.

Contohlah sebaik-baik contoh –uswatun hasanah– yang memberikan rincian yang sangat detil tentang apa-apa yang beliau makan, bahkan termasuk bagaimana cara memperoleh atau memproduksi bahan makanan tersebut. Maka dalam konteks mencari makanan yang paling unggul inilah, sebaik-baik search engine yang kita gunakan adalah pencarian di dalam Al-Qur’an dan Hadits.

Setelah Al-Qur’an merenceng makanan terbaik kita di surat ‘Abasa tersebut misalnya, Allah juga memberi tahu kita cara mengkonsumsinya di Surat  Al-Mu’minun ayat 23 “…wa sibghil lil akilin” yaitu dengan mencelup/mengolesi makanan kita dengan minyak zaitun. Lebih jauh ada contoh yang sangat indah dari Rasulullah SAW ketika menghibur istrinya dengan mengungkapkan cuka adalah sebaik-baik lauk pauk dalam hadits berikut:

Dari Jabir bin Abdullah meriwayatkan bahwa: “Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memegang tanganku (dan menuntunku) ke rumahnya, disajikan ke beliau sejumlah roti, kemudian beliau bertanya: adakah lauknya? yang di rumah menjawab: Tidak, yang ada hanya cuka. Kemudian beliau membalas: cuka adalah lauk yang baik. Jabir berkata: saya selalu mencintai cuka ini setelah mendengarnya dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Talha mengatakan: Saya selalu mencintai cuka ini sejak saya mendengar tentangnya dari Jabir.” (Sahih Muslim).

Tentang lauk terbaik ini Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bahkan mengajarkan sendiri kepada para sahabatnya cara membuatnya, agar tidak keliru dengan alkohol atau khamr yang dilarang. Keduanya adalah produk fermentasi dari buah atau biji-bijian, tetapi khamr haram dan dilarang untuk dikonsumsi sedangkan cuka justru dicontohkan dan dikatakan sebaik lauk terbaik. Bagaimana membedakannya? Perhatikan salah satu mukjizat Nabi yang ditunjukkannya melalui hadits berikut :

Dari Ibnu Al-dailami dari ayahnya berkata: “Kami bertanya kepada Rasulullah, Wahai Rasulullah, kami memiliki anggur, apa yang harus kami lakukan dengannya? Beliau menjawab: ‘Buat kismis”, Kami bertanya:”Apa yang harus kami lakukan dengan kismis?”, Beliau menjawab : “Rendam (dengan air) pagi hari dan  minum di sore hari, rendam di sore hari dan minum di pagi hari “, Saya bertanya : “Bolehkan saya rendam lebih lama agar lebih kuat?” beliau menjawab :”Jangah ditaruh dalam wadah yang terbuat dari tanah (keramik) tetapi taruhlah dalam wadah dari kulit,dia akan bertahan lama, dan berubah menjadi cuka” (Sunan An-Nasai, dan Sunan Abu Dawud dengan redaksi yang berbeda).

Apa mukjizat yang tersimpan dalam petunjuk Nabi tentang tata cara membuat cuka tersebut? perhatikan wadah yang digunakan. Lebih dari seribu tahun setelah hadits tersebut, manusia baru bisa membedakan apa itu ragi dan apa itu bakteri. Ragi melakukan fermentasi tanpa udara (anaerob)  dan menghasilkan Alkohol plus CO2, sementara bakteri melakukan fermentasi dengan udara (aerob) dan hasilnya adalah cuka.

Anggur bila direndam di tempat tanpa udara seperti pada wadah yang terbuat dari tanah liat atau keramik yang dihasilkan adalah alkohol yang haram. Bila disimpan dalam wadah dari kulit (Qirbah), bakteri yang ada di dalamnya tetap berespirasi dengan udara, fermentasinya dengan cara aerob dan hasilnya cuka yang menjadi lauk terbaik di atas.

Dari mana Nabi tahu cara kerja jasad renik yang sangat berbeda satu sama lain tersebut sedangkan mikroskop-pun baru ditemukan berabad-abad kemudian? Itulah mukjizat, Nabi memperoleh ilmunya langsung dari Allah tanpa perlu eksperimen maupun uji laboratorium, kita tinggal mengikutinya saja.

