Top News

 Hampir seluruh masyarakat Indonesia mengenal batagor. Kata ‘batagor’ sebenarnya merupakan singkatan dari “bakso-tahu goreng”. Selain mengetahui kelezatan rasanya, banyak orang meyakini Batagor berasal dari kota Bandung. Namun dari sisi sejarah Batagor, apakah kamu tahu bahwa Batagor tercipta akibat ketidaksengajaan? Berikut ini ceritanya.


Seorang Perantau dari Purwokerto

Sejarah Batagor bermula dari makanan hasil karya seorang perantauan bernama Isan. Dari kota Purwokerto, Isan merantau ke Bandung untuk mencari pekerjaan dan mengadu nasib di sekitar tahun 1970-an atau 1980-an. Ia tinggal di sebuah kontrakan di Gang Situ Saeur, Bandung.

Namun mencari pekerjaan di kota Bandung saat itu tidak mudah. Isan bahkan sempat menganggur selama beberapa bulan karena tidak ada orang yang mau mempekerjakannya. Isan saat itu memang hanya seorang pemuda tanpa keterampilan atau pengetahuan yang cukup.

Sejarah Batagor Berawal dari Usaha Bakso Keliling

Akhirnya, Isan mencoba untuk menjual bakso. Ia berkeliling dari kampung ke kampung. Saat menjual bakso, tak jarang makanan dagangannya masih bersisa. Sebagai informasi, bakso termasuk makanan yang tidak tahan lama. Jadi tidak memungkinkan untuk dijual lagi keesokan harinya.

Berkreasi dengan Sisa Barang Dagangan dan Membagikannya secara Gratis

Tidak mau membuang bakso dagangannya begitu saja, Isan berinisiatif mengolah lagi dagangannya yang tersisa. Ia menggoreng bakso dagangannya, termasuk bakso tahu kukus yang menjadi salah satu variannya. Bakso tahu hasil gorengannya itu kemudian dibagikan secara gratis kepada tetangganya.

Kebiasaan ini berlangsung setiap dagangan Isan ada yang tidak habis. Selama bertahun-tahun, ia membagikan secara gratis bakso tahu kukus yang telah digorengnya. Para tetangga menjadi senang dan semakin mengenal Isan.

Bakso Tahu Goreng Isan Banyak Disukai

Ternyata bakso tahu kukus yang digoreng itu banyak disukai oleh tetangganya. Jika Isan tidak membagikan bakso tahu kukus yang digoreng, tidak sedikit orang yang menanyakannya. Akhirnya, penggemar bakso tahu kukus goreng mulai berniat membeli dari Isan. Mereka tidak lagi mau menerimanya secara gratis.

Bakso tahu kukus goreng buatan Isan itu semakin banyak dikenal. Pelanggannya menyebut menu ini sebagai batagor, singkatan dari “bakso tahu goreng”. Hingga pada akhirnya, Isan memutuskan untuk membuka usaha khusus bakso tahu kukus yang digoreng. Penggemar batagor Isan pun kian bertambah. Semakin banyak yang menyukai makanan hasil kreasi Isan itu.

Selanjutnya Isan mulai kewalahan menangani permintaan pelanggan. Itu karena makanan buatannya harus melalui dua tahap. Bakso tahu harus dikukus dulu, kemudian digoreng.

Solusi yang diperoleh Isan adalah menyingkat proses pematangan. Jika sebelumnya bakso tahu harus dikukus dulu, maka Isan memutuskan untuk langsung menggoreng adonan mentah tahu dan bakso.

Sejarah Batagor Haji Isan

Batagor buatan Isan semakin digemari. Usahanya semakin berkembang. Jika awalnya dia membuka warung kecil di kontrakannya, akhirnya tempat itu tidak lagi mampu menampung ramainya pelanggan.

Isan kemudian memutuskan pindah ke Jl. Bojongloa. Di sana, ia membuka warung batagor di sebuah rumah yang lebih luas. Dari keuntungan berjualan batagor, Isan bahkan bisa menunaikan ibadah haji sebanyak dua kali. Warung batagor yang tadinya bertuliskan “Batagor Isan”, kemudian diubah menjadi “Batagor H.Isan”.

Warung Batagor H.Isan kemudian menjadi kuliner legendaris di Bandung. Haji Isan sendiri telah wafat di tahun 2010, di usia 79 tahun. Usaha batagornya diteruskan oleh keponakannya yang bernama H.Suwarto. Kini, kita bisa menemukan Batagor H.Isan di beberapa cabangnya di Bandung.

Batagor Isan Menginspirasi Pengusaha Kuliner Lain

Batagor Isan semakin banyak menginspirasi pedagang lain. Dalam membuat batagor, kini semua menggunakan teknik satu kali proses pematangan, sehingga batagor bisa lebih cepat dinikmati pelanggan.