Di jaman modern ini alat yang kita gunakan bisa saja berbeda, tetapi harus mengikuti cara kerja yang sama. Proses pembuatan cuka yang halal tidak boleh mengikuti cara kaum non muslim yang membuatnya dari alkohol, harus dari awal dibuat dengan yang dijelaskan dalam hadits tersebut di atas. Kalau tidak punya wadah dari kulit, bisa diganti dengan wadah dari kaca yang ditutup kain, sehingga fermentasinya tetap aerob. Tidak boleh dipercepat dengan dibuat alkohol dahulu baru dijadikan cuka, karena hal inipun pernah ditanyakan ke beliau dan dijawab tidak boleh.

Dari Anas bin Malik berkata: “Abu Thalhah bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tentang beberapa anak yatim yang mewarisi khamr dari anggur. Jawab Nabi: Tuang (buang ke tanah). Dia bertanya :”Bolehkah aku buat cuka darinya?” Nabi Menjawab: Tidak” (Sunan Abu Daud)

Dari rangkaian hadits ini satu sisi umat Islam harus ekstra hati-hati ketika membeli cuka organic sekalipun, karena kalau prosesnya melalui khamar dahulu – jatuhnya tidsk boleh seperti dalam hadits tersebut. Di sisi lain, inilah peluang untuk membuat cuka yang bener-bener halal sesuai panduan dalam hadits sebelumnya.

Lantas apa hubungan antara cuka sebagai lauk terbaik dengan pengentasan kemiskinan ? perhatikan hadits berikut :

Dari Ummu Sa’d berkata : ” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memasuki rumah Aisyah ketika saya sedang bersamanya, dan bertanya : ” Adakah makanan?”, dia menjawab: “kami punya roti, kurma dan cuka”, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam berkata ” Betapa berkahinya lauk dari cuka, Ya Allah berkahilah cuka karena dia adalah lauk-pauk para Nabi sebelumku, dan tidak akan pernah  ada rumah yang menjadi miskin yang di dalamnya ada cuka” (Sunan Ibnu Majah)

Kuncinya adalah keberkahan cuka yang bukan hanya didoakan khusus oleh Nabi, tetapi juga dia merupakan lauk para nabi sebelumnya. dan secara spesifik sekali Nabi menyebut rumah yang tidak akan pernah miskin selama di dalamnya ada cuka. Apa Maknanya?

Cuka sangat mudah dibuat sendiri dari aneka buah-buahan yang ada di sekitar kita, dan karena dia adalah lauk terbaik – maka bisa kita gunakan untuk makan apa saja. Kita tidak akan pernah kelaparan asal mau saja sedikit berusaha untuk membuat cuka sendiri. Kalau kita tidak kelaparan, maka otomatis kita juga tidak miskin karena kebutuhan kita yang paling mendasar yaitu makan telah terpenuhi.

Manusia modern menggunakan cuka untuk makan salad, roti dan lain sebagainya. Dari sejumlah penelitian diketahuilah bahwa cuka dalam makanan ternyata membantu menstabilkan gula darah, mencegah penggumpalan darah, mencegah penyakit jantung, membuat kita awet kenyang dan karenanya merupakan instrumen yang ideal untuk weight management.

Nah sekarang kalau kita bisa makan cukup, dan kesehatan terkelola dengan baik – bukankah kebutuhan paling mendasar kita terpenuhi? Bukankah masalah kemiskinan dan kelaparan teratasi? Lebih dari itu segala macam buah, sayur dan rempah yang mudah tumbuh di sekitar kita akan terasa lezat bila dimakan bersama minyak (petunjuk Allah di QS 23:20 tersebut di atas) yang dicampur cuka  – yang juga dicontohkan dalam menu harian Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Lebih dari 1000 tahun kemudian, di Eropa khususnya Perancis orang mulai mengenal lauk pauk yang disebut Vinegar – bahasa Perancis yang artinya anggur asem – yaitu cuka,kemudian mencampur Vinegar ini dengan minyak zaitun yang kemudian disebutnya Vinaigrette (bila emulsinya bersifat sementara) atau Mayonnaise (bila emulsinya bersifat permanen). Sejatinya Vinaigrette maupun Mayonnaise adalah campuran minyak dengan cuka dan bumbu-bumbu sesuai kesukaan, bedanya kalau Mayonnaise diberi juga emulsifier sehingga membentuk emulsi yang bersifat permanen – menjadi seperti cream. Vinaigrette dan Mayonnaise adalah versi kekinian dari lauk pauk yang digunakan oleh Rasulullah tersebut di atas. Kemungkinan besarnya Perancis belajar dari negeri tetangganya Spanyol yang menyerap peradaban Islam selama berabad-abad lamanya.

Bila manusia modern makan salad dengan lauk vinaigrette atau mayonnaise agar sehat, mengapa kita tidak mau lebih maju dari itu – kembali ke petunjuk dan sebaik-baik contohnya langsung – yang sudah diformulasikan dan digunakan sehari-hari seribu tahun sebelumnya, dan bahkan dijamin tidak miskin bila kita mengikutinya?

Mengapa kita tidak miskin kalau makanan kita berbasis cuka, minyak, aneka buah, sayur dan rempah atau yang dikenal sebagai salad? Karena seluruh unsurnya bisa kita produksi sendiri  dari segala jenis sumber daya yang ada di sekitar kita. Lihat formula dasar ekonomi suatu negara yang menghitung GDP = Konsumsi + Investasi+Pengeluaran Pemerintah+(Ekspor-Impor). Ketika kita tidak mengimpor makanan atau mendatangkan dari tempat lain, maka GDP kita akan tinggi dan kita akan menjadi rakyat yang makmur. InsyaAllah*

Oleh: Muhaimin Iqbal
Penulis adalah pendiri Geraidinar.com
Rep: ~
Editor: Rofi' Munawwar
sumber : https://www.hidayatullah.com/kolom/ilahiyah-finance/read/2020/06/22/186646/makanan-yang-membuat-tidak-miskin.html, akses tgl 16/09/2020.

Viral di media sosial sebuah video promosi odading oleh penjualnya di Bandung. Sebenarnya seperti apa odading itu? Ini beberapa faktanya.


Odading adalah jajanan khas bandung, berupa roti goreng yang memiliki rasa manis dan tekstur empuk. Belakangan ini odading jadi perbincangan publik setelah viralnya sebuah video pria yang mempromosikan odading dari sebuah warung di Bandung bernama Odading Mang Sholeh.

Video itu berhasil menyita perhatian jagat maya lantaran cara si pria saat mempromosikan bernada ngegas dan terkesan marah. Namun, video itu juga membuat warung odading Mang Sholeh jadi laris disambangi pembeli.

Di samping itu, masih ada yang belum tahu tentang odading. Jajanan tradisional khas Bandung ini memiliki fakta menarik, seperti asal-usul nama, resep hingga variasi kekiniannya,

Dilansir dari beberapa sumber, berikut 5 fakta tentang odading.

1. Jajanan Khas Bandung


Odading dikenal sebagai jajanan tradisional khas Bandung, Jawa Barat. Jajanan tersebut berupa adonan roti yang digoreng, maka tak heran ada orang yang menyebut odading dengan sebutan roti goreng.

Odading memiliki rasa yang manis dengan tekstur yang empuk. Paling enak disantap bersama dengan kopi atau teh. Selain disebut roti goreng, odading juga memiliki nama sebutan lainnya, yaitu roti bantal.

Biasanya dijual berbarengan dengan jajanan cakwe. Tak sedikit yang menyebut bahwa odading ini sama seperti cakwe, hanya saja dibuat dengan versi yang lebih manis. Maka tak keran banyak penjual cakwe yang juga menjual odading. Meski begitu, adonan odading berbeda dengan adonan cakwe.

2. Asal Usul Nama Odading


Dilansir dari beberapa sumber, nama odading diambil dari kisah sebuah keluarga Belanda yang tinggal di Indonesia. Saat itu, anak dari keluarga Belanda tersebut meminta ibunya untuk membelikan jajanan yang dijual oleh warga sekitar.