Bukan hanya H.Isan, kini kita bisa menemukan penjual batagor lainnya. Mereka menjual batagor klasik seperti yang dibuat H.Isan, dan ada juga yang menjual inovasi dan varian lainnya.

Misalnya ada batagor kuah atau batagor basah. Jika mulanya batagor dinikmati hanya dengan saus kacang, akhirnya ada yang berinovasi memberikan kuah hangat untuk menikmati batagor. Menu ini juga banyak disukai.

Inovasi terbaru batagor adalah Blacktagor. Seperti namanya, batagor ini berwarna hitam karena terbuat dari arang bambu. Arang bambu memang aman dikonsumsi bahkan dipercaya baik untuk kesehatan. Bukan hanya warnanya yang berbeda, cara menikmatinya pun berbeda. Blacktagor dinikmati dengan lelehan keju sebagai pengganti saus kacang. Menu ini memang diperuntukkan bagi para milenial.

Blactagor

Sejarah Batagor Terkini: Digemari Hingga Mancanegara

Bukan hanya digemari di Indonesia, batagor juga dikenal oleh wisatawan mancanegara. Misalnya batagor hitam disebut sangat disukai wisatawan dari Malaysia dan Singapura.

Selain itu, ada juga pemilik usaha Batagor Yoels yang bisa mengekspor barang dagangannya. Batagor buatannya itu dikirim dan bisa dinikmati oleh masyarakat di Jepang, Hongkong, Taiwan, Kanada Australia, dan Qatar.

Sementara itu di Seattle dan New York, Amerika Serikat, sebuah rumah makan Indonesia juga mengaku menu Batagor selalu digemari pelanggannya. Penggemarnya bukan hanya para perantau dari Indonesia, tapi juga warga lokal. Ini juga terjadi di restoran Nusantara di Berlin, Jerman.

Demikian cerita sejarah Batagor. Siapa sangka ternyata Batagor tercipta karena ketidaksengajaan. Berkat kesabaran, kreativitas, serta kebiasaan bersedekah seorang Isan, kini kita bisa mengenal Batagor.


sumber : https://umma.id/post/berawal-dari-hobi-bersedekah-inilah-sejarah-batagor-1039222?lang=id, akses tgl 24/09/2020.


Plastik dan bahan kimia mencemarkan lautan dan mengontaminasi boga bahari yang kita konsumsi. Kini, berkat rantai data yang dapat melacak kondisi ikan sejak ditangkap di laut sampai ke lapak, kita dapat menyantap boga bahari tanpa ditipu.


Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa lautan kita kini sarat dengan sampah plastik dengan pemandangan yang sangat menganggu mata.

Seekor paus dengan 40 kilogram plastik di dalam perutnya, ikan mahi-mahi dengan tutup botol di dalam perutnya, atau kerang yang menyimpan mikroplastik pada tubuhnya yang luput dari sorotan mata telanjang kita.

Mual mungkin adalah reaksi pertama kita saat disuguhkan berita semacam ini. Namun, dengan cepat pikiran kita akan membayangkan polusi plastik sebanyak delapan juta metrik ton yang mencemari lautan kita setiap tahun.

Pemikiran kita mungkin akan tertuju pada fakta bahwa sampah sebanyak itu adalah bukti kesalahan kita terhadap lingkungan. Pemikiran berikutnya adalah sampah jutaan ton tersebut akan langsung meracuni boga bahari yang kita santap secara berkala.

Kesadaran itu mempengaruhi cara kita berbelanja bahan makanan. Tahun lalu, survei terhadap perilaku warga Eropa dalam berbelanja yang dilakoni perusahaan riset McKinsey & Company, mengonfirmasi ulang tren yang diketahui sejak lama: makanan berkualitas lebih penting daripada harganya.

Dengan kata lain, konsumen sangat peduli pada makanan aman dan bersedia merogoh kocek lebih dalam.

Masalahnya, jejaring industri makanan tidak punya informasi mengenai asal makanan yang dapat dilihat konsumen. Pada masa banjir informasi seperti sekarang, sungguh ironis jika kita sama sekali tidak punya informasi mendetil soal makanan yang kita santap.

Namun, perubahan akan segera terjadi. Melalui keberadaan jasa penyedia buku-buku besar elektronik yang menyimpan rantai data pemasok makanan dalam wujud beragam kode, jejaring makanan global akan terungkap.

Konsumen akan dapat melacak "kisah si ikan" berbentuk laporan yang mencakup foto ikan tersebut saat ditangkap, tempat penangkapan, bobot awal, spesies ikan, kapal penangkap, nama-nama kru kapal, nomor elektronik, kondisi perairan ketika ikan ditangkap, dan lebih banyak lagi.

Makanan yang dijual dalam sistem ini akan lebih terperinci daripada sebagian besar produk-produk online yang biasanya kita beli, bahkan seperti ensiklopedi.