Tanpa tahu nama dari jajanan yang dimaksud, anak itu hanya menunjuk-tunjuk ke penjualnya. Kemudian, sang ibu dan anaknya mendekati si penjual. Dan begitu membuka dagangannya yang ditutup daun pisang, anaknya langsung menunjukkan kue goreng yang dijajakan.

Lantas, si ibu berkata dalam bahasa Belanda 'O, dat ding' yang artinya 'O yang itu'. Sejak saat itulah kue goreng tersebut diberi nama odading, karena pada saat itu masyarakat sekitar juga tidak memberinya nama khusus pada jajanan tersebut.

3. Punya Banyak Sebutan


Meski berasal dari Bandung, tetapi odading juga dikenal di beberapa daerah lainnya. Karenanya odading memiliki banyak nama sebutan. Di Bandung sendiri, odading juga dikenal dengan sebutan roti goreng atau roti bantal.

Sementara di Jawa Tengah odading lebih dikenal dengan sebutan roti bolang-baling. Namun, roti bolang-baling di Jawa Tengah ini sering ditaburi biji wijen di lapisan luarnya.

Tak hanya di Jawa saja, di Medan juga ada adonan roti goreng serupa. Di Medan, roti goreng tersebut dikenal dengan sebutan roti bohong. Disebut 'roti bohong' karena memang roti tersebut tidak ada isiannya, hanya polosan saja.

4. Dikenal Sebagai Jajanan SD


Banyak orang yang mengenal odading sebagai jajanan masa Sekolah Dasar (SD) pada tahun 90-an. Saat itu banyak penjual yang menjajakan odading di sekolah-sekolah. Saat istirahat maupun pulang sekolah, siswa-siswa pasti tak ketinggalan untuk membelinya.

Namun, semakin berjalannya waktu, eksistensi odading semakin memudar. Bahkan jajanan manis dan empuk ini sudah tak nampak dijajakan di sekolah-sekolah. Kini odading biasanya dijual di warung-warung pinggir jalan berbarengan dijajakan dengan cakwe.

5. Variasi Odading Kekinian


Odading yang klasik hanya polosan saja. Kemudian ada yang menambahkan biji wijen untuk variasinya. Semakin berkembangnya zaman, odading ada juga yang divariasikan dengan gaya yang lebih kekinian.

Odading dengan berbagai topping, seperti ovalmatine, tiramisu, green tea, dark chocolate, strawberry, white chocolate, dan lainnya. Bukan hanya rasanya saja yang kekinian, penyajian odading ini juga berbeda dari biasanya.

Odading yang sudah digoreng itu dipotong-potong seukuran gigitan, sehingga lebih mudah saat dimakan. Kemudian ditaruh ke dalam kemasan baru dilumuri dengan topping. Tak kalah mewah, juga bisa ditambahkan marshmallow, milo, keju dan lainnya.

Riska Fitria - detikFood
sumber : https://food.detik.com/info-kuliner/d-5172310/viral-odading-mang-sholeh-ini-5-fakta-tentang-odading, akses tgl 16/09/2020.

Akhir Juli lalu, Klepon mendadak  menjadi jajanan yang viral dibahas oleh warganet. Dan di bulan September ini, warganet kembali ramai membahas jajanan. Kali ini bukan Klepon, melainkan Odading.


Odading? Odading jajan apaan? Kok bisa viral? Hayuk, kita cari tahu!

Berkenalan dengan Odading

Odading adalah jajanan ringan yang khas berasal dari Bandung. Odading merupakan kudapan berbentuk roti dengan bahan baku terigu, gula, pengembang, soda kue, dan pemanis yang dibentuk adonan kemudian digoreng sampai matang.

Odading memiliki rasa yang manis-manis bercampur gurih-gurih nyoi. Cocok untuk kudapan yang menjadi teman ketika ngopi atau ngeteh.

Apalagi ketika dinikmati hangat-hangat bareng isteri di sore hari saat hujan atau saat angin bertiup sepoi-sepoi, sambil haha-hihi mengingat kembali kisah-kisah percintaan berdua di masa lampau. Syahdu pisan euy! Hehe.