Produk-produk ikan pertama yang bakal dijual dengan informasi transparan—dari laut hingga lapak penjual—akan tersedia bagi konsumen di Selandia Baru dan Uni Eropa tahun ini, kata Alfred Cook, manajer program lembaga World Wildlife Foundation, yang bekerja untuk proyek ini.

Terobosan ini muncul setelah proyek perdana pada Juni 2017 yang disokong WWF. Harapannya, peningkatan transparansi dalam rantai pasokan akan mencegah ikan-ikan hasil tangkapan pekerja yang diperbudak, bisa berujung di lapak-lapak penjual.

Guna memastikan tiada yang membeli ikan penuh plastik, informasi geolokasi akan menunjukkan tangkapan jauh dari pesisir padat penduduk. Sertifikat pengawasan dapat diunggah untuk memperlihatkan tangkapan tersebut telah melalui pemeriksaan kualitas.

Sejak era tren Bitcoin pada 2017/2018, teknologi blockchain yang menjadi tulang punggung di balik cryptocurrency telah menarik berbagai kehebohan. Zaman sekarang ada berbagai perusahaan perintis mencari cara agar buku besar berisi data berwujud kode dapat mengubah sektor bisnis dari yang kecil hingga yang besar. Kebanyakan hanya gimmick.

Penggunaan teknologi tersebut pada industri boga bahari terasa berbeda. Menyatukan data rantai pasokan adalah salah satu contoh terbaik bagaimana sebuah masalah sungguhan hanya dapat diatasi menggunakan blockchain. Blockchain juga menjanjikan imbas positif terhadap konsumen dalam waktu dekat.

"Rantai pasokan secara tradisional didasarkan pada hubungan dan kekurangan informasi dari satu pelaku ke pelaku lainnya," kata Brett Haywood, direktur pelaksana Sea Quest Fiji, perusahaan pemrosesan tuna di Selandia Baru yang terlibat dalam program rintisan ini.

"Kami tahu bahwa kami menjual ikan, tapi kami tidak tahu berapa marjin keuntungan yang didapat pelaku berikutnya. Pada satu sisi, bukan urusan kami untuk tahu apakah ikan itu terjual pada bagian hilir rantai pasokan. Namun, di sisi lain, kami terimbas ketidakefisienan para pelaku di bagian hilir," jelasnya.

"Memang waktu yang dihabiskan lama, tapi gangguan terhadap rantai pemasok tradisional cukup signifikan mengingat produsen awal semakin dekat ke konsumen," kata Haywood.

Infrastruktur teknologi untuk proyek ini telah ada selama beberapa tahun dan amat mungkin Anda pernah mengalaminya. Upaya rintisan telah dilakukan di Selandia Baru dan Australia pada 2015 dan 2016. Proyek serupa akan berlangsung segera, termasuk di Miami, AS.

Cara program-program ini bekerja tidak pernah secara rinci dijelaskan. Menggunakan teknologi pengidentifikasi otomatis, seperti label RFID (radio frequency identification) dan barcode 2D, peritel makanan menyediakan data instan mengenai asal makanan kepada konsumen melalui aplikasi ponsel pintar.

Namun, hingga ini data komprehensif mengenai makanan kita sangat kurang. Rantai pasokan modern kita memuat terlalu banyak komponen yang bergerak secara terpisah untuk bisa digabungkan.

"Perlu waktu yang sangat lama untuk memadukan informasi antar organisas karena semua pihak punya salinan bank data sendiri-sendiri," kata Tyler Mulvihill, salah satu pendiri Viant, perusahaan yang membuat perangkat lunak untuk blockchain publik.

Mengapa teknologi ini diperlukan?

"Pelacakan dari hulu ke hilir sangatlah sulit tanpa blockchain karena masing-masing pihak punya sistem data tersendiri. Jika salah satu rantai itu putus, seluruh sistem hancur. Untuk bisa melacak hingga skala kecil adalah tugas yang hampir mustahil," kata Mulvihill.

Akan tetapi menyingkap dapur perusahaan bukanlah keputusan bijak bagi banyak pemimpin perusahaan. Dunia bisnis modern tidak berupaya meningkatkan transparansi, dan mengubah cara-cara konvensional perlu waktu lama.

Bayangkan saja sebuah perusahaan yang terintegrasi secara vertikal. Menebarkan rincian informasi produk perusahaan secara terbuka akan mengungkap dapur perusahaan tersebut kepada para pesaingnya. Sering kali itu bukan keputusan bijak.

"Masalahnya adalah informasi ini dikendalikan oleh apa yang ingin dibagikan oleh para pelaku rantai pasokan dan harus ada revolusi mengubahnya. Saya yakin teknologi blockchain adalah katalis (perubahan), menciptakan hubungan (berdasarkan informasi) antara konsumen dan produsen awal."

Kampanye pemasaran tentu akan mendesak adanya perubahan selagi para konsumen secara sadar mulai mengharapkan transparansi pada makanan mereka.

Bagaimanapun, meski akan ada banyak perusahaan didesak untuk terhubung dengan jasa penyedia buku besar penyimpan data, harus ditekankan bahwa teknologi ini hanya mengatasi "masalah penduduk negara dunia pertama."

"Mengetahui dari mana makanan Anda berasal muncul adalah keistimewaan mereka yang mapan secara ekonomi," kata Robyn Metcalfe, direktur lembaga Food+City di University of Texas at Austin.

"Banyak penduduk kota yang memerlukan makanan sebagai kebutuhan mendasar yang tidak tertarik mengetahui dari mana makanan mereka berasal. Jika kita hanya bicara tentang makanan aman, ada teknologi yang bisa digunakan kaum yang punya waktu dan sumber daya."

Metcalfe memprediksi aplikasi ponsel pintar yang menawarkan informasi makanan akan meningkat dan akan menjadi lebih canggih seiring waktu.

"Berinteraksi dengan makanan Anda akan jadi tren. Koneksi ini tidak berarti manusia akan punya kendali lebih besar; mungkin saja mengetahui lebih banyak tentang makanan membuat Anda nyaman. Dan dalam beberapa kasus, sebagai bentuk hiburan."

Pada saat habitat boga bahari semakin terancam, teknologi seperti ini bisa menjadi suatu kriteria wajib bagi konsumen yang sensitif dengan kualitas.

Namun, banjirnya informasi baru bukanlah jaminan pergeseran evolusi, sebagaimana teknologi berkembang kerap mengajar kita. Dan terobosan semacam itu akan selalu bergantung dari sebaik apa kita terdidik untuk menggunakannya.


Justin Calderon

sumber : https://www.bbc.com/indonesia/vert-fut-48144325, akses tgl 24/09/2020.


Memakan ikan, kerang, cumi, garam, atau meminum air minum kemasan, semua ada bonusnya: mikroplastik.


Kita memakan plastik. Itu kesimpulan dari Christina Thiele dan Malcolm David Hudson, peneliti dari University of Southampton, yang mereka tulis dalam “Anda Memakan Plastik Mikro dalam Cara yang Tak Tarbayangkan”. Umat manusia tak hanya memakan plastik lewat ikan dan kerang, tapi banyak makanan lainnya.

Sebelumnya, pada Maret 2018 lalu, beberapa media internasional seperti BBC menyiarkan penelitian yang dilakukan oleh State University of New York bersama Orb Media. Para peneliti menguji 259 botol air minum dari 11 merek di 8 negara, termasuk Indonesia. Ternyata, 93 persen air mineral botol yang menjadi sampel, terpapar mikroplastik.

Memang, belum ada kajian tentang bahaya mikroplastik ketika ia dikonsumsi manusia. Namun, Sherri Mason, profesor kimia dari State University of New York menyampaikan bahwa mikroplastik dapat berimbas pada kehidupan ekosistem daerah tersebut.

"[Penelitian] ini bukan hendak menuding merek tertentu, tapi menunjukkan bahwa [plastik] ini ada di mana-mana, menjadi bahan yang merangsek ke dalam masyarakat kita, dan meliputi air—semua produk yang kita konsumsi sehari-hari,” ungkap Mason seperti dikutip BBC.

Tak hanya itu, seorang ahli zoologi bernama Lucy Quinn, seperti ditulis BBC, menunjukkan ihwal bahwa studinya terhadap burung fulmar yang mati di pantai. Quinn menemukan bahwa burung fulmar yang mereka temukan mengandung 39 partikel plastik, dengan berat 0,32 gram.

“Saya tercengang ketika saya melihat balon di kerongkongannya, yang mungkin telah menyebabkan kematiannya, bersama bungkus plastik, sikat gigi dan bungkusnya. Saya merasa sangat prihatin dan harus melakukan sesuatu,” kata Quinn.

Plastik-plastik itu sangat mungkin merusak kesehatan burung tersebut, dan memengaruhi kemampuan untuk berkembang biak, bahkan membunuhnya.

Kondisi Cemaran Plastik di Laut

Berdasarkan studi “Plastic Pollution in the World’s Oceans: More than 5 Trillion Plastic Pieces Weighing over 250.000 Tons Afloat at Sea” yang dilakukan Marcus Eriksen, dkk, diperkirakan ada lebih dari 5,25 triliun partikel plastik mengambang di lautan, dengan berat mencapai 268.940 ton.

Penelitian tersebut mereka lakukan di tahun 2007 hingga 2013 dengan 24 perjalanan di beberapa perairan seperti pesisir Australia, Teluk Benggala, dan Laut Mediterania. Plastik yang mereka temukan dikelompokkan menjadi empat: 0,33–1,00 mm (mikroplastik kecil), 1,01–4,75 mm (mikroplastik besar), 4,76–200 mm (mesoplastik), dan 200 mm (makroplastik). Jika ditotal, dua jenis mikroplastik mencapai 92,4 persen dari jumlah partikel plastik secara keseluruhan.