Namun bagi sebagian orang, nama Odading masih terdengar asing. Kiprah Odading sebagai penganan ringan selama ini hanya berkisar di daerah asalnya Bandung dan sekitarnya. Kiprahnya masih kalah dengan klepon yang sudah terkenal dalam skala nasional.

Padahal, Konon Odading adalah jajanan ringan yang sudah ada di Indonesia sejak jaman penjajahan Belanda. Sastrawan Remy Sylado menyebutkan dalam bukunya, 9 dari 10 bahasa Indonesia Adalah Asing dan Bahasa Menunjukkan Bangsa, bahwa asal-usul nama Odading adalah dari Nyonya Belanda.

Pada awalnya, tidak ada yang menyebut bahwa makanan ini dinamakan sebagai Odading. Namun pada suatu hari, ada seorang Nyonya Belanda yang keheranan dengan anaknya yang menangis minta untuk dibelikan kue yang dijual oleh anak kampung di seberang jalan.

Kemudian si Nyonya menuruti keinginan anaknya dan bersama anaknya ia menuju tempat penjual kue itu. Sesampainya di sana, si Nyonya yang penasaran menyuruh si penjual untuk membuka daun pisang yang menutupi kue.

Begitu melihat bentuk kue itu, si Nyonya berkata kepada anaknya "O, dat ding?" Yang artinya "O, barang itu?" (Ngomong dong dari tadi!). Sejak saat itulah, Kue itu akhirnya dinamai dengan "Odading".

Namun, beruntunglah si Odading, belakangan ini nama Odading perlahan sudah semakin banyak dikenal oleh warga nasional. Sebanya adalah karena munculnya video Mang Oleh Ironman yang bikin heboh sampai viral.

Video Mang Oleh? Kok bisa bikin viral si Odading?

Makan Odading, Rasanya Seperti Menjadi Ironman

Ramai buah jempol warganet membahas Jajan Odading berasal dari sebuah video unik dari Ade Londok sedang mengulas Odading yang dijual Pak Sholeh alias Mang Oleh (55) dengan cara ngegas. Begini ulasan dia soal rasa dari satu gigit odading yang dijual Mang Oleh:

Odading Mang Oleh, hmmm…, rasanya seperti Anda menjadi Iron Man. Belilah odading Mang Oleh didieu (di sini) karena lamun teu ngadahar (kalau tidak makan) odading Mang Oleh, maneh teu gaul jeung aing (kamu tidak gaul dengan saya), lain balad aing (bukan kawan saya), g*b**g. Ikan hiu makan tomat, g*b**g mun teu kadieu (kalau tidak ke sini). Odading Mang Oleh, rasanya, a*j**g banget."


Video ulasan tersebut penuh dengan ketidakjelasan baik struktur kata maupun kesopanan berbahasanya, namun disitulah keunikannya sehingga banyak warganet yang tertarik mengenal Odading hingga mampu membuat banyak orang dari berbagai penjuru semesta untuk ramai berbondong menuju kedai Odading Mang Oleh.

Terbukti dari pengakuan Mang Oleh kepada pikiran-rakyat bahwa kedai Odadingnya yang berlokasi di Pasar Kosambi Bandung itu semakin ramai dikunjungi oleh pembeli semenjak video review ngegas itu viral. Banyak orang-orang yang pengen nyoba, pengen merasakan menjadi ironman setelah makan odading.

"Lumayan ramai," kata sholeh pada Minggu 13 September 2020.

Video tersebut juga mampu membuat banyak orang yang sebelumnya tidak tahu apa itu Odading, menjadi penasaran untuk mencari informasinya lewat Internet. Dalam pemantauan saya di google trends hari ini, grafik orang-orang yang mencari informasi lewat kata kunci "odading adalah" naik sebanyak 190% dalam seminggu terakhir.


Wah. Ini mah keren sih. Ternyata kata-kata kotor dan ngegas mampu dijadikan sebagai sarana promosi kuliner ya.

Mang Oleh senang karena Kedainya makin ramai, seluruh Negeripun senang karena bisa menjadi mendadak menjadi ironman setelah mengenal jajanan odading.

Duh, rasanya aku jadi pengen ngegas dan berkata-kata kotor juga untuk mempromosikan rengginang buatan Simbahku di rumah. hehe.

Bagaimana, Apakah kamu tertarik mencicipi rasa odading? atau mumpung viral, kamu tertarik jualan odading di tempat tinggalmu?

Penutup

Demikian cerita dari saya, terimakasih sudah membaca perjajanan ini sampai akhir. Semoga menghibur, syukur syukur bermanfaat. Sekian. Salam!

O, iya untuk informasi asal usul nama odading aku dapat baca dari situs historia.id

Abdul
sumber : https://www.kompasiana.com/musvic/5f5f8daa097f3675701e9e94/habis-klepon-terbitlah-odading?page=all, akses tgl 16/09/2020.

Menyembelih Hewan Dua Kali, Dua Saluran Belum Terputus

Pertanyaan:
Assalamualaikum admin, apa hukum menyembelih hewan 2 kali, karena sembelihan pertama tidak mati, sebab salah satu dari dua jalurnya tidak putus, terus disembelih lagi ?


Jawaban:

Wa’alaikumussalam, bismillah walhamdulillah wassholatu wassalamu ala Rasulillah, amma ba’du.

Saudara-saudari yang kami cintai karena Allah ﷻ, perlu kita ketahui bahwa Rasulullah ﷺ memerintahkan kita agar melakukan proses sembelihan dengan sebaik-baiknya, sebagaimana sabda beliau ﷺ:

وإذا ذبحتم فأحسنوا الذبح واليحد أحدكم شفرته فليرح ذبيحته

Dan jika kamu menyembelih maka sembelihlah dengan cara yang baik, tajamkan pisaumu, dan senangkanlah hewan sembelihanmu” (HR. Muslim: 3615).

Sehingga, perintah beliau pada dasarnya merupakan kewajiban yang harus kita taati.

Di antara syarat sah sembelihan adalah dengan menumpahkan darahnya yaitu memotong urat/saluran yang terdapat pada leher hewan tersebut, Rasulullah ﷺ bersabda:

ما أنهر الدم وذكر اسم الله عليه فكلوه ليس السن والظفر

Setiap yang ditumpahkan darahnya dengan disebut nama Allah maka makanlah, kecuali yang disembelih dengan menggunakan gigi dan kuku” (HR. Bukhari: 2308).

Urat yang terdapat pada leher hewan ada 4 jenis: Tenggorokan (Saluran Pernafasan), Kerongkongan (Saluran pencernaan), dan 2 urat besar di sisi samping leher. Sehingga Para Ulama sepakat jika salah satu dari 4 urat tersebut tidak ada yang terpotong maka sembelihan tidak sah dan dagingnya tidak halal dimakan, sebagaima perkataan syaikh Utsaimin rahimahullah:

فإن لم يقطع االودجين, ولا المريئ, ولا الحلقوم تكون الذبيحة حراما بإجماع العلماء, لأنه ما حصل المقصود من إنهار الدم

“Maka jika 2 urat besar di sisi leher tidak terpotong, begitu juga kerongkongan dan tenggorokan semuanya tidak terpotong, maka hukum daging sembelihannya menjadi haram sesuai dengan kesepakatan para ulama; karena maksud dari menumpahkan darah di sini tidak tercapai. (As-syarhul Mumti’: 7/457).

Kemudian para ulama berbeda pendapat mengenai batasan minimal pada urat leher yang harus terpotong saat melakukan proses penyembelihan:

ويرى الحنفية الاكتفاء بقطع الثلاث منها, ويرى المالكية صحة قطع الحلقوم والودجين دون المريء, ويرى الشافعية والحنابلة صحة قطع الحلقوم والمريء

“Ulama mazhab Hanafi berpendapat bahwa dicukupkan dengan memotong 3 urat/saluran dari 4 saluran tersebut, dan ulama mazhab Maliki berpendapat sahnya sembelihan dengan memotong tenggorokan (saluran pernafasan) dan 2 urat di sisi leher tanpa harus memotong kerongkongan (Saluran makanan/minuman, dan Ulama mazhab Syafi’I dan Hambali berpendapat bahwa sah nya sembelihan dengan memotong Tenggorokan dan Kerongkongan.” (Al-Fiqh Al-Muyassar: 4/18).