“Wilayah laut bagian utara mengandung 55,6% partikel plastik dan 56,8% massa plastik jika dibandingkan dengan belahan laut selatan, dengan wilayah lautan Pasifik Utara mengandung 37,9% partikel plastik dan 35,8% massa plastik,” tulis Eriksen, dkk dalam penelitian mereka.

Dalam penelitian tersebut, mereka juga menemukan bagian selatan Samudera Hindia memiliki partikel yang lebih besar dan lebih berat dari jumlah gabungan jumlah sampah plastik antara Atlantik Selatan dan Pasifik Selatan.

Jenna R. Jambeck, dkk  pernah melakukan survei tentang kondisi perairan 192 negara pesisir, termasuk Indonesia. Para peneliti memperkirakan terdapat sampah plastik sebesar 4,8 hingga 12,7 juta MT masuk ke laut atau 1,7 hingga 4,6 persen dari total sampah plastik.

“Perkiraan kami tentang limbah plastik yang masuk perairan samudera adalah satu hingga tiga kali lipat lebih besar dari plastik yang mengambang di laut,” tulis Jambeck, dkk.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa Indonesia menduduki peringkat kedua di dunia dalam hal cemaran plastik di lautan, yakni sebesar 0,48 hingga 1,29 juta metrik ton per tahun, di bawah Cina yang memiliki cemaran plastik sebesar 1,32 sampai 3,53 juta metrik per ton.

Kondisi Perairan Indonesia


Saat ini Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2O LIPI) tengah melakukan penelitian terhadap cemaran plastik dan mikroplastik di Indonesia. Salah seorang peneliti, Reza Cordova, menyampaikan berdasarkan hasil penelitian sementara yang ia lakukan selama 6 bulan ini, 30-40 persen sampah yang berada di perairan Indonesia merupakan sampah plastik. Peneltian tersebut mereka lakukan dengan pembagian 6 kawasan di Indonesia, yakni Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Lombok, serta Papua.

“Ini berkaitan erat dengan pola masyarakat membuang sampah. Jadi dalam hal ini, ketika musim hujan, relatif masyarakatnya membuang sampah ke sungai, dibandingkan di musim kemarau. Jadi masyarakat masih menganggap sungai sebagai tempat sampah. Padahal sungai itu ujung-ujungnya ke laut,” tutur Reza.

Dalam penelitian yang dilakukan Reza sejak 2015 hingga 2016 itu, seluruh area laut dan pesisir Indonesia, seluruhnya tercemar oleh mikroplastik, tapi jumlahnya tak lebih banyak bila dibandingkan dengan Cina dan California. Meski begitu, Reza mengungkapkan bahwa sebagian besar ikan kecil di lautan Indonesia telah terkontaminasi oleh mikroplastik.

“Kalau di ikan jadi sedikit masalah, kurang lebih 75 persen ikan kecil seperti ikan teri, ikan kepala timah, itu mengkonsumsi mikroplastik. Untuk ikan ukuran besar, kami belum selesai analisis, karena harus satu per satu,” ujar Reza.

Penelitian tentang cemaran mikroplastik pada ikan juga pernah dilakukan oleh Sofi H Amirulloh, dkk. Dalam studi tersebut, mereka meneliti 179 sampel dari 90 spesies, 70 genera, dan 44 famili, yang diambil dari beberapa pasar ikan di Terate, Karangantu, dan Domas, dan ditemukan hasil bahwa lebih dari 80 persen ikan laut konsumsi di Teluk Banten mengandung partikel mikroplastik.

“Pada level spesies, 73 spesies dari 90 spesies observal terdeteksi mengkonsumsi mikroplastik (81%), top 3 spesies tersebut yaitu Scatophagus argus, Kathala axillaris, dan Epinephelus coioides. Pada level genera, 58 dari 70 genera (82%) terdeteksi mengakumulasi mikroplastik. Sedangkan pada level suku (family), 38 dari 44 family (86%) telah mengkonsumsi mikroplastik,” tulis Amirulloh, dkk.

Peneliti Laboratorium Data Laut dan Pesisir Pusat Riset Kelautan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Widodo S. Pranowo menyampaikan bahwa mikroplastik patut diwaspadai. Widodo mengatakan masyarakat tak hanya patut mewaspadai mikroplastik, tapi juga nanoplastik.

“Yang justru sekarang teman-teman waspadai itu yang nanoplastik. Itu juga wajib kita waspadai, karena secara logika, yang mikro bisa jadi nano, kalau nano itu kemungkinan bisa masuk ikan tinggi, jadi kalau nano kemungkinan bisa masuk ke dalam daging. Beberapa peneliti fokus ke situ,” ujar Widodo.

Berdasarkan data yang dipegang Widodo, cemaran mikroplastik terbanyak berada di perairan yang memiliki kepadatan penduduk daratan tertinggi, seperti di Laut Jawa. Selain itu, faktor yang mempengaruhi jumlah cemaran mikroplastik yang lain adalah jalur pelayaran.

Di Indonesia, terdapat 3 jalur pelayaran internasional yang disebut Arus Lintas Kepulauan Indonesia (ALKI). Dari ketiga wilayah tersebut, Jalur ALKI 1 (Selat Malaka, Natuna, dan Selat Karimata) dan ALKI 2 (Laut Sulawesi, Selat Makassar, Persimpangan Laut Jawa-Laut Bali, Selat Lombok, dan Samudera Hindia) memiliki cemaran mikropastik lebih tinggi jika dibandingkan dengan ALKI 3 (Halmahera, Laut Banda, dan Nusa Tenggara). Masuk akal, sebab pada jalur ALKI 1 dan ALKI 2 terdapat lalu lintas laut yang ramai.

Bahaya Mikroplastik


Hingga saat ini, belum ada studi yang mengungkapkan bahaya mikroplastik bagi manusia. Namun, Reza Cordova dari LIPI mengatakan bahwa kinerja otak dari ikan yang tercemar plastik dapat terganggu.

“Ikan yang mengkonsumsi nanoplastik, akan terganggu perilaku ikannya. Ukuran nanoplastik itu kan sama seperti sel darah, harusnya darah membawa nutrisi, namun ini akhirnya justru masuk ke otak, kinerja otak terganggu, misalnya mengalami gangguan pola berenang, pola makan,” kata Reza.

Selain ikan, mikroplastik juga berdampak pada kesuburan tiram.

Dilansir Sydney Morning Herald, Ketua Asosiasi Profesor Melbourne University Andrew Pask mengatakan bahan kimia yang terkandung dalam plastik dapat menyebabkan penis menyusut, dan bayi laki-laki terlahir dengan catat genital. Penelitian tersebut ia lakukan terhadap hewan yang terpapar bahan kimia.

“Paparan terhadap bahan kimia ini menjadi masalah reproduksi paling penting untuk pria,” tutur Pask seperti dikutip Sydney Morning Herald.

Pask menyampaikan, dalam penelitian itu beberapa plastik dapat melepaskan bahan kimia yang mengganggu endokrin, yang memiliki efek pada infertilitas, dan hipospadia.

Bahan kimia yang memiliki efek pada manusia tersebut diantaranya bisfenol A (BPA), ftalat (yang digunakan dalam plastik), paraben (dalam pasta gigi dan produk kecantikan), serta atrazin (pada herbisida).


Oleh: Widia Primastika

sumber : https://tirto.id/tak-menjaga-laut-manusia-akhirnya-memakan-plastik-cQte?utm_source=Tirtoid&utm_medium=Terkait, akses tgl 24/09/2020.


Sejak abad ke-18, para wisatawan yang terdampar kedinginan di pegunungan salju Alpen telah dibantu supaya tetap hangat dengan cara meminum brandy (minuman keras sejenis wine) yang digantung di leher sekumpulan anjing St. Bernard. Berkat inilah, kabarnya, turis yang berada di pegunungan bersuhu minus derajat ini bisa terhindar dari hipotermia.


Ciri-ciri fisik klasik dari orang yang baru saja menenggak alkohol, seperti pipi yang memerah dan sedikit kemilau keringat yang menetes di dahi, menandakan bahwa alkohol memiliki dampak tertentu pada suhu tubuh. Tapi apakah benar minum minuman beralkohol dapat menghangatkan tubuh?

Dilansir dari Mental Floss, William Haynes, direktur Farmakologi Klinis di University of Iowa, berujar bahwa konsumsi alkohol dapat menggagalkan banyak refleks sehat dari tubuh manusia. “Salah satunya adalah refleks menjaga suhu inti tubuh agar tetap hangat di cuaca dingin,” jelas Haynes. Penyebab di balik sensasi hangat yang bikin nyaman setelah minum minuman keras adalah darah dalam tubuh Anda.

Alkohol adalah vasodilator. Alkohol menyebabkan pembuluh darah membesar, terutama kapiler yang tepat berada di bawah permukaan kulit. Dengan demikian, konsumsi alkohol memindahkan sejumlah besar pasokan darah dari jantung yang terkonsentrasi hanya di ujung-ujung jemari kaki dan tangan.

Perubahan peredaran darah yang terjadi akibat minum miras mengirimkan tumpukan pesan tipuan ke otak yang membuat Anda percaya Anda merasa hangat. Di saat yang sama, volume darah yang dibawa ke ujung-ujung jari ini memblokir pertahanan tubuh alami Anda terhadap suhu dingin sehingga mengakibatkan penurunan suhu inti tubuh. Manusia mempertahankan suhu inti tubuh sekitar 37 derajat Celcius, dan sebagian besar panas ini dihasilkan oleh sistem metabolisme, istilah yang mengacu pada semua proses kimia yang terlibat dalam menjaga Anda tetap hidup.