Sehingga sebaik-baik sembelihan adalah yang memotong 4 urat/saluran yang terdapat pada leher hewan tersebut seluruhnya, karena terbebas dari perselisihan pendapat para ulama (As-Syarhul Mumti’: 7/457). Dan Hendaklah dilakukan dengan kuat dan cepat, yaitu satu kali proses penyembelihan.

أن يمر السكين أو الآلة بقوة وسرعة ليكون أسرع, ولأن فيه إراحة للذبيح لقوله صلى الله عليه وسلم: (إذا ذبح أحدكم فليجهز)

“Dan Hendaklah ia mengayunkan pisau atau alat sembelih secara kuat dan cepat agar mempercepat proses sembelihan, dan supaya menenangkan hewan sembelihan, berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ (Jika seseorang di antara kalian menyembelih hendaklah ia mempercepat proses sembelihan)(HR. Ahmad: 5864) (Al-Fiqh Al Muyassar: 4/21).

Namun, pada sebagian kasus karena kurang hati-hati dalam menyembelih, atau pisau/golok yang digunakan tidak tajam, maka setelah proses penyembelihan ternyata urat-urat leher yang seharusnya putus malah tidak putus, sehingga membutuhkan penyembelihan untuk kedua kalinya, dalam hal ini Imam An-Nawawi berkata:

قال أصحابنا: ولو ترك من الحلقوم والمريء شيئا ومات الحيوان فهو ميتة, وكذا لو انتهى إلى حركة المذبوح فقطع بعد ذلك المتروك فهو ميتة

“Para Ulama dari Mazhab Syafi’I berkata: dan jika tertinggal sesuatu dari tenggorokan dan kerongkongan (tidak terputus sempurna) dan hewan tersebut mati, maka hukum dagingnya adalah bangkai (haram), dan begitu juga apabila proses sembelihan seperti ini (tidak memutus tenggorokan dan kerongkongan secara sempurna) namun hewan tersebut hampir mati kemudian diulangi menggorok tenggorokan dan kerongkongan yang tersisa setelah itu, maka hukum dagingnya adalah bangkai (haram). (Al-Majmu’: 10/123).

Kemudian Para Ulama Mazhab Syafi’I menjelaskan, bahwa hewan sembelihan yang halal dagingnya adalah apabila ketika awal melakukan sembelihan hewan tersebut masih segar-bugar yang mereka istilahkan “hayah mustaqirroh” yaitu dalam keadaan hidup yang tidak terlihat tanda-tanda akan segera mati (lihat: Al-Majmu’: 10/119-126)

Sehingga dengan demikian, Menyembelih hewan sebanyak 2 kali perlu dilihat keadaannya secara rinci:

1. Jika hewan telah disembelih dengan tidak memutus kerongkongan dan tenggorokan secara sempurna, namun hewan tersebut terlihat kesakitan dan mendekati kematiannya, kemudian dilakukan penyembelihan untuk kedua kalinya maka hukum dagingnya haram dimakan

2. Jika hewan telah disembelih dengan tidak memutus kerongkongan dan tenggorokan secara sempurna, namun masih terlihat segar-bugar (tidak ada tanda-tanda akan mati), kemudian dilakukan penyembelihan untuk kedua kalinya, maka hukumnya sah dan dagingnya halal.

Namun jika sembelihan untuk yang kedua kalinya dilakukan segera, tanpa jeda waktu yang cukup lama, maka hal ini diperbolehkan, sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Abu Abdillah al-Malikiy:

فإن عاد عن قرب أكلت سواء رفع اضطرارا أو اختيارا

“JIka melakukan sembelihan untuk kedua kalinya dalam waktu yang dekat (segera), apakah karena terpaksa ataupun sengaja, maka daging hewan tersebut boleh dimakan” (Minahul Jalil: 2/408)

Wallahu A’lam.

Dijawab oleh Ustadz Hafzan Elhadi, Lc., M.Kom (Alumni Lipia, Fakultas Syariah)
Read more https://konsultasisyariah.com/35252-hukum-mengulang-sembelihan-dua-kali-sembelihan-pertama-hewan-tidak-mati.html, akses tgl 12/09/2020.