Seseorang yang menikmati miras saat kedinginan mungkin merasa lebih hangat, berkat pemanasan kulit yang didapat dari pasokan darah ekstra, tapi darah tersebut akan cepat dingin kembali akibat paparan dinginnya udara luar tubuh. Plus, kehangatan yang disebabkan oleh banjir aliran darah menuju kulit juga akan membuat tubuh lebih mudah berkeringat demi melawan sensasi panas tersebut. Sejumlah reaksi ini kemudian dapat menurunkan suhu inti tubuh lebih drastis lagi.

Minum minuman alkohol saat cuaca dingin tidak menghangatkan tubuh, justru berbahaya

Cukup satu gelas minuman beralkohol saja sudah dapat menghasilkan suhu tubuh yang menurun drastis. Penurunan suhu tubuh drastis ini juga seringnya terjadi tanpa disadari si pemilik tubuh karena kulitnya masih merasakan cukup kehangatan, sehingga terus-menerus menenggak alkohol saat cuaca dingin demi menghangatkan tubuh dapat menyebabkan Anda mengalami keracunan alkohol.

Beberapa studi telah menemukan bahwa konsumsi alkohol berlebih, terutama di luar ruangan saat cuaca dingin atau di malam hari menjelang pagi buta, sering berperan besar dalam peningkatan risiko cedera terkait hipotermia yang bisa berakibat fatal.

Ditulis oleh: Ajeng Quamila
sumber : https://hellosehat.com/hidup-sehat/tips-sehat/bahaya-alkohol-tidak-menghangatkan-tubuh/, akses tgl 10/09/2020.

 Air minum kemasan dirintis oleh seorang Belanda. Sukses dipasarkan oleh pengusaha Tionghoa yang terinspirasi orang kena diare.

Penyanyi Raisa Andriana tampil dalam iklan air minum Aqua. Dia mengunggah iklan itu dalam akun twitter-nya pada 1 September 2020. Dalam iklan itu, Raisa menuang air dari galon ke baskom. Warganet menanggapi cuitan itu dengan pertanyaan, siapa yang mengangkat galonnya ya?

Raisa kemudian menjawab rasa ingin tahu warganet. Dia mengunggah video suaminya, Hamish Daud, sedang mengangkat galon. Itulah Raisa. Tapi tulisan ini bukan soal dia. Ini tentang sejarah air minum kemasan di Indonesia dan pengusahanya.

Perintis air minum kemasan di Indonesia bernama Hendrik Freerk Tillema, seorang Belanda kelahiran 1870. Dia memperkenalkan Hygeia, produk air minum kemasannya ke penduduk Hindia Belanda di Semarang pada 1910-an. Sumber airnya dari pegunungan di Jawa Timur.

Pabrik air minum kemasan merek Hygeia di Semarang yang didirikan oleh Hendrik Freerk Tillema. (Tropenmuseum).

Tillema mempromosikan produknya tak tanggung-tanggung. Dia tercatat sebagai orang pertama dalam sejarah Hindia yang menggunakan balon-balon gas untuk mengiklankan air minumnya. "Sialnya, harga air ini terlalu mahal bagi orang pribumi," catat Rudolf Mrazek dalam "Kenecisan Indonesia: Politik Pakaian pada Akhir Masa Kolonial 1893–1942", termuat di Outward Appearances suntingan Henk Schulte Nordholt.

Enam puluh tahun kemudian, Tirto Utomo (bernama Tionghoa Kwa Sien Biauw) meniru jejak Tillema. Dia mengeluarkan produk air minum kemasan bernama Aqua di bawah bendera perusahaannya, PT. Golden Mississippi yang didirikan pada 23 Februari 1973.

Semula Tidak Laku

Cerita itu berawal dari ketidaksengajaan. Ketika masih menjadi pegawai Pertamina pada 1971, dia bertugas menghadiri sebuah rapat negosiasi gas alam cair dengan rombongan Raymond Todd, ketua delegasi sebuah perusahaan asal Amerika Serikat. Tapi rapat batal terlaksana. Tirto justru pergi ke rumah sakit untuk menjenguk istri tamunya.

“Istri tamunya itu menderita diare berat. Usut punya usut, kedapatan bahwa para tamu itu telah melakukan kesalahan besar: minum air dari keran,” tulis Bondan Winarno dalam “Pada Mulanya, Seorang Kawan Diserang Diare”, termuat di Prisma, No. 5, Mei 1987.

Tirto berpikir tentang cara menyediakan air minum yang bersih dan sehat untuk masyarakat. “Untuk lebih meyakinkan tentang idenya, Tirto berbagi cerita pada sahabat dekatnya yang akrab disapa Kang Ibrahim Martalogawa, sewaktu mereka asyik bermain golf bersama,” catat Muhammad Henaldy dalam Perjalanan Penuh Karya Tirto Utomo Pendiri Aqua Menjadi yang Terbaik.

Tirto sudah bisa membayangkan komposisi air minum tersebut. Tanpa aroma, warna, gula, dan pengawet. Benar-benar air bening. Dan untuk kemasannya, dia akan menggunakan botol berbahan kaca. “That’s a good idea!” jawab Kang Ibrahim.

Keinginan Tirto menyediakan air minum bersih dan sehat sejalan dengan kebutuhan masyarakat. Saat itu orang perlahan sadar pentingnya hidup sehat. Apalagi saat itu muncul laporan tentang pencemaran dalam air tanah di kota-kota besar Indonesia.

“Orang mulai mengurangi minum minuman olahan yang mengandung gula, bahan pengawet, dan citarasa buatan. Dan orang tidak lagi sekadar minum air putih, tetapi air putih yang bersih, sehat, dan aman,” tulis Bondan.

Aqua keluar kali pertama pada 1974. Sebelum keluar, produk itu melalui penyinaran ultraviolet dan ozonisasi untuk memastikan bebas dari kontaminasi zat apapun. Sumber airnya berasal dari pegunungan.

Meski gaya hidup sehat sedang jadi tren, orang tetap heran melihat air minum kemasan. “Tak heran bila Tirto pun menghadapi kesulitan memasarkan produknya,” catat Bondan.

Agar produknya laku dan sejalan dengan citra yang ingin ditampilkan, Tirto mewanti-wanti pegawainya untuk menerapkan kebiasaan hidup sehat dan bersih di kantor dan rumahnya masing-masing. Sekecil apapun kebiasaan itu.

Maka karyawan tak boleh buang puntung rokok sembarangan. Biarpun sepuntung. “Tirto pun menjadi berang bila melihat ada puntung rokok atau kotoran lain di lingkungan perusahaannya,” tulis Bondan.

Mulai Pakai Plastik

Sasaran pembeli utama Aqua pada awal perkembangannya adalah orang asing. Tapi mereka juga tak berminat membeli. “Karena mereka masih meragukan kualitas produk Indonesia,” terang Henaldy.

Hingga 1978, Tirto masih kesulitan menjual Aqua berbahan kaca. Pasarnya sangat terbatas. Hanya kalangan atas dan sedikit pekerja asing. Dia lalu mencoba kemasan berbahan plastik. Cara ini terbukti ampuh.

“Botol plastik sungguh merupakan revolusi. Bila dulu dengan botol beling pemasaran kami hanya bersifat lokal, kini dengan botol plastik kami bisa menembus wilayah-wilayah yang tadinya tak terjangkau,” kata Tirto kepada Bondan.

Dari botol-botol plastik kecil, Tirto membuat jenis kemasan lainnya: galon. Kehadiran galon bersamaan dengan dispenser. Keduanya disediakan oleh Aqua. Bedanya, dispensernya disewakan, sedangkan galonnya dijual.

Tapi penggunaan plastik memiliki sejumlah persoalan. Sejak industri plastik berkembang di Indonesia pada 1960-an, perdebatan telah muncul menyangkut penggunaannya.

“Bahwa pada waktu ini manusia sudah mengenal ribuan macam plastik. Masing-masing dengan kebaikan-kebaikan dan kekurangan-kekurangannya untuk membuat ribuan, laksaan, bahkan jutaan macam barang,” tulis Djaja, 19 Oktober 1962.

Bahan plastik mudah ditembus bebauan yang keras. Inilah masalah pertama penggunaan plastik. Bila botol plastik Aqua diletakkan di samping durian, ia akan ketularan baunya. Begitu juga oleh bau tanah, minyak, dan deterjen.

“Dari segi kualitas, kami sendiri sebenarnya lebih suka menjual Aqua dalam beling,” kata Tirto kepada Bondan. Tapi kalau ini diberlakukan, penjualan Aqua akan terbatas. Ini berarti juga hanya segelintir masyarakat dapat menikmati air minum bersih dan sehat.

Menggunakan botol plastik menjembarkan jangkauan penjualan Aqua dan meluaskan kesempatan masyarakat untuk menikmati Aqua. Orang mulai menggandrungi air minum kemasan. Bahkan kebiasaan baru ini jadi gengsi dan simbol status. Penggunaan plastik mensyaratkan tanggung jawab perisoal pengolahan limbahnya. Tapi itu tak mengurangi minat pengusaha lain untuk bermain dalam pasar air minum kemasan.


Oleh Hendaru Tri Hanggoro

sumber : https://historia.id/ekonomi/articles/sejarah-air-minum-kemasan-vJjgM, akses tgl 23/09/2020